Licid Dream •• Part 16 ••
Melupakan semua masalah yang menimpa, aku dan Rea mencoba untuk mencoba kembali memasuki lucid dream, hasilnya tidak terlalu buruk. Sebulan berlatih, kami sudah bisa memasuki lucie dream, hanya saja tidak terlalu memuaskan.

“Akhirnya, Re. Aku bisa masuk lucid dream,” ucap Rea senang.

Aku hanya tersenyum, menggelengkan kepala mendengar suara Rea yang begitu senang.

“Nanti malam aku nginep di rumahmu, ya. Ayah ada pekerjaan di luar kota. Nanti kita coba masuk lucid dream, sebelum itu kita tonton video lain tentang hal-hal yang membuat kita lucid dream.”

Aku dan Rea berjalan beriringan menuju kantin sambil bercanda ria.

Sesampainya di kantin, aku menunggu Rea memesan makanan, membuka ponsel. 

Jari jemari bergerak lincah menggilir beranda instagram, tertawa kecil saat melihat cerita lucu.

“Ngapain ketawa-ketawa sendiri?” tanya Rea begitu duduk di depanku, meletakkan nampan berisi bakso dan jeruk hangat.

“Enggak apa-apa, ini ada postingan lucu di instagram,” jawabku. Memasukkan kembali ponsel ke dalam saku

Rea menganggukkan kepala mengerti, menyantap bakso miliknya. Kami mengobrol, membicarakan tugas sekolah yang menumpuk.

“Eh, katanya nanti mahasiswa praktik ngajar di sini,” kata Rea dengan masih mengunyah bakso.

Aku mengangguk mengerti. Memang setiap setahun sekali akan ada mahasiswa dan mahasiswi dari universitas di kota ini yang akan praktik mengajar di sini.

Bel masuk membuat kami segera beranjak dari kantin untuk kembali ke kelas, mengikuti mata pelajaran sejarah. Mata pelajaran ini harus membuatku untuk menahan kantuk, terkadang aku harus izin ke toilet agar tidak mengantuk.

Ternyata, mata pelajaran kali ini, guruku didampingi mahasiswa praktik. Sepertinya untuk beberapa bulan selanjutnya, mata pelajaran ini akan diajar oleh Kakak Mahasiswa.

Selesai berkenalan, Pak Liam—guru sejarah—keluar dari ruangan, mempersilakan Kak Dewi—mahasiswa praktik—untuk mengambil kelas.

Selama belajar, Kak Dewi membuat kelas menjadi lebih menyenangkan. Beberapa kali Kak Dewi menyelipkan game yang berhubungan dengan mata pelajaran, membuat kelas lebih ramai. Kelasku antusias mengikuti game, terkadang memberikan jawaban yang membuat kami tertawa karena salah.