Lucid Dream •• Part 06 ••
Aku termenung di ruang perpustakaan keluarga, memegang buku tanpa ada niatan membacanya. Ada yang aneh, sudah seminggu sejak aku bermimpi mendengar suara Mama. Anehnya setelah hari itu aku tidak bermimpi apa pun lagi.

Pikiranku berkelana tentang semua keanehan itu, sebenarnya apa yang terjadi. Rasanya kurang tepat jika semua ini berhubungan dengan hal mistis seperti yang Rea katakan waktu itu.

Helaan napas panjang keluar dari mulut, kugelengkan kepala agar tak memikirkan tentang semua ini.

Mimpi hanya bunga tidur, jadi semuanya tidak hubungannya dengan hal-hal mistis atau apa pun. Selama ini juga tidak ada hal mistis yang aku alami.

Suara Bik Sari membuat lamunanku buyar, meletakkan buku yang ada di tangan kembali ke rak.

“Iya, Bik. Luci ke meja makan sebentar lagi,” ucapku menjawab perkataan Bik Sari. 

Perlahan kakiku menuruni tangga satu per satu, memandang setiap potret yang terpajang di dinding rumah. Banyak foto terpajang di sana, setiap momen pasti selalu Papa abadikan, Papa sangat menyukai fotografi.

“Pagi, Bik.” Bik Sari tersenyum membalas sapaanku.

“Pagi juga, Non.” Bik Sari meletakkan makanan yang di masaknya pagi ini.

“Bibi, jangan pergi lagi. Temani Luci sarapan,” perintahku kepada Bik Sari.

Bik Sari hanya tersenyum tipis mendengar nada ucapanku yang dibuat-buat, marah. Bik Sari duduk di sampingku, mengambil makanan seperti diriku. 

Aku tersenyum lega karena Bik Sari sudah tidak sungkan saat bersamaku. Sungguh aku tidak menyukai jika Bik Sari terlalu kaku kepadaku.

Selesai sarapan aku bergegas untuk pergi ke rumah Rea, mengerjakan tugas kelompok sejarah.

Mang Dadang sudah bersiap, mobil terparkir di halaman depan.

“Mang, ke rumah Rea, ya,” ucapku begitu memasuki mobil, duduk di jok belakang.

“Iya, Non.” Mang Dadang menjawab dengan senyuman, melajukan mobil dengan perlahan.

Jalanan hari ini tidak terlalu lenggang, banyak kendaraan berlalu lalang.

Aku memandang jalanan di samping kiriku. Sinar matahari sudah terang, langit cerah berwarna biru, sedikit awan yang menghiasi. Deringan ponsel membuatku mengalihkan perhatian. Di sana, ada pesan dari Rea jika dia sudah mengumpulkan bahan yang sudah menjadi bagiannya untuk tugas kelompok, aku letakkan kembali ponsel setelah membacanya.




.
.
.
.

Salam. ?
Ofah ♥️


.
.
Mohon krisar, ya, teman-teman. ♥️