Lucud Dream •• Part 15 ••
Seminggu sejak kejadian di mana Om Alfa datang ke rumah, aku menjadi lebih pendiam. Rea bahkan tidak terlalu cerewet seperti biasanya, begitu dia melihatku melamun, dia akan berhenti bercerita dan mencoba membujukku untuk bercerita.

“Lu, kamu kenapa?” tanya Rea menghela napas.

Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa aku tidak apa-apa.

Tiba-tiba Rea berdiri dari duduknya, tangan di samping tubuhnya mengepal dengan mata terpejam.

“Lu, kamu anggap aku sahabat enggak sih? Kalau ada apa-apa cerita,” bentak Rea membuka mata.

Aku terkejut mendengar suara Rea, memejamkan mata untuk mengontrol emosi. Kenapa Rea marah, seharusnya dia tahu bahwa aku tidak ingin diganggu. Bukan berarti dia bukan sahabat terbaikku.

“Kamu apa-apaan sih, Re. Kenapa jadi marah?” ucapku tidak terima.

“Kamu yang apa-apaan. Selalu diam saat ditanya, enggak dengerin aku cerita. Dan kamu egois enggak ingin bercerita tentang masalah kamu.” Rea semakin meninggikan suaranya. “Terserah kamu. Aku enggak peduli,” ucap Rea berjalan meninggalkanku di taman sendirian.

Isak tangis kembali keluar, aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Aku sadar aku egois, tidak menceritakan semua masalah kepada Rea, hanya memendam sendiri dengan diam.

Untung saja di taman tidak banyak orang, hanya beberapa. Menatap aku dengan tatapan heran.

Kutumpahkan semua tangisku, hanya saja tidak dengan suara. Bisa-bisa nanti aku dikira hantu taman.
Sebuah es krim disodorkan kepadaku. Aku mendongakkan wajah untuk melihat siapa yang membelinya. Rea, dengan wajah dipalingkannya menyodorkan es krim cokelat.

“Ambil. Tanganku pegal,” ucap Rea sewot.

Dengan cepat aku mengambil es krim di tangan Rea. 

“Dibuka, jangan cuma diliatin.” Aku tersenyum tipis, menghapus air mata dengan punggung tangan.

Perlahan aku memakan es krim, menghela napas. Di antara kami tidak pernah ada rahasia apa pun, sebab itu Rea marah karena aku tidak menceritakan hal yang terjadi padaku.

“Re,” panggilku pelan.

“Hmm.” Rea hanya menjawab dengan gumaman.

“Gini—“ Aku menarik napas perlahan.

“Kalau enggak sanggup cerita, jangan cerita. Aku minta maaf,” ucap Rea ketus.

Bibirku tidak mampu untuk menahan senyum. Walaupun Rea berkata ketus, aku tahu dia peduli terhadapku.

“Ngapain senyum-senyum,” kata Rea tidak terima.

Mendengar aku tertawa, Rea memutar bola mata malas.

Puas dengan tertawa, aku menatap ke arah Rea. Menceritakan tentang kejadian kemarin. Rea sempat menunjukkan wajah kaget, perlahan mimik wajahnya berubah, sorot matanya melembut.


.
.
.

Salam ?
Ofah ?


---> Mohon krisar, ya, teman-teman. ?