Lucid Dream •• Part 18 ••
“Lu, aku mau ke kamar mandi sebentar. Tungguin tidurnya,” ucap Rea mengancam.

Aku memutar bola mata malas mendengar nada ancaman dari suara Rea, merebahkan tubuh di tempat tidur, memandangi langit-langit kamar. 

Suara gaduh dari kamar mandi membuatku kaget, turun dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi. 

“Rea, kamu enggak papa,” tanyaku khawatir, mengetuk pintu kamar mandi.

“Enggak papa,” teriak Rea dari dalam, membuatku menghembuskan napas lega.

Tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Rea dengan senyum polosnya.

“Maaf, tadi terpeleset. Tapi enggak papa kok,” kata Rea dengan wajah yang dibuat tegar, tapi terlihat ada nada meringis karena kesakitan.

“Hmm.” Aku hanya bergumam, berjalan menuju laci untuk mengambil kotak P3K.

Rea duduk manis di atas tempat tidur, menatap kotak P3K di tanganku.

“Mana yang sakit?” tanyaku membuka kotak P3K.

“Lutut,” katanya pelan.

Aku memandang bingung ke arah Rea, bagaimana bisa lututnya yang sakit. Bukankah jika terpeleset itu pinggang atau pantatnya yang sakit.

“Soalnya tadi terpeleset jatuhnya ke depan, lututnya terantuk tembok dan tangan menyenggol barang di kamar mandi, terus jatuh,” jelas Rea seakan rahu maksud mimik wajahku.

Aku hanya menghela napas pelan, menjitak kening Rea sedikit keras.

“Ya ampun, Lu. Jangan dijitak juga,” ucap Rea memberengut kesal.

“Lagian ceroboh banget jadi orang,” ejekku.

Selesai mengobati lutut Rea yang memar, kami bersiap untuk pergi tidur.

“Eh kok main ponsel,” protesku melihat Rea asyik bermain ponsel.

“Enggak bisa tidur kalau enggak main ponsel,” jelas Rea tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.

“Ingat lima hal yang membuat sulit masuk lucid dream?” tanyaku memandang Rea memperingati.

Rea terlihat berpikir, terdiam sejenak. Tersenyum tipis, menggaruk tengkuk yang aku yakini tidak gatal.

“Oh iya. Enggak boleh minum kopi, enggak boleh begadang, sebelum tidur enggak boleh bermain alat elektronik, malas mencatat mimpi, dan langsung mencoba metode sulit untuk masuk lucid dream.”

Aku mengangguk pelan, menarik selimut bersiap untuk tidur. Melihatku sudah bersiap tidur, Rea mengikuti menarik selimut bersiap tidur.