Lucid Dream •• Part 04 ••
Mulutku berulang kali memanggil Mama, berteriak sekuat tenaga agar ada suara yang keluar dari mulut. Kamar yang semula kutempati berubah menjadi ruangan gelap dan pengap. Rasa sesak napas mulai melanda.




Aku berusaha sekuat tenaga untuk terbangun, menggerakkan semua sendi tubuh. Akhirnya aku berhasil menggerakkan tubuh, terduduk di atas kasur dengan napas yang tersengal-sengal.



Tanganku bergerak cepat meraih gelas di atas nakas, meneguknya tidak sabar, menetralkan napas yang tidak beraturan. Rasa haus bertambah setelah minum, terpaksa aku harus turun ke dapur untuk mengambil air minum. 



Rea masih tertidur nyenyak di sampingku, lebih baik tidak membangunkannya. Bergerak perlahan, menurunkan kedua kaki menapak lantai. Berjalan perlahan keluar kamar.



Keadaan rumah remang-remang, tidak gelap gulita karena permintaanku yang tidak suka jika rumah gelap. Sesampainya di dapur, menarik kursi meja makan, duduk di sana. Aku menuangkan air minum, menenggaknya sampai tandas.



Setelah puas menghilangkan dahaga, aku kembali ke kamar. Menaiki tangga satu per satu dengan santai sambil memikirkan mimpi yang sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya. Biasanya aku terbangun di ruangan yang gelap, tapi tadi aku berada di kamar, dan tiba-tiba berubah menjadi ruangan yang gelap.



Membaringkan tubuh terlentang, memandang langit-langit kamar. Bisa dipastikan aku tidak bisa tidur kembali, padahal jam dinding baru menunjukkan pukul dua pagi.



Rasa yang dialami pada mimpi kali ini juga berbeda. Aku pasti akan ketakutan dan panik saat terbangun, tapi kali ini menjadi lebih genang. Sebaiknya aku membangunkan Rea.



“Rea,” panggilku sambil menggoyang pelan tubuhnya. 



Setelah beberapa kali tubuhnya digoyang, Rea perlahan membuka matanya, berusaha mengambil duduk, mengucek matanya yang mungkin terasa lengket.



“Kenapa, Lu?” tanya Rea menutup mulutnya karena menguap.



Rea memandang ke arahku dengan wajah yang bantalnya, berulang kali menguap karena mengantuk pastinya.



“Maaf membangunkanmu,” ucapku tersenyum.

“Enggak apa-apa,” jawab Rea menguap kembali.



Sepertinya Rea masih benar-benar mengantuk.



“Re, aku bermimpi kembali. Tapi, kali ini sedikit berbeda.” Ucapanku membuat Rea menghentikan kegiatannya mengucek mata, memandang ke arahku heran, meminta penjelasan. “Tadi aku dengar suara Mama waktu di mimpi.”




Mendengar ceritaku, mata Rea berhasil terbuka sempurna. Dia bergerak mengambil ponsel di samping bantal tidurnya.



“Tadi malam aku ingin memberitahumu sesuatu, tali sayang kamu sudah tertidur,” ucap Rea menyerahkan ponselnya kepadaku.



Dengan saksama mataku satu per satu kata yang ada di layar ponsel milik Rea, menaikkan alis bingung karena di sana berisi penjelasan tentang mengendalikan sebuah mimpi.



“Terus, kaitannya dengan mimpiku apa, Re?” tanya heran.





“Jadi—“ Rea menggantungkan ucapannya, membuatku bertambah heran. 





.
.
.
.



Salam ?
Ofah ?


.
.
.
--> Mohon krisar, ya, teman-teman. ♥️?