Lucid Dream •• Part 08 ••
Lembaran kertas berserakan di lantai kamar Rea. Rea masih mengetik tugas bagian terakhir di komputer, sedangkan aku mengecek kembali tugas yang sudah tercetak. 


Suara printer membuatku tersenyum lega, Rea berseru senang merentangkan kedua tangannya, sepertinya dia merasa pegal. 


“Nih,” ucap Rea duduk di depanku.


Aku terima kertas dari tangan Rea, mengeceknya kembali.


“Udah lengkap,” kataku tersenyum senang.


Rea menghela napas lega mendengar perkataanku. “Tugas kelompoknya kenapa cuma berdua. Mana banyak banget,” gerutu Rea.


“Mungkin supaya setiap anak mengerjakan tugasnya dengan baik, Re. Kalau banyak orang ‘kan terkadang ada yang tidak mengerjakan atau lebih dimudahkan anggota yang lain,” ucapku sambil membereskan setiap lembar tugas.


Rea mengangguk, sepertinya paham atau mungkin sedang berpikir.


Beberapa menit kami membereskan kekacauan. Membuang kertas yang tidak diperlukan.


“Lu, dari kemarin aku menonton salah satu konten youtube. Kamu tahu enggak—“ 


“Enggak,” jawabku memotong perkataan Rea.


Rea mendengus sebal. “Dengerin dulu. Isinya keren tahu. Isinya tentang mengendalikan mimpi, dan caranya ternyata mudah. Jadi, saat kita bermimpi, kita akan bisa mengendalikannya untuk bermimpi seperti apa sesuai keinginan kita.”


Aku mendengar dengan saksama penjelasan Rea yang terlihat begitu antusias. Rea selalu menyukai konten-konten unik di youtube, apalagi tentang konten horor ataupun mistis.


Rea mengajakku untuk menontonnya, duduk manis di depan layar komputer. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik menonton youtube, tetapi mendengar apa yang diceritakan Rea, sepertinya menarik.


Beberapa video milik seorang youtuber, Rea putar satu per satu. Penjelasan tentang cara mengendalikan mimpi, dan ternyata hal seperti itu ada manfaatnya untuk kita.


Saat menonton, aku merasa ada sesuatu yang tidak asing dengan beberapa penjelasan di video.


Sleep paralysis,” ucapku pelan.


Sepertinya aku sering mengalaminya. Keadaan di mana aku terbangun, tetapi tidak dapat menggerakkan anggota tubuh. Ternyata itu terjadi karena kita terbangun di fase saat otot-otot tubuh beristirahat total.


“Lu, kita coba ini, yuk.” Aku memandang ke arah Rea, dia begitu antusias ingin mencoba mengendalikan mimpi.


“Mau nyoba ini, Lucid Dream?” tanyaku.


Rea menjawab dengan anggukan.


“Sepertinya menyenangkan, Re. Ada manfaatnya juga, nih. Bisa menyembuhkan fobia, mendapat kemampuan baru, menyelesaikan masalah dengan kita mencoba memecahkannya saat kita bermimpi, jadi kreatif sama lebih percaya.” Aku mengangkat bahu, bingung.


Memang menarik, tetapi ada risikonya.


“Ada risikonya loh, Re,” ucapku mencoba mengalihkan keinginan Rea.


“Tenang. Nih, aku udah download video tentang cara menghilangkan risikonya. Ada beberapa tahapannya.”


Rea menunjukkan beberapa video yang dia bilang tadi. Aku fokus mendengar dengan teliti isi video.


.
.
.
.
.
.

Salam ?
Ofah ♥️

... Mohon krisar, ya, teman-teman. ?