Lucid Dream •• Part 14 ••
“Luci. Dengarkan, Om. Om—“ 

“Enggak,” teriakku memotong ucapan Om Alfa.

Kepalaku menggeleng, tangan menutup telinga tidak ingin mendengar apa pun dari mulut Om Alfa.

“Gara-gara Om, Mama dan Papa ... Om harus pergi dari sini,” perintahku mutlak.

Om Alfa terdiam memandang ke arahku, menghela napas pelan, tersenyum tipis dengan sorot mata yang tak terbaca.

“Maafkan, Om. Percayalah semua ini bukan seperti yang ada di pikiranmu.” Om Alfa berkata dengan pelan, berjalan meninggalkan halaman rumahku.

Air mataku luruh perlahan di pipi, isak keluar dari bibir. 

Bik Sari perlahan mendekat ke arahku, memeluk dengan hangat. Aku balas memeluk Bik Sari, meraung menumpahkan tangis.

“Om Alfa jahat, Bik.”

Bik Sari menepuk pundakku pelan. “Udah, Non. Nanti keburu makanan di dalam habis kalau Non nangis terus,” ucap Bik Sari melawak.

“Bibi bukannya bilang Luci jangan nangis. Malahan merhatiin makanan di rumah,” ucapku memberengut kesal.

“Udah, Non. Hayuk, keburu lebih dingin makanannya.”

Aku mengangguk mendengar ucapan Bik Sari, berjalan cepat menuju meja makan, perutku benar-benar lapar. Padahal tadi saat ada Om Alfa rasanya kenyang.

Selesai makan, aku istirahat di kamar. Rasanya semua adegan itu berputar tanpa henti, membuat dada semakin sesak. Sungguh, ini sangat menyakitkan.

Leleh air mata mulai turun dari mata, isak tangis pelan keluar dari bibir. Kutenggelamkan kepala di antara kedua lutut, terduduk di atas kasur.

“Ya Allah, kenapa semua ini terjadi?” 

Batin terus menjerit, melayangkan protes dengan semua yang terjadi dengan kehidupanku. Orang yang begitu dipercayai, dia yang melukaiku begitu dalam.

“Mama dan Papa apa kabar? Luci kangen. Mama dan Papa ada di mana? Sungguh, aku merindukan mereka.

Dia, Om Alfa. Orang yang selalu memberiku semangat, menjaga dengan baik. Dia yang memberi rasa sakit sedalam ini.

Kenangan bersama Om Alfa terus berputar tanpa diminta. Saat dia mengantar jemput ke sekolah, menemaniku pergi ke mana pun saat Mama dan Papa tidak di rumah.

“Om Alfa, Luci rindu dengan semua yang dulu,”




.
.
.
Salam ?
Ofah ♥️?



.
Mohon krisar, ya, teman-teman  ♥️?
Bigluv♥️