Lucid Dream •• Part 21 ••
Rea masih menahan isak, matanya terus mengeluarkan air mata, sebentar lagi dia akan dijemput ayahnya.

Flashback

“Luci. Bunda masuk rumah sakit, Bunda kemarin sore kecelakaan. Dan Ayah baru kasih tahu tadi, itu jahat banget. Kalau Ayah enggak tahu, pasti Bunda enggak bakal bilang kalau di rumah sakit.” 

Rea sesenggukan, air matanya tidak berhenti mengalir. Aku memeluk Rea erat, menenangkannya. Rea memang terlihat tidak ingin berdekatan dengan bundanya, tidak peduli dan terkesan cuek setelah orang tuanya berpisah. Tapi lihat sekarang, dia menangis kencang mendengar kabar bundanya.

“Jangan menangis, Re. Semoga Tante baik-baik saja, kita berdoa untuk bundamu. Tenang, ya,” ucapku menenangkan. 

“Bunda kata Ayah memang baik-baik saja, tetapi pasti Ayah bicara seperti agar aku tidak khawatir. Bagaimana kalau Bunda patah tulang atau—“ Rea kembali menangis kencang.

Sebenarnya aku ingin mengantar Rea sekarang, hanya saja takut mengganggu istirahat Mang Dadang. Ayahnya akan menjemputnya setelah subuh nanti, karena sang Ayah masih di luar kota.

Flashback end

Aku terus menghela napas karena Rea tidak berhenti menangis, beranjak dari tempat tidur untuk turun menuju meja makan.

“Bik, makanannya sudah siap?” tanyaku begitu sampai di samping Bik Sari.

“Sudah, Non. Ini Bibi siapkan supaya bisa dimakan di atas, kasihan Non Rea kalau tidak ditemani makannya.” Aku tersenyum mendengar perkataan Bik Sari.

“Terima kasih, Bik. Luci ke atas dulu.”

Kaki bergerak menaiki tangga menuju kamar, membuka pintu menggunakan kaki secara perlahan, kedua tanganku penuh dengan nampan.

“Re, makan dulu, ya. Nanti kalau kamu makan di rumah sakit pasti enggak suka,” kataku meletakkan nampan di depan Rea.

Masih dengan sesenggukan, Rea mengambil nampan berisi makanan, memakannya perlahan.

Aku tersenyum tipis melihat Rea mendengarkan ucapanku. Rea bukan orang yang keras kepala, dia tidak akan bisa menjadi orang yang cuek, pasti ada saja yang membuat dia kembali menjadi perhatian kepada orang yang disayangnya. Semoga saja setelah ini, Rea mau untuk tinggal bersama bundanya. Pasti Tante Dewi sangat merindukan Rea.