Lucid Dream •• Part 07 ••
Mobil yang dikendarai Mang Dadang memasuki pekarangan rumah dengan pagar tinggi, memarkirkannya di halaman depan rumah yang luas.


Aku turun dari mobil, meminta Mang Dadang kembali ke rumah, karena sepertinya aku akan lama di rumah Rea.


“Mamang, pulang dulu aja. Luci nanti bisa sampai sore,” ucapku dari luar kaca kemudi yang dibuka.


“Iya, Non. Nanti kalau sudah hubungi Mamang.” Aku mengangguk, mengiyakan jawaban Mang Dadang.


Pelan-pelan mobil yang dibawa Mang Dadang mundur perlahan, berbelok keluar dari halaman rumah.


“Pagi, Pak.” Aku menjaga satpam rumah Rea.


“Pagi, Non.” Terlihat Pak Satpam berlari sambil menjawabku, sepertinya hendak menutup gerbang.


Aku berjalan melewati taman kecil rumah Rea untuk sampai di pintu depan. Di sana Om Irwan duduk di kursi taman depan.

“Assalamu’alaikum. Pagi, Om.” Mendengar suaraku, Om Irwan menurunkan korannya, dan tersenyum padaku.


“Wa’ alaikumsalam. Pagi. Tumben pagi sekali kamu ke sini,” tanya Om Irwan saat aku menyalami tangannya.


“Mau mengerjakan tugas, Om,” jawabku tersenyum simpul.


“Oh, begitu. Rea ada di kamar, langsung ke kamar saja, ya.” Aku menganggukkan menjawab perintah Om Irwan.


“Luci ke dalam, ya, Om,” pamitku kepada Om Irwan.


Om Irwan tersenyum tipis, kembali melanjutkan kegiatan membaca korannya yang terpotong karena kedatanganku.


Beberapa kali aku menyapa pekerja di rumah Rea, mereka balas menyapa ramah.


Banyak sekali pekerja yang ada di sini, apalagi rumah sebesar ini. Rumah Rea begitu luas dan modern. Om Irwan adalah seorang pengusaha, wajar saja jika Om Irwan membangun rumah semegah ini.


Setiap kali datang ke rumah Rea, rasanya aku berolahraga naik turun tangga karena tangga di sini terlalu panjang, tidak seperti rumahku.


Aku ketuk pintu kamar Rea begitu sampai di depannya. 


“Masuk,” ucap Rea dari dalam.


Aku melangkah maju, membuka pintu perlahan. Rea memalingkan wajahnya dari komputer di depannya.


“Oh, kamu, Lu.” Aku berjalan menuju kursi di samping Rea. “Kan udah dibilang langsung masuk aja,” ucap Rea kembali fokus dengan komputer di depannya.


“Kenapa sih? Lagian kamu juga gitu kalau ke kamarku.” Rea menyengir memamerkan deretan giginya.


Ketukan pintu kembali terdengar, Rea memerintahkan untuk masuk. Ternyata salah satu pekerja yang mengantar minuman.


“Taruh meja sana aja, Bi. Sekalian Rea minta tolong ambilkan es krim yang kemarin Ayah beli, ya, Bi,” ucap Rea menunjuk meja lain di kamar luasnya.


“Iya, Non,” jawab pekerja rumah Rea.


“Terima kasih, Bi.” Dijawab anggukan olehnya. 


Setelah itu pekerja rumah Rea pamit undur diri untuk mengambil pesanan Rea.


Rea mematikan komputernya, mengajakku duduk di lantai berkarpet tebal yang hangat di sana. Masing-masing dari kita mengeluarkan buku untuk mengerjakan tugas. Mencatat semua poin penting dari bahan materi yang kita cari.



.
.
.

Salam. ♥️
Ofah ?

... Mohon krisar, ya, teman-teman. ?