Lucid Dream •• Part 29 ••
Ujian kenaikan kelas sudah berlalu seminggu lalu. Beberapa kali aku dan Rea mencoba menghibur diri dengan menjelajah di dunia mimpi, lucid dream.

Om Alfa sudah menyelesaikan semua surat kepindahanku, hari ini adalah keberangkatanku ke Solo setelah tadi mengambil hasil ujian. Rea hanya terdiam melihatku merapikan kamar sebelum berangkat. Rumah ini tidak dijual, Mang Dadang dan Bik Sari yang akan membantu menjaganya.

“Lu, kenapa enggak tinggal sama aku aja. Kenapa harus pindah,” ucap Rea sewot.

Aku tersenyum tipis, agak berat sebenarnya meninggalkan semua yang ada di sini.

“Kasihan kalau Om Alfa bolak-balik mengecekku di sini. Aku juga enggak mau bikin kamu dan Om Irwan kerepotan,” jelasku.

Rea mengerucutkan bibirnya, sebal. Hanya menatapku sebal. Dia bangkit dari tempat tidur, menghampiri tempatku.

“Lu. Balik kanan.” 

Aku menaikkan alis bingung mendengar perkataan Rea, walaupun begitu aku tetap menurutinya.

Sensasi dingin menyentuh kulit leher, aku menunduk melihat sebuah kalung berliontin bunga dipasang Rea.

“Itu kembar denganku, hadiah dari Ayah. Oleh-oleh dari Singapura,” kata Rea tahu arti wajah heranku.

“Makasih, Re.” Aku berhambur memeluk Rea erat, terasa tidak rela meninggalkan sahabat terbaikku.

“Di Solo nanti jangan lupa ke sini. Jangan lupa sama aku,” ucap Rea.

“Tidak akan,” kataku mantap.

Pelukan kami terurai, saling melempar senyum. Tertawa, entah apa sebabnya.

“Kamu sudah memberitahu Kak Sam.? Aku mengangguk menjawab pertanyaan Rea.

Tadi malam, aku mengirim email milik Kak Sam yang Rea beritahu waktu itu. Menjelaskan semuanya, mengirim video yang Denia pesankan. Walaupun aku tidak tahu Kak Sam akan membukanya atau tidak, aku tidak bisa memprediksi. Terlalu takut jika harus bertemu secara langsung.

Setelah semua barang masuk ke dalam bagasi mobil milik Om Alfa, aku berpamitan kepada Bik Sari dan Mang Dadang. Rea dan Om Irwan akan ikut serta mengantar sampai Solo.

“Sering-sering main ke sini, ya, Non.” Aku mengangguk mendengar ucapan Bik Sari.

“Pasti, Bik.” Aku tersenyum tipis.

Aku dan Rea bergegas masuk ke dalam mobil Om Alfa, di dalam mobil Om Alfa dan Om Irwan sudah duduk manis di depan. Kembali nanti ke Semarang, Rea dan Om Irwan menggunakan kereta. Mereka akan berlibur bersama juga di Bandung, tanpa menggunakan kendaraan pribadi. Pasti Rea sangat senang karena bisa berlibur bersama Om Irwan dengan bebas.

Om Irwan akan mengabariku nantinya jika ada kabar tentang kecelakaan Mama dan Papa, walaupun mungkin nanti akan mendapat kabar buruk. Aku harus bisa menerima semua takdir, berusaha mengikhlaskan. 










.
.
.

Tidak terasa sudah hari terakhir Sarkat di KMO ?
Cerita berkahir di sini, ya, teman-teman. ??
Terima kasih yang sudah berkenan membaca cerita milik Ofah. ♥️?

Have a nice day, guys.??

Salam dari Ofah.
Jangan lupa tersenyum hari ini. ???