•• Prolog ••
Berulang kali menghembuskan napas perlahan, mencoba menormalkan detak jantung. Peluh keringat di dahi sungguh mengganggu, dengan kasar aku menghapusnya. Tetapi tetap saja keringat itu tidak hilang. Daripada berusaha menghapus lagi, lebih baik mengambil air putih di nakas dan meminumnya agar lebih tenang.



Lagi-lagi mimpi tidak menyenangkan, terjebak di ruangan yang gelap dan pengap. Itu sungguh membuat jantung dan napasku tidak beraturan merasakan kesunyian di sana. Semuanya terasa begitu nyata. Setiap kali merasa sesak napas, aku pasti akan terbangun.



Tanganku bergerak mengambil ponsel yang tergeletak di samping bantal, menekan layar tanpa tombol benda berbentuk pipih, membuka riwayat panggilan, menekan ikon memanggil pada nomor teratas di sana.



Bunyi nada sambung membuatku sedikit cemas, takut dia tidak akan mengangkat panggilan. Benar saja, tidak ada jawaban dari dia. Berusaha menghilangkan ketakutan, gigiku menggigit kuat kuku tangan. Jari-jari bergerak cepat menekan kembali ikon panggilan. Berharap kali ini dia mengangkat telepon. Helaan napas lega keluar dari mulut, irama jantung menjadi lebih tenang. Sungguh ini melegakan.



“Halo,” sapa suara di seberang sana dengan suara serak.


“Rea, akhirnya.”


“Kenapa?” tanya Rea.


Aku menceritakan tentang mimpi tadi kepada Rea. Reaksi Rea seperti biasa saat kuhubungi tengah malam seperti ini, heboh dan menjadi begitu cerewet.



Suasana tengah malam begitu sunyi, sesekali aku mendengar suara hewan malam. Suara cerewet Rea berhasil membuat tengah malam seperti ini menjadi lebih berisik. Sesekali menguap menahan kantuk, Rea juga sama. 



Sampai subuh aku tidak bisa tidur kembali, Rea dengan setia menemani lewat telepon. Beberapa kali aku mendengar suara Rea yang mengecil karena kantuk, tapi tidak mengeluh menemani tengah malam seperti ini.

Untung saja besok pagi hari Minggu, kita ada waktu lebih untuk istirahat, bisa mengganti tidur di siang hari dengan lelap. Mungkin jika hari Senin, aku pastikan akan masuk barisan khusus saat upacara.



Pikiranku bercabang mengingat mimpi ini. Sebenarnya kenapa bisa seperti itu, otakku seakan buntu mencari solusi. Bisa saja ini hanya faktor kelelahan karena banyak tugas atau memang ada yang salah dengan diriku. 








~~~

Salam.
Ofah ?

▪-Mohon Krisar juga, ya, teman-teman.-▪