Lucid Dream •• Part 28 ••
Duduk berhadapan tanpa suara, menundukkan wajah tidak ingin memandang satu sama lain.

“Rea. Dengar, aku enggak marah kalau kamu masih berhubungan dengan Kak Sam. Masalah yang terjadi di antara kami tidak ada hubungannya denganmu,” ucapku memecah keheningan.

Rea mengangkat wajah menghadap ke atas, menatapku dengan wajah seakan marah, kecewa, dan merasa bersalah.

“Maaf, Lu. Aku takut kamu akan merasa semakin sedih jika aku masih berhubungan baik dengan Kak Sam, aku takut kamu menangis.” 

Aku menghambur memeluk Rea erat, menumpahkan tangis. Isak tangis kami bersahutan, melepas rasa yang kami pendam. Rea melepas pelukan setelah kami puas menumpahkan tangis.

“Lu. Kenapa kamu enggak cerita tentang Denia, kenapa kamu menyimpan beban sendiri?” tanya Rea menatapku dengan pandangan kecewa.

Aku merasa bersalah karena Rea tidak tahu masalah Denia, tetapi aku hanya ingin menepati janji. Aku tahu ke mana arah pembicaraan Rea, entah bagaimana bisa dia tahu tentang itu semua.

“Rea, bagaimana—“

“Aku tahu, Lu. Aku tahu semuanya, Om Alfa yang memberitahuku. Kenapa, Lu?” tanya Rea sedikit meninggikan suara.

“Maaf, Re. Aku sudah berjanji dengan Denia untuk tidak memberitahu siapa pun,” kataku menundukkan wajah.

Rea menggelengkan kepala tidak menerima dengan ucapanku, memijat pelipisnya pelan.

“Setelah ini kita tidak boleh ada rahasia apa pun.” Aku mengangguk mendengar perkataan Rea. “Dan masalah Denia, kita harus beritahu Kak Sam.” Ucapan Rea selanjutnya tidak dapat aku terima, menggelengkan kepala tidak setuju.

“Enggak, Re. Untuk sekarang enggak bisa, Kak Sam belum menyelesaikan kuliahnya, masih menunggu sampai dia wisuda,” jelasku mengelak ide Rea.

“Lalu bagaimana kamu akan memberitahunya? Besok setelah ujian kenaikan kelas kamu pindah bersama Om Alfa, ‘kan. Ke Solo, meninggalkan kota Semarang.” 

Bagaimana bisa Rea tahu kalau aku akan pindah ke Solo bersama Om Alfa, karena hanya Om Alfa yang kupunya sekarang. Berat hati aku meninggalkan kota Semarang, menerima tawaran Om Alfa karena tidak ingin membuat Om Alfa semakin khawatir, harus bolak-balik keluar kota Solo dan Semarang.

“Om Alfa yang memberitahuku,” ucap Rea tiba-tiba, membuat aku mengalihkan perhatian.

Jika memang tidak ada kesempatan untuk aku menjelaskan, biarkan saja semua rahasia ini tersimpan.

“Rea, janji sama aku. Jangan pernah memberitahukan apa pun kepada Kak Sam tanpa sepengetahuanku.”

Dengan ragu Rea menganggukkan kepala, menatapku kecewa. Sepertinya Rea ada rencana memberitahukan semua ini kepada Kak Sam, harus menelan kecewa karena ancamanku.