Lucud Dream •• Part 27 ••
Lebih dari seminggu sejak kejadian bertemu dengan Kak Sam. Aku dan Rea terkadang masih canggung walaupun tetap berhubungan baik, aku terkadang masih memikirkan tentang Kak Sam, merasa iri dengan Rea yang masih bisa bertegur sapa. 

Putaran memori tentang lalu tanpa diminta berputar seperti kaset rusak, menekan dada semakin sesak. Kejadian sebenarnya selalu aku tutupi, sesuai permintaan Denia—adik Kak Sam—sebelum pergi untuk selamanya. 

Bertahan pada sebuah rasa sakit dengan kesalahpahaman itu sangat menyakitkan, di lain sisi ingin mengungkap, tetapi di lain sisi itu semua adalah rahasia antara aku dan Denia. Bahkan Rea tidak tahu karena aku tidak ingin membuat Rea khawatir.

Biarkan semua rasa sakit ini hanya untukku, bertambah sakit mendengar fakta yang Om Irwan bawa. Kesalahpahaman antara aku dan Om Alfa telah membuatku membencinya. Perjalanan bisnis kedua orang tuaku bukanlah atas paksaan Om Alfa, tetapi itu harus dilakukan oleh Mama dan Papa untuk melakukan kerja sama sebuah proyek besar, kesempatan proyek yang langka.

Seharusnya aku selalu ada untuk Om Alfa, Tante Lilian—istri Om Alfa—memaksa ikut ke Paris. Tante Lilian sedang hamil, dan bersikukuh ikut, katanya itu keinginan dari calon anaknya.

Sungguh, aku egois tidak ingin mendengarkan penjelasan Om Alfa. Om Alfa keluarga satu-satunya milikku, orang selalu ada saat semua keadaan.

Isak tangis menggema di kamar, rasa sakit semakin melanda. Semua masalah yang terjadi, itu semua atas kesalahanku sendiri, tidak seharusnya aku menyalahkan orang lain.

Rasa rindu semakin bergemuruh, merindu Mama dan Papa. Saat tangis seperti ini Mama akan selalu memeluk erat, menenangkanku agar merasa lega, membisikkan kata penuh kasih sayang.

“Mama. Luci rindu,” ucapku lirih penuh dengan isak.

Menangis sendiri tanpa orang lain, itu yang selalu kulakukan setelah masalah yang menimpa Mama dan Papa. Rea selalu memintaku menangis agar reda, tapi aku selalu menahan agar Rea tidak bertambah khawatir.

Duduk di atas tempat tidur, menekuk lutut dan menenggelamkan kepala di antara keduanya, itu yang kulakukan sekarang.