Lucid Dream •• Part 24 ••
Perlahan kakiku berjalan memasuki sebuah gedung berwarna abu-abu, gedung dengan taman indah di sekelilingnya, hamparan berbagai jenis bunga tertata indah.

Embusan angin membuat dedaunan menari lembut, melambai, membentuk simfoni lagu alam yang menenangkan.

Kakiku bergerak menyusuri taman, menatap kupu-kupu yang bergerak terbang ke arahku. Satu kupu-kupu berukuran lebih besar dari lainnya, dengan sayang berkilauan, terbang menuju tanganku yang terangkat. Menggerakkan sayapnya pelan, seakan ingin bercakap denganku.

Suara seseorang mengalihkan perhatianku, memandang ke asal suara. Di sana, Rea bergerak cepat dengan terbang, menghampiriku dengan cepat, menubruk tubuhku. Tangan Rea menarik tanganku untuk ikut terbang, mengikuti Rea yang sepertinya akan memasuki gedung abu-abu di depanku.

Terbayang siluet bayanganku dengan Mama dan Papa saat liburan. Pikiranku menggambarkan mereka dengan detail, mengharapkan mereka ada di gedung ini.

Suara langkah kaki membuat senyum lebar di bibirku, Mama dan Papa berjalan pelan dari arah sebuah pintu, mencoba berjalan ke arahku.

Bayangan mereka perlahan menghilang, memudar. Aku berlari menuju ke arah mereka, mencoba menggapai tangan mereka.

Aku panik, ini kesempatanku berhasil memunculkan mereka dalam mimpi. Berulang kali aku mengatakan ke dalam hati, bahwa ini memang mimpi, aku harus bertahan dalam lucid dream kali ini, mencubit tanganku pelan.

Aku terjatuh, menutup mata karena kecewa. Perlahan kelopak mata terbuka, mengedarkan pandangan, dan sadar bahwa sekarang aku sudah terbangun. Tanganku terulur mengambil air minum di nakas, meneguknya perlahan. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul empat lebih seperempat, sebentar lagi azan subuh.

Bersiap-siap itu lebih baik, membersihkan diri sambil menunggu azan. Selesai membersihkan diri, azan subuh berkumandang memecah sunyi pagi. Aku turun menuju meja makan setelah melaksanakan salat, Bik Sari sepertinya belum selesai salat, dapur masih kosong dengan sayur dan bahan masakan siap untuk dimasak. Menunggu Bik Sari memasak, aku berjalan menyapu ruang tamu.

“Aduh, Non. Biar nanti Bibi yang menyapu.” Suara Bik Sari menggema dari arah belakang.

“Enggak, apa-apa, Bik. Luci udah siap pakai seragam, terus bingung mau ngapain. Kalau masak takut kotor, Luci juga lebih masakan Bibi yang enak daripada masakan Luci,” ucapku bergurau.

“Aduh, Non. Bibi jadi melayang, alhamdulillah kalau masakan Bibi Non suka.” Aku tertawa melihat wajah Bik Sari yang malu-malu.

Adanya Bik Sari dan Mang Dadang tidak membuat aku kesepian di rumah, mereka sering membuatku tertawa karena gurauannya.