Lucid Dream •• Part 05 ••

“Jadi, tadi malam aku itu cari informasi tentang mimpi gitu, ya. Tapi di sana tertulis kalau proses bagaimana seseorang bisa bermimpi itu belum ditemukan jawabannya sampai saat ini,” jelas Rea mengerucutkan bibirnya.




Tiba-tiba Rea memukulku tepat di kening. Walaupun tidak sakit, tetap saja itu mengagetkan.



“Orang lagi jelasin, malahan ngelamun.” Aku menghela napas mendengar Rea sebal. 



“Aku ‘kan mikir, Re. Lagi berusaha mencerna ucapanmu,” ucapku tidak terima.



“Maaf, maaf, Lu.” Rea mengusap keningku, tetap di mana dia memukul tadi.



“Kalau kayak gitu. Terus tadi kenapa, ya?” tanyaku pada diri sendiri.



“Oh, satu lagi, Lu. Ada yang namanya false awakening, di mana dalam mimpi ini kita terasa sudah melakukan sesuatu secara nyata, tetapi sebenarnya kita masih bermimpi. Misal, kita bermimpi mau pergi ke mana gitu, terus mandi gitu. Nah, di saat mandi kita terbangun. Rasanya nyata, tapi itu mimpi. Mungkin kamu Cuma false awakening,” tebak Rea.



Aku berpikir sejenak mendengar penjelasan Rea. Tetapi rasanya itu berbeda dengan apa yang aku alami, sepertinya aku bukan sedang false awakening seperti kata Rea.



“Kayaknya enggak, Re. Aku rasa ini bukan false awakening.” Rea terlihat menghela napas karena informasinya salah.



Kami sama-sama terdiam mencari jawaban. Suara hewan malam membuat tersadar kalau sekarang masih tengah malam.



“Sudahlah, Lu. Tidur saja, sekarang masih jam tiga malam.”



Aku menggeleng mendengar ajakan Rea.



“Aku tidak bisa tidur lagi, Re. Kamu tidur saja,” kataku tersenyum.



“Ya, sudah. Aku juga tidak tidur,” ucap Rea.



“Kamu tidur saja, kasihan kamu karena tidak terbiasa.” 



“Waktu itu aku juga menemanimu karena terbangun, Lu,” protes Rea.



Aku hanya menghela napas, menganggukkan kepala.



Rea asyik bermain dengan ponsel miliknya, sedangkan aku masih terjebak memikirkan mimpi yang tadi. Mimpi tadi berbeda dengan sebelumnya.



Sebenarnya kenapa aku bisa bermimpi seperti itu, dan saat aku memikirkan Mama, suara Mama menyapa dalam mimpi.



Kualihkan pikiranku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi, cepat sekali jamnya berputar, tidak terasa Subuh akan datang. Terlihat Rea tertidur dengan ponsel di tangannya, sepertinya dia tidak sadar tertidur.






.
.
.
Salam sayang ♥️
Ofah ?



.
.
---> Mohon krisar, ya, teman-teman. ?