Lucid Dream •• Part 20 ••
Masih mengatur napas, aku meraih air minum di atas nakas. Perlahan air minum yang mengalir ke dalam tenggorokan membuat merasa lega. 

Rea masih lelap dalam tidurnya, dengkuran halus terdengar dari bibirnya. Aku turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, berwudu akan membuat lebih baik. Jam masih menunjukkan pukul setengah empat, masih ada waktu untuk salat malam.

Selesai melaksanakan salat malam, aku mendengar dering ponsel, sepertinya itu berasal dari ponsel milik Rea.

Ponsel Rea berada di atas nakas, berdering tanpa henti. Aku berjalan menuju nakas untuk mengecek siapa yang menelepon tengah malam hampir pagi ini. Di sana tertera nama ‘Ayah Tersayang’.

“Om Irwan nelfon, kenapa, ya?” batinku bertanya-tanya. 

Kugeser ikon hijau untuk mengangkat telepon dari Om Irwan, mendekatkannya di telinga.

“Hallo, Assalamu’alaikum, Om. Ini Luci,” sapaku.

Wa ’alaikumsalam, Luci. Reanya udah bangun?” tanya Om Irwan di seberang sana.

“Belum, Om,” jawabku memandang ke arah Rea yang masih terlelap dalam tidurnya.

“Tolong bangunin, ya.”

Aku menganggukkan kepala seakan Om Irwan berada di depanku. Berucap pelan, “Iya, Om, sebentar.”

Rea masih tetap tertidur lelap walaupun tubuhnya kugerakkan sedikit keras.

“Rea bangun,” teriakku tepat di telinganya tidak terlalu keras.

Perlahan Rea mengerjapkan mata, menguceknya pelan.

“Kenapa sih, Lu?” tanya Rea bergerak untuk posisi duduk.

“Om Irwan nelfon,” jawabku menyodorkan ponsel milik Rea.

Rea bergerak turun dari tempat tidur, berjalan mendekati jendela untuk berbicara dengan ayahnya. Walaupun begitu, suara Rea masih bisa terdengar.

“Hallo, Yah. Assalamu’alaikum,” kata Rea masih berusaha menahan kantuk, mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya yang menguap.

Aku lihat wajah Rea berubah, tidak lagi menguap menahan kantuk. Tersirat kekhawatiran di sana. Bibirnya menggigit ujung kuku jari tangannya.

“Iya, Yah,” ucap Rea menutup telepon. 

Helaan napas kasar keluar dari mulut Rea, menubrukku, memeluk erat.

Aku tidak tahu ala yang terjadi, tetapi saat ini Rea sedang terguncang. Tangan ini balas memeluk Rea erat.

“Rea, tenang. Ada aku.” Hanya itu yang mampu aku ucapkan untuk menenangkan Rea.

“Bunda jahat, Lu. Dia—“ Rea menghentikan ucapannya, isak tangis keluar dari bibirnya.

Aku cemas menunggu Rea melanjutkan ucapannya, hanya mampu menepuk pundaknya pelan.