Lucid Dream •• Part 12 ••
Embusan napas kasar berulang kali Rea lakukan, dia kesal karena sudah seminggu mencoba untuk melakukan lucid dream tetapi selalu gagal. Entah itu karena ketiduran atau malahan tidak terbangun saat alarm dibunyikan.

Aku menggelengkan kepala, padahal sudah dijelaskan jika melakukan licid dream harus terbiasa. Seminggu ini juga aku mencoba untuk masuk ke mimpi lagi, hanya sampai ke sleep paralysis. Karena begitu masuk gerbang lucid dream, aku terlalu senang sehingga terbangun.

“Lu, tahap-tahap yang aku lakukan benar ‘kan? Masa gagal terus,” tanya Rea kesal. Mengentakkan kaki di atas trotoar. 

“Iya. Coba kamu jelasin apa aja yang kamu lakukan selama ini?” tanyaku terkekeh pelan.

“Iya pertama, aku siapin buku buat catat mimpi kayak kamu. Kedua, pasang alarm jam dua pagi. Ketiga, tidur. Sebelum tidur aku enggak begadang, enggak minum kopi. Saat alarm jam dua, aku juga terbangun. Begitu terbangun aku minum tuh biar enggak tegang, terus tiduran untuk bikin tubuhku rileks. Lalu, aku meditasi dan bayangin mimpi apa yang aku inginkan. Nah, disitu justru aku tertidur,”  keluh Rea.

“Mungkin karena belum terbiasa Re, kamu kemarin ‘kan lihat kalau yang di youtube, dia bisa melakukan lucid dream dengan lancar setelah lebih dari dua bulan,” terangku menenangkan Rea.

Daripada membuat Rea semakin menggerutu tidak jelas, lebih baik aku ajak dia masuk ke super market.

“Re, mampir ke supermarket, yuk.” Rea memandangku sebentar, kemudian mengangguk.

Hilir mudik kendaraan menemani kami berjalan di sore hari, langit sudah berwarna biru dengan dihiasi senja oranye. 

Kulit merasa sedikit dingin saat masuk ke dalam supermarket, tidak terlalu ramai orang yang berada di sini.

Aku dan Rea berada di rak camilan, memilih beberapa camilan untuk kami. Di rumah sudah tidak ada stok.

Saat kami berjalan menuju kasir, tanpa sengaja aku menyenggol lengan seseorang, membuat barang yang dipegangnya terjatuh.

“Maaf, Kak, tidak sengaja,” ucapku meminta maaf sembari berjongkok membantu mengambil barang miliknya.

“Enggak apa-apa, Dek.” Suaranya membuatku terdiam sejenak.

Aku alihkan pandangan perlahan, menoleh ke arahnya. Wajahnya seperti tidak asing, dia tersenyum ke arahku. Sepertinya mengucapkan sesuatu, tetapi telingaku seakan tidak mendengarnya. Dia berjalan meninggalkanku yang terdiam terpaku.

“Luci,” teriak Rea memanggil dari kejauhan, membuatku tersadar dari lamunan.

Aku tidak bisa mengalihkan perhatian, berulang kali menengok ke belakang memastikan sesuatu. Rea menarikku tidak sabar menuju kasir.



.
.
.
Salam ♥️
Ofah ??

.... Mohon krisar, ya, teman-teman. ?♥️?