Lucid Dream •• Part 10 ••
Jalanan masih lenggang, kendaraan roda dua maupun roda empat masih jarang yang berlalu lalang. Aku lirik jam tangan di pergelangan tangan, mungkin karena masih jam setengah tujuh kurang.

Jam tangan pemberian Mama saat ulang tahunku yang ke enam belas—tahun lalu—masih menjadi kesayangan, walaupun banyak jam tangan di rumah.

Langkahku terasa begitu ringan, apalagi cuaca pagi ini cerah seperti hari sebelumnya.

Sebentar lagi sampai di sekolah, gerbang pintu masuk sudah terlihat, tetapi Rea belum terlihat di sana. Katanya dia akan menunggu di pintu gerbang jam setengah tujuh, sekarang sudah jam setengah tujuh. Mungkin dia sedang ke kelas terlebuh dahulu atau memang belum berangkat.

Aku buka tas sekolah, mengambil ponsel untuk menghubungi Rea. Belum selesai tanganku mengetik pesan, Rea sudah terlebih dahulu mengirim pesan. Rea sedang ada di koridor menuju gerbang, tadi meletakkan tas sekolah terlebih dahulu.

Tidak lama kulihat Rea melambai ke arahku, sedikit berlari menuju gerbang, tempatku berdiri sekarang.

“Kenapa enggak nunggu di kelas aja?” tanyaku begitu menghampirinya.

“Takutnya tadi kamu enggak buka ponsel, makanya aku kirim pesan,” jawab Rea tersenyum tipis.

Kami berjalan menyusuri koridor menuju kelas, menyapa beberapa siswa yang kami kenal, masih sedikit siswa yang sudah di sekolah, karena memang masih pagi, biasanya jam tujuh kurang seperempat siswa baru berada di sekolah. 

“Eh, nanti nonton video lagi, ya? Ayah enggak pulang lagi, aku nginep di rumahmu, ya?” Aku mengangguk menjawab perkataan Rea.

Begitu sampai di kelas, tidak ada siapa-siapa. Kami berjalan menuju tempat duduk, memeriksa kembali tugas.

“Lu. Aku beneran pengin nyoba lucid dream,” ucap Rea tiba-tiba.

Aku terdiam mendengar ucapan Rea, kembali melayang mengingat tentang video-video yang Rea berikan kemarin.

“Re. Aku ngerasa enggak asing sama tahap lucid dream yang kemarin kamu berikan videonya,” kataku kembali mengecek lembar tugas.

“Enggak asing gim—“ Rea menghentikan ucapannya, seperti berpikir.

Aku memandang bingung ke arah Rea, sepertinya dia menemukan sesuatu yang akan menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan di kepala. 




.
.
.
.
.

Salam♥️
Ofah ?


... Mohon krisar, ya, teman-teman. ?♥️