Lucid Dream •• Part 01••
Dari dalam kelas, terlihat sinar matahari terpantul dari kaca. Matahari menyapa bumi dengan hangat, sinarnya sudah terang, tidak lagi malu-malu bersembunyi di balik awan. Bel berbunyi membuatku sedikit mengalihkan lamunan, meletakkan wajah di lipatan tangan.


“Luci.” Teriakan Rea di ambang pintu membuatku mengangkat wajah,  menatapnya malas. Semua siswa yang berada di kelas ikut menatap Rea sengit, mereka sedang serius menyalin tugas dari guru sejarah yang dikumpulkan nanti siang. Sungguh menyebalkan sebenarnya, tugas diberikan secara dadakan setelah pulang sekolah, padahal tugas hari ini sudah begitu banyak. Untung saja aku sudah mencicil tugas dari mata pelajaran lain.


“Maaf. Maaf, guys,” ucap Rea mengangkat tangannya membentuk huruf ‘V’, menghampiri tempat duduk di sampingku. “Kenapa sih, Lu?” tanya Rea.


Aku menggelengkan kepala pelan. “Nanti aku ceritakan,” bisikku pelan melihat Bu Dewi masuk ke dalam kelas. Teman-temanku berhamburan kembali ke tempat duduk masing-masing melihat beliau masuk.


Seketika kelas hening, dilihat Bu Dewi menatap kami satu per satu, menghembuskan napas pelan. “Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu Dewi.


“Pagi, Bu.” Kami menjawab serempak.


“Sebelumnya Ibu ingin meminta maaf jika selama menjadi wali kelas kalian, Ibu banyak salah.” Suara bisik-bisik mulai terdengar, mereka bertanya-tanya mengapa Bu Dewi berbicara seperti itu. Aku mengangkat tangan bermaksud bertanya. “Tenang semua,” ucap Bu Dewi sedikit berteriak, “Iya, Luci. Ada yang ingin ditanyakan?”


“Apakah Ibu akan dipindah tugaskan ke sekolah lain?” tanyaku penasaran. Semua siswa menatap ke arahku tidak suka. Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku?


“Iya, kamu benar Luci.” Terdengar decak kecewa dari teman-teman, tentu saja kita kecewa harus kehilangan sosok seperti Bu Dewi. Andai saja aku tidak bertanya, mungkin berita seperti ini tidak akan terdengar. “Jadi, anak-anak. Sebenarnya Ibu bukan dipindah tugaskan. Ibu harus berpindah ke kota lain mengikuti suami Ibu yang dimutasi.”


Suasana kelas menjadi ricuh, terjadi perdebatan karena tidak ingin Bu Dewi diganti oleh guru yang lain. Kami begitu nyaman dengan beliau yang menjadi wali kelas kami.


Aku tertawa kecil mendengar Rea mengumpat pelan. Bu Dewi begitu telaten menghadapi kami yang sedikit lebih ramai daripada kelas lain, bahkan beberapa murid nakal ada di kelas ini. Tetapi, jika bersama Bu Dewi kami begitu patuh. Sosoknya seperti Ibu kami sendiri.


Keributan tetap berlanjut sampai bel istirahat berbunyi, pelajaran matematika diganti dengan adegan berpelukan. Setelah Bu Dewi berpamitan, keluar dari dalam kelas, kami hanya diam seperti tidak bersemangat. Berita ini sepertinya akan membuat semangat kami melemah.


“Rea. Kita ke kantin, yuk? Aku belum sarapan,” ajakku mencoba mengalihkan perhatian Rea.


Sesampainya di kantin aku duduk tenang, menunggu Rea yang memesan makanan, memainkan benda canggih berbentuk pipih di tangan. Ruang pesan group milik kelas kami menjadi begitu ramai dengan kata perpisahan. Tidak lama Rea menghampiri, membawa makanan di nampan.


“Terima kasih, Re,” ucapku tersenyum. Rea hanya tersenyum kecil membalasnya, kemudian duduk tenang, menyantap bakso Mang Ujang. Aku ikut menyantap siomai dengan tenang.


“Ah, iya, Lu. Bukankah tadi kamu ingin bercerita?” Pertanyaan Rea membuatku meletakkan sendok, menatap Rea serius.


“Kamu ingat sewaktu aku tengah malam meneleponmu?” Rea menganggukkan kepala, masih menyantap bakso miliknya. “Mimpi seperti itu selalu hadir kembali setiap malam selama seminggu ini. Padahal sebelumnya mimpi itu hadir hanya sesekali,” jelasku membuat Rea ikut meletakkan sendok di tangannya.


“Kamu serius?” Aku mengangguk mantap. “Setiap malam?” Lagi-lagi aku mengangguk. “Makanya mata kamu kayak Panda gitu?” Aku mengangguk malas, kebiasaan bertanya dengan banyak jeda tidak hilang dari Rea. “Coba ceritakan bagaimana kegiatanmu semalam?” Aku menaikkan alis bingung, sepertinya Rea memahami kebingunganku. “Ceritakan saja, siapa tahu kita bisa menemukan jawaban dari kegiatanmu sebelum tidur.” Aku mengangguk dengan pertanyaannya, masuk akal.
“Dari mana aku bercerita, Re?” tanyaku karena bingung memulai cerita dari mana.


“Ceritakan saja kegiatan sejak sore hari,” jawab Rea serius.


“Em, kegiatanku seperti biasanya yang kamu tahu, Re,” ucapku menghela napas, “sepulang sekolah aku tidak pernah mampir ke mana pun kecuali jika ada keperluan. Begitu sampai rumah aku akan membersihkan diri, pergi ke dapur untuk makan, lalu kembali ke kamar, mengerjakan tugas. Hanya itu,” jelasku.


Rea terlihat berpikir, tangannya diletakkan di bawah dagu. Tiba-tiba dia berteriak, “Apakah kamu melakukan hal aneh? Seperti membaca buku atau mendengarkan lagu mistis?” Aku melotot menatap Rea, bukankah dia tahu aku tidak suka mendengarkan musik.


“Kamu ‘kan tahu, Re, aku tidak suka mendengarkan musik,” protesku, “kamu tahu betul jadwal harianku. Jam tidur yang selalu terjadwal, jam sembilan aku sudah pergi tidur. Sebelum tidur aku mencatat apa saja keinginanku di buku catatan.” 


“Ah, iya.” Rea mengangguk mengerti. “Apakah kamu masih sering terbangun di jam dua belas? Kebiasaan mencatat mimpimu masih ada?” ejek Rea tertawa kecil.


“Jangan mengejek, Re.” Aku mendengus sebal, Rea semakin tertawa. “Itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit aku tinggalkan. Untuk terbangun di tengah malam, sudah menjadi hal yang rutin setiap tidur ... ah, iya, Re.” Aku baru teringat satu hal, mimpi itu hadir setelah aku tertidur kembali.


“Kenapa, Lu?” tanya Rea penasaran.


“Ada satu hal yang belum aku ceritakan. Mimpi itu akan hadir setelah jam dua belas, setiap aku tertidur lagi karena terbangun, aku sering berharap bermimpi bertemu Mama dan Papa,” ucapku lesu, “keinginanku semakin menjadi seminggu ini, dan mimpi itu juga hadir setiap hari.” Rea terdiam, menghambur memelukku erat.


Aku balik memeluk Rea erat, menyembunyikan wajah di balik rambut panjang Rea yang terurai. Rasanya mata ini memanas. Tetapi, aku tidak boleh menumpahkan air mata, walaupun hanya setetes.


Suara bel tanda masuk membuat kami melepas pelukan, saling melempar senyum, tertawa kecil karena setiap kami berada di suasana seperti ini pasti ada saja pengganggunya, Tuhan seakan tidak mengizinkan kami bersedih.


“Lebih baik kita masuk ke kelas. Sebelum Pak Berkumis datang,” ajak Rea berdiri dari duduknya.


Aku menggelengkan kepala mendengar panggilan Pak Guntur dari Rea. Beliau guru yang masih muda, hanya saja dia berkumis, tetapi tidak tebal, begitu tipis. Kata Rea itu panggilan khusus untuk Pak Guntur kerena terlihat lebih ganteng dengan kumisnya. Kami berjalan lebih cepat di koridor, tanpa perbincangan, takut terlambat masuk kelas.






...

Salam
Ofah ?

-- mohon krisar, ya, teman-teman.--