Lucid Dream •• Part 17 ••
Berulang kali aku menghembuskan napas jengah, melihat Rea bolak-balik keluar masuk kamar.

“Re, ngapain sih bolak-balik keluar kamar?” tanyaku memutar bola mata jengah.

“Ish, kamu mah. Aku lagi grogi nih gara-gara Pak Kumis belum kasih nilai tugas kemarin. Jangan sampai remidial,” ucap Rea duduk di sampingku.

Aku tertawa kecil mendengar ucapan Rea, sebenarnya Rea bukan grogi karena nilai yang belum dibagikan, hanya saja memang dia ditugaskan sebagai penanggung jawab tugas kali ini.

“Udah, enggak usah dipikirin. Tugas buat besok kita belum selesai ‘kan?”

Aku bangkit dari duduk menuju meja belajar, mengeluarkan tugas yang belum selesai.

“Eh, ini kok punyamu beda dengan tema tugas?” tanya Rea begitu membaca tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia.

“Masa sih? Perasaan udah deh, temanya soal fenomena sosial ‘kan? Makanya aku buat cerita tentang pem-bully-an.”

“Hah? Emang temanya fenomena sosial? Bukan media sosial?” tanya Rea dengan mimik wajah kaget.

Aku mengangguk pelan, tertawa kecil melihat Rea kaget seperti itu.

“Makanya kalau baca itu teliti,” ucapku masih tertawa. “Kamu butuh kacamata kayaknya deh, Re. Keseringan nonton youtube.” 

“Mana ada,” kata Rea tidak terima.

“Emang gitu,” ejekku.

Aku berdiri dari duduk, menghindar dari Rea yang bersiap melayangkan cubitan mautnya.

“Luci. Jangan lari,” teriak Rea saat aku menuruni tangga.

Aku terus berlari menghindar dari Rea, menyembunyikan diri di balik tubuh Bik Sari yang sedang berdiri membersihkan dapur. 

“Bibi, awas.” Aku menjulurkan lidah mendengar nada tidak terima dari suara Rea.

“Aduh, Non. Ngapain main lari-larian? Nanti jatuh bagaimana,” omel Bik Sari berkacak pinggang.

“Itu tuh, Luci yang lari duluan.”

Aku melotot tidak terima mendengar perkataan Rea.

“Apa? Kamu duluan yang mau nyubit aku,” ucapku membela diri.

Melihat aku dan Rea berdebat, Bik Sari menghembuskan napas lelah.

“Udah, Non. Kita makan aja, ya.” Rea mengangguk antusias mendengar kata makan, mengabaikan niat ingin mencubitku, berlari menuju meja makan.

“Dasar tukang makan,” ejekku pelan.

“Jangan ngejek kamu, ya, Lu,” teriak Rea seakan mendengar suaraku.