bab 6


.

     Gara-gara rahasianya tentang mantan dibongkar secara live di depan sang mantan, Sishy yang sebenernya sudah siap pergi,  langsung balik lagi ke kamar. Tutup pintu dan dikunci dari dalam, ngambek. Nangis juga kayaknya. 

Erine sama sepupunya buru-buru  minta maaf di depan pintu masih juga nggak dibukain. Cengar-cengir aja mereka berdua, ngerasa salah dan juga nggak enak padaku.

"Sishy, kita nggak ada spill nama mantan kamu ke Kak Xander, kok." Erine berusaha membujuk.

"Iya, serius deh, Kak Xander juga nggak nanya-nanya nama dia." Satunya ikut menambahi.

"Siapa mantan kamu masih jadi rahasia kita sampai saat ini. Serius."

"Iya deh, maaf, lain kali kita nggak keceplosan lagi, kok."

Mereka berdua mengetuk pintu kamar berulang-ulang. Sementara aku cuma bisa menunggu di ruang tamu. Sampai akhirnya terdengar nama mereka dipanggil oleh wanita paruh baya dari luar sana.

"Sishy, kami pulang dulu, ya!" Mereka langsung pamit sambil berlari keluar. "Dadah, Kak Xander!"

Aku cuma tersenyum tipis kearah mereka. Lalu sadar, sekarang cuma sendirian, dan bingung mau ngapain duduk kayak orang blo'on di ruang tamu rumah orang. Sementara yang punya rumah di dalam kamar.

Akhirnya aku mengirim pesan.

'Sishy.'

'Shy, keluar gih.'

'Capek kakak nunggu dari tadi.'

Dibaca, tapi belum juga dijawab. Apa jangan-jangan dia ketiduran?

Agak lama kemudian, baru datang balasan dari nomor Sishy.

'Nggak mau.'

'Kenapa?'

'Malu ish.'

Aku mengulum senyum. Membayangkan ekspresi gadis itu saat ini. 

'Kenapa harus malu? Gagal move on kan wajar.' 

Dia kirim emoticon nangis sampai berjejer. Mau kasian, tapi malah pengen ketawa liat reaksinya. 

'Kakak pulang aja.'

Dia kirim pesan lagi. 

Aku mengusap rambut, lalu akhirnya beranjak bangkit dari kursi. Bingung karena nggak tau harus ngapain, jadi kuputuskan untuk pulang. Beli bonekanya mungkin Minggu depan aja.

"Shy! Kakak pulang, ya?" Aku berpamitan sambil melangkah sedikit ke dalam, cuma buat memastikan pintu kamar Sishy.

Hening.

"Tutup pintu depannya. Kamu kan sendirian." Aku berpesan. 

Masih hening. 

Aku menggaruk kepala sekilas, akan segera melangkah keluar saat tiba-tiba terdengar suara kunci pintu diputar.

Seraut wajah berantakan melongok dari balik pintu kamar. Beneran abis nangis bombay tuh anak. Dia berkedip sungkan setelah mata kami bertatapan.

Aku membalikkan badan menghadapnya. "Udahan nangisnya?"

Dia membenahi rambut dan mengusap matanya yang sembab parah.

"Udah."

Aku mengangguk, tapi sialnya, bibir nggak bisa nahan senyum yang langsung ketangkap oleh Sishy.

"Tuh kan! Kakak ngetawain!" 

"Enggak!"

***

      Setelah lebih dari satu jam berusaha ngilangin sembab di sepasang matanya, akhirnya Sishy siap lagi.

Kali ini dia pakai celana jeans dan sweater, penampilannya jadi keliatan manis. Jadi ngerasa lagi kencan, asli. 

Kami meluncur menuju Mall terdekat buat cari boneka yang dia mau. Di atas motor, dia sempat malu-malu buat pegangan pinggang, tapi setelah beberapa saat jalan --dan agak ngebut-- akhirnya mau pegangan juga. 

Beberapa orang cukup memperhatikan pas kami jalan bareng. Termasuk ibu-ibu yang kadang langsung nyeletuk seenaknya.

"Mirip, kakak adek, ya?"

Atau

"Mukanya mirip, jodoh kayaknya."

Pengen ikutan nyeletuk juga. "Yang jodoh emak bapaknya, Bu." Tapi yaudahlah, siapa tau kami emang jodoh beneran.

Kadang, nggak sengaja telapak tangan kami bersentuhan. Lalu kuraih jemari Sishy dan kugenggam. Buru-buru ditarik sama dia. Tapi genggaman terakhir, dia balas pegang. Ada senyum tertahan di bibirnya, langsung disembunyikan saat aku menoleh kearahnya.

Kami sempat terpisah saat jalan di antara rak-rak boneka. Sishy sibuk milih-milih sementara aku cuma liat-liat pemandangan. Pemandangannya ya senyumnya Sishy. Eaak.

"Yang ini sama yang ini lucu mana?" Sishy bawa dua boneka. 

"Lucu kamu."

"Kakak, ih!"

"Yang ini."

Sudah kuduga. Yang diambil boneka yang nggak dipilih. 

Kirain milih banyak, ternyata dia cuma ambil satu. Boneka Teddy bear warna coklat yang nggak terlalu besar juga ukurannya. Bukan, bukan yang dia tanya 'lucu ini apa ini' tadi. Beda lagi. 

"Katanya mau banyak?"

"Satu aja."

"Kenapa?"

"Nanti susah bawanya."

Pinter nih anak. 

.

Setelah beli boneka itu kami memutuskan buat makan. Ada sebuah kafe yang letaknya berseberangan sama mall tadi. Tempatnya lumayan strategis, bisa liat pemandangan bagus dari jendela kaca. 

Baru juga pesan makanan di sebuah kafe, saat tiba-tiba Sishy langsung nutup muka pake boneka yang dia bawa. Ekspresinya panik banget. Kayak lagi liat seseorang yang paling dihindarinya.

Aku menoleh ke pintu masuk. Ternyata ada seorang cowok yang barusan melangkah masuk ke dalam kafe.

Jangan-jangan ... dia pacarnya?

.

Next