bab 4


.

     Menjelang malam, baru Ayah pulang. Akhir-akhir ini dia memang keliatan semakin sibuk, mungkin karena rencana pernikahan yang tinggal bulan depan.

Terdengar ketukan di pintu kamar sekilas, lalu handel bergerak bersamaan dengan dorongan ke dalam.

"Udah ke rumah bunda tadi?" tanya Ayah sambil melongok ke dalam kamar.

Untung nggak lagi ngapa-ngapain. Cuma sekadar rebahan sambil dengar musik dari hape. 

"Udah," jawabku tanpa mencopot earphone yang kupakai.

"Bunda ada di rumah?" tanya Ayah lagi, kali ini pasang ekspresi lebih serius, ditambah dengan tatapan lekat. Mungkin karena dia punya firasat.

Aku terdiam sebentar.

"Enggak, lagi keluar katanya." Ahirnya aku menjawab, sesuai kemauan Bunda.

Ayah menghela napas pendek.

"Jadi undangannya dititip ke bibi di sana?"

"Bawa pulang lagi, Yah." Aku menunjuk surat undangan yang teronggok di atas meja belajar dengan tatapan mataku.

Ayah melirik ke undangan itu sebentar, dia terdiam untuk beberapa saat. Aku paham apa yang ada di dalam pikirannya. Tentang Bunda.

"Yaudah lanjut aja, Ayah mandi dulu." Akhirnya Ayah kembali menutup pintu kamarku.

Aku menatap layar hape, lalu kembali buka WA. Sama sekali nggak ada balasan dari Sishy. 

***

      Motor meluncur memasuki halaman rumah, lalu kuparkir di sisi teras seperti biasanya. Mobil Ayah sudah terparkir juga, tumben jam segini udah pulang. Saat akan melangkah masuk, baru aku sadar ada yang lagi datang bertamu. 

Aku mengucap salam. 

Pandangan kami bertemu.

"Udah pulang, Xan?" sapa wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Ayah di ruang tamu. Sementara Ayah menoleh menatapku.

Aku melangkah kearah mereka, lalu mencium punggung tangan wanita itu. 

"Iya, Tante," sahutku.

Wanita itu tersenyum lembut.  

"Xander udah kuliah, ya?" tanyanya, mungkin cuma sekadar basa-basi karena pastinya dia sudah tahu dari Ayah tentang aku. 

Aku mengangguk. "Masuk dulu, Tan," pamitku. Lalu segera masuk ke ruang dalam. 

Hampir saja bertabrakan dengan seseorang yang baru keluar dari kamar mandi tamu.

Ternyata Sishy. Gadis itu mendelik kaget, lalu mau buru-buru kabur kalau saja tangannya tak segera kusambar. 

"Kak!" Dia melotot penuh ancaman sambil berusaha membebaskan lengannya yang kupegang. 

"Kok kamu di sini? Mau ngapel, ya?" Aku tersenyum setan.

"Dih." Gadis yang mengenakan celana jeans dan kaos longgar itu berdecik lirih. 

Aku menatapnya lama, sambil bersandar pada dinding. Cekalan tanganku, turun dari pergelangan lengan ke jemarinya. Lalu menggenggam perlahan. Sesaat, desirnya kembali terasa.

Sishy terlihat salah tingkah. Dia berusaha menarik genggaman sambil mencoba melanjutkan langkah ke arah depan, tapi tetap kutahan.

"Kak, lepasin."

"Sini aja, mereka lagi bahas hal penting." 

"Dari tadi juga aku ikutan ngobrol, kok."

"Sini aja."

"Nggak."

Aku mengait lehernya dengan lengan, lalu menyeret gadis itu masuk ke kamar. 

"Hmmpphh!" Gadis itu berseru dalam bekapan telapak tanganku. Aku nggak tau artinya, mau minta tolong sama mamanya mungkin.

Tubuh Sishy terdorong masuk ke dalam kamar, segera kututup pintunya kemudian berbalik pada gadis itu.

"Mama!" Sishy berteriak panik. 

"Ngapain teriak?"

"Mamaa!!"

"Kamar ini kedap suara btw."

Dia bertambah panik.

Aku bersandar di pintu, cuma memperhatikan gimana Sishy lari pontang-panting kesana kemari, lalu ke jendela kamar. Sempat berusaha keras mau buka kunci lalu baru sadar jendela kamar ada jerujinya. Dia berbalik dan lari ke meja, tangannya sibuk ngacak-ngacak seisi laci cari barang entah apa, lalu berakhir pegang penggaris panjang. Dia berbalik. Diacungkan benda itu ke arahku.

"Ngapain?" Aku nanya heran.

"Kakak yang mau ngapain?"

"Sini."

"Nggak!"

"Shy?"

"Enggak!"

Aku melangkah mendekat, dia makin sawan. Penggarisnya diayunkan ke sana ke sini udah kayak lagi maen akrobat. Untung segera bisa kusambar dan kulempar asal.

Sishy makin pucat.

"Nggak mau!" Dia mepet ke dinding dengan sikap pasrah. "Kak, nggak mau ... aku masih perawan."

Heh?

"Duduk sini." Aku menariknya ke tepi ranjang. Lalu merogoh hape dari kantong celana. Selanjutnya, buka galeri dan menunjukkan beberapa foto pada Sishy.

"Suka yang mana?" tanyaku.

Sishy menatapku tak percaya, sekaligus lega. 

"Pilih, suka kamar yang kayak mana? Entar dibikinin."

Bibirnya sedikit terbuka. "Kok kakak nggak mesum?"

"Kamu yang mesum!"

.

"Ini kamarnya entar," ucapku sambil menunjukkan satu ruang yang saat ini masih berupa kamar kosong. Hampir kayak gudang, tapi yang ditampung cuma barang-barangku yang masih lumayan terpakai.

Dulu, Ayah memang merencanakan kamar ini buat calon adikku. Adik yang belum sempat dibikin tapi Bunda udah keburu pergi. 

Sishy menatap berkeliling. Entah apa yang lagi dia pikirkan, sementara aku berdiri di belakangnya.

"Kalian di sini?" Ayah ternyata nyusul ke dalam. Di belakangnya, wanita itu mengikuti. 

Aku mengangkat bahu.

"Cuma mau nunjukin calon kamar, Yah."

"Mama." Sishy segera tersadar, lalu melewatiku menuju mamanya. Wanita itu menatapku dengan senyum haru di wajahnya.  

.

Next