Bab 2


.

      Setelah pembicaraan yang membahas hal serius itu selesai, akhirnya kami tiba di acara bebas. Jamuan makan sebagai ramah tamah dan kesempatan untuk saling mengakrabkan diri antar dua keluarga. 

Ayah dan calon ibuku terlihat masih serius membicarakan pernikahan mereka ke depan bersama dengan para orang tua lainnya. Sementara aku ditarik Sishy ke ruangan yang lebih sepi. 

Agresif banget, sumpah. 

"Kak!" Sishy merapatkanku pada dinding. Aku bersandar pasrah atas apa yang ingin dia lakukan selanjutnya.

Sishy tersadar. Pipinya bersemu merah saat paham arti tatapanku.

"Ih, jangan mikir yang enggak-enggak, ya?" Dia mendelik sambil buru-buru jaga jarak dariku.

Aku cuma diam sambil memperhatikan penampilan gadis yang sudah bertahun-tahun tak kulihat itu. Dari atas ke bawah. Tubuhnya sudah lebih berlekuk, kulitnya semakin putih, begitu kontras dengan kebaya warna pink segar yang dia kenakan. Rambutnya bergelombang terurai panjang, dihiasi jepit kecil di sisi atas telinga.

"Gini, aku ...." Sishy menarik napas gugup. 

Aku mengangkat alis.

"Aku pengen Kakak jaga rahasia kita."

"Rahasia apa?"

"Kalo dulu kita pernah pacaran." Dia memelankan suaranya sambil mengawasi sekeliling, seolah takut ada yang mendengar. Setelah yakin tak ada yang benar-benar memperhatikan kami, akhirnya dia melanjutkan. "Waktu itu ... sebenernya aku enggak boleh pacaran."

"Oh, jadi dulu kamu pacaran diem-diem?"

Dia mengangguk. 

"Okelah," sahutku santai. 

Ada kelegaan yang seketika menghiasi wajah manisnya. Gadis itu menghela napas panjang, seperti baru keluar dari masalah besar.

"Tapi ...." Aku membungkuk, mendekatkan wajah pada gadis itu. "Ada syaratnya," bisikku.

Sishy menarik wajahnya, menjauh kayak pernah trauma.

"Apa?"

.

     Kami kembali berkumpul di ruang depan yang masih ramai dan sibuk saling menjamu. Aku memilih duduk di kursi yang agak longgar, lalu mendongak menatap Sishy yang mengekor di belakangku.

"Ambilin makan, Shy." Aku tersenyum manis.

Sishy mendelik, lalu menjadi patuh setelah paham arti tatapanku. Dengan cepat dia segera melesat ke ruang tengah, dimana berbagai makanan terhidang di atas meja panjang. Tak lama dia kembali ke arahku dengan sepiring nasi dan lauknya. 

Aku menerima piring itu dari tangannya. Hampir saja gadis itu berlalu pergi saat aku kembali bertanya.

"Minumnya mana, Shy?"

"Kan bisa ambil sendiri?"

"Kan lagi makan."

"Ish."

"Mau ambilin enggak?"

"Iya!"

Gadis itu menghela napas kesal, lalu kembali berbalik masuk ke ruangan dalam.

Beberapa gadis datang mendekat, masih dengan tawa cekikikan dan bisik-bisik, lalu duduk bersama-sama denganku. 

"Kak, masih sekolah apa udah kerja?"

"Udah kuliah."

"Aku Erine, sepupunya Sishy."

"Aku Sesil, sepupunya juga."

"Aku Puput, temennya Sishy."

"Eh, kita boleh minta no wa nya nggak? Biar makin akrab gitu."

"Nggak!" Tiba-tiba Sishy memotong.

"Ya ampun, Sishy. Posesif banget mentang-mentang punya kakak cowok," ledek salah satu dari mereka.

"Dia kan emang posesif. Dari dulu." Aku menjawab santai.

Masih jelas di ingatan, dalam kurun waktu dua Minggu kami pacaran, hampir setiap hari dia ngambek karena cemburu sama si Ina, si Hani, si Luvita, dan entah siapa lagi. Cemburuan banget, giliran dicium minta putus, hadeh.

"Dari dulu?"

"Memang kalian udah saling kenal sebelumnya?"

Wajah Sishy langsung memucat. Sementara aku kembali meneruskan makan.

Gadis itu selalu mengalihkan pembicaraan tiap kali saudara-saudara sepupunya bertanya kearah yang menyerempet rahasia kami. Lucu bener ekspresi mukanya. Sebentar lega, sebentar kaget, sebentar bingung jawabnya pakai kalimat muter-muter. Enjoy banget liatnya. 

.

Selesai makan, Sishy menarikku menjauh dari keramaian, akhirnya pura-pura ngajak jalan kaki entah kemana. Dia bilang ke mamanya mau minta anterin beli kue ke depan. Tapi aku tau niatnya cuma biar rahasia kami tetap terjaga dari keluarga besarnya.

Kami berjalan menyusuri gang berpaving, menuju ke sebuah minimarket yang letaknya lumayan jauh dari rumah gadis itu. Tapi dia sengaja menolak tawaran untuk pakai motor. Pasti biar lebih lama.

"Kak, bisa enggak sih nggak mancing-mancing kekepoan mereka?" Gadis itu bertanya kesal, setelah beberapa saat kami saling diam.

"Ya, tergantung situasi. Kalo kamu nurut, pasti jadi lebih enak." Aku menjawab datar. Beberapa orang yang rumahnya kami lewati melihat ke arah kami, mungkin langsung membicarakan di belakang seperti kebiasaan orang-orang.

Sishy mendengkus sebal. "Aku udah nurutin kakak tadi. Tetep aja dimaenin."

Aku mengulum senyum sambil berpaling kearah lain. Jujur, ada rasa kangen jalan bareng berduaan kayak dulu. Bedanya, dulu di koridor kelas, sekarang di alam bebas. 

"Oh ya, dulu enggak boleh pacaran karena kamu masih SMP. Sekarang kan udah SMA, masih nggak boleh?" tanyaku.

Sishy menoleh, lalu segera mengalihkan pandangan kearah lain. 

"Udah boleh."

"Jadi sekarang udah punya cowok?"

Dia terdiam sesaat. 

"Udah."

Aku menarik napas. 

"Dulu yang nggak bolehin kamu pacaran siapa?"

"Mama."

"Oh." Aku tersenyum. "Kalo sekarang, yang nggak bolehin Kakak."

Sishy mendelik.

"Putusin."

.

Next