bab 5


.

    Ternyata mereka bersiap pulang, Ayah yang nganterin. Aku bersandar di pintu mengamati mobil keluar halaman. Sempat kulihat Sishy yang duduk di bangku belakang, menunduk, mengetik sesuatu pada layar hapenya. 

Mobil menghilang di balik pintu pagar, bersamaan dengan datangnya denting notifikasi di layar hape. 

Aku membuka kunci layar dan menggeser notifikasi. Ternyata ada pesan WA dari Sishy.

'Mau kamar yang ada banyak bonekanya.'

Aku mengulum senyum. Lalu segera mengetik balasan.

'Boneka jelangkung?'

Datang lagi notifikasi dari nomor Sishy. Kali ini cuma emoticon marah. Aku tertawa kecil.

'Kan nggak tau boneka apa yang kamu suka. Belinya bareng, ya?'

'Dih, modus!'

'Minggu depan kakak jemput.'

'Ih, mau ngapain?'

'Beli boneka yang banyak.'

Tak ada lagi notifikasi balasan dari Sishy. Kuanggap itu sebagai jawaban iya. 

Aku bersiul sambil melangkah masuk ke kamar.

Kadang, doa memang nggak langsung dikabulkan sehari setelah kita minta. Tapi menjadi alur hidup yang terasa manis saat hari doa dikabulkan itu tiba. 

Dulu, aku pernah muter-muter nyari rumah Sishy berdasarkan petunjuk teman-teman sekelasnya. Cuma buat ngajak balikan dan janji nggak akan kasih ciuman lagi. Tapi setelah ketemu, ternyata rumahnya udah kosong. Sempat mikir seumur hidup nggak bakal ketemu lagi, dan sempat mikir juga kalo keluarga mereka pindah karena aku --walaupun bukan--, ternyata sekarang malah bakal serumah.

Love you, God lah!

***

      Minggu, sekitar jam 8 pagi aku berangkat ke rumah Sishy. Kebetulan Ayah juga lagi keluar sama calon istrinya, kayaknya lagi memastikan katering, pakaian dll. Dari pagi udah sibuk telepon sana sini sampai nggak sempat sarapan lagi.

"Ayah pergi dulu, Xan. Kemungkinan pulang malam," pamit Ayah sebelum melangkah keluar. 

"Oke, Yah." Aku menyahut santai.

Lalu bergegas mandi dan siap-siap berangkat ke rumah Sishy. Nggak lupa cek rekening dulu. Udah keluar ternyata nggak cukup duit buat beli boneka kan malu.

.

Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, mana cuaca panas banget pula, akhirnya sampai juga di rumah Sishy. Motor baru meluncur masuk halaman, saat kulihat gadis itu lagi megang sapu di teras rumah. Masih pakai piyama kucel, sementara rambutnya diikat asal-asalan. Berantakan banget asli. Untung manis. 

Dia kayaknya kaget setengah mati sampe-sampe sapunya dilempar ngasal. 

"Kak Xander?" serunya histeris.

Aku membuka helm dan sarung tangan hitam yang melindungi telapak tangan, lalu melangkah turun dan berjalan menaiki teras.

"Yaelah, belom mandi nih cewek." Aku menjitak kepalanya sekilas. 

Dia mengikutiku dengan pandangannya. "Kakak ngapain ke sini?" tuntutnya.

Aku mengangkat alis.

"Kan udah bilang mau ngajak beli boneka."

Dia mundur selangkah. Udah kayak takut ngeliat setan siang-siang.

"Tapi aku udah bilang enggak mau."

"Kenapa nggak mau?"

"Ya enggak mau aja."

"Pasti mau keluar sama pacarnya, ya?"

"Enggak, dih."

"Udah mandi sana!"

"Tapi aku enggak mau pergi sama kakak."

"Yaudah, kita di rumah aja."

"Ngapain?"

"Nanya melulu. Mandi sana!"

Sishy baru mau protes lagi saat tiba-tiba seraut wajah melongok dari dinding samping rumah. Ternyata Erine. "Tuh kan bener, pasti ada tamu kedenger suara motornya." Gadis itu nyengir.

Seraut wajah muncul lagi. Entah siapa namanya, lupa. 

"Kak Xander?" Yang satunya langsung meringis senang. 

Mereka berdua langsung melangkah ke teras rumah dengan tampang semringah. 

"Dateng ke sini mau ada acara apa memang, Kak? Kok Sishy nggak cerita," tanya Erine pengen tau.

Aku menoleh pada Sishy yang langsung cemberut menyadari kedatangan dua orang sepupunya itu.

"Mau ngajak Sishy beli boneka. Tapi kayaknya dia belum siap. Kamu aja ikut mau, nggak?" Aku bertanya.

Erine langsung melonjak kegirangan. 

"Mau, mau!"

"Aku juga mau!" 

"Kan aku yang diajak!"

"Tapi aku juga mau ikut."

Mereka jadi berisik sendiri, sementara aku menoleh ke arah Sishy yang mukanya melongo kaget liat reaksi mereka. Kemudian gadis itu menoleh padaku dengan tatapan sengit. 

"Aku tuh udah mau mandi loh!" Sishy langsung teriak kesel. 

.

Sikapnya masih sama kayak dulu. Cemburuan dan suka ngambek. Dan itu bikin aku jadi ngerasa ... masih sayang.

Aku menunggu Sishy di ruang tamu. Ditemani Erine dan satunya lagi, yang terus-terusan nanya tentang ini itu.

"Eh, ngomong-ngomong, kata Sisshy rumah Kakak di kota tempat tinggal dia dulu, ya?" Gadis itu menatapku. 

"Uh hm." Aku mengangguk.

"Jadi ... kemungkinan rumah Kakak deket juga dong sama mantan pacarnya Sishy waktu SMP dulu?" 

Aku tersedak, buru-buru ambil minum air dingin yang disuguhkan.

"Siapa namanya?"

"Enggak tau, Sishy nggak bilang namanya. Tapi dia nyimpen tuh fotonya di buku."

"Masa?"

"Ambil tuh, fotonya." Erine menyenggol pinggang gadis satunya. "Siapa tau Kak Xander kenal. Cinta pertamanya Sishy, tuh. Pas abis putus sampe nangis-nangis loh. Aku kan jadi kepo, siapa tau pas nanti acara nikahan mamanya Sishy kami bisa dateng ke rumahnya buat kasih tau."

"Kasih tau apaan?"

"Kalo Sishy belum bisa move on sampe sekarang."

"Wah, masa?"

"Ambil gih, fotonya." Gadis itu nyengir lebar. "Siapa tau Kak Xander bisa bantu mereka ketemu lagi. Kasian loh, putusnya gara-gara Sishy tau mau pindah."

"Aku udah pernah liat sih fotonya. Cakep kok. Hampir mirip Kak Xander mukanya."

"Cakep Kak Xander kayaknya."

"Iya, sih, dikit. Tapi mirip. Mata sama hidungnya mirip banget."

Aku mengangguk-angguk.

Mereka terus membahas mantan pacarnya Sisshy sampai nggak sadar Sishy sudah berdiri di belakang mereka. 

Wajahnya langsung jadi semerah kepiting rebus.

"Erineeee!!" 

.

Next