Bab 1


.

     Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, akhirnya mobil yang kami kendarai berbelok di halaman sebuah rumah. 

Rumah itu terlihat sederhana, bercat putih dengan pintu dan jendela warna hijau. Ada teras luas dengan beberapa tiang kecil sebagai penyangga, yang saat ini tampak ramai dipenuhi para penyambut tamu calon pengantin pria.

Ya, kami datang dalam rangka sebuah acara lamaran. 

Aku, yang mengenakan pakaian formal, segera melangkah di belakang Ayah yang lebih dulu berjalan. Di belakang kami, para pembawa seserahan terlihat sedikit kerepotan membawa banyak barang. 

Ayah disambut dengan hangat oleh pihak mereka, sementara aku hanya sesekali menganggukkan kepala dengan kedua tangan saling mengait di depan paha. Sungkan. 

"Ayo masuk, masuk!" Mereka mempersilakan dengan penuh kekeluargaan. Berderai tawa basa-basi yang entah untuk kalimat tak lucu yang mana.

Beberapa kali aku bertemu pandang dengan mata sang pengantin wanita. Wajahnya lumayan cantik, mungkin karena dia sedang memakai riasan juga, entahlah. Mengenakan pakaian berupa kebaya modern yang tidak terlalu mencolok warnanya. Rambut hitam tebalnya diikat rapi di belakang, dengan sebuah kalung berliontin sederhana yang menghiasi lehernya.

Dia langsung tersenyum manis ke arahku, tak kubalas. Kualihkan pandangan kearah lain, pada gerombolan anak-anak dan para gadis yang sibuk mengintip di sisi dinding sana. Yang seketika tersenyum-senyum sambil saling berbisik setelah tahu aku menatap ke arah mereka.

Kami dibawa masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan tertata rapi. Ada banyak kue, buah dan aneka makanan kecil yang terhidang di atas meja. Kursi-kursi berjajar, dengan satu lingkup utama sebagai tempat pihak pelamar dan terlamar saling berdiskusi nantinya. 

Calon pengantin wanita itu duduk berseberangan dengan kami. Diapit oleh orang-orang yang lebih tua. Wajahnya terlihat bahagia meski tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Aku menghela napas, karena tahu sebentar lagi akan memasuki sebuah sesi yang membosankan.

Setelah semua tampak siap, Ayah berdehem untuk memulai pembicaraan.

"Selamat siang, semuanya." Ayah mulai bicara. Mereka langsung menjawab dengan senyum semringah di wajah masing-masing. 

Aku menyandarkan punggung, mendengarkan lagu lewat earphone yang terpasang di telinga sejak di mobil tadi. Sementara Ayah sudah tenggelam dalam bahasan pernikahan dengan keluarga mereka. 

"Mau kemana, Xander?" Ayah sedikit menegur dengan tatapannya saat aku akhirnya memilih bangkit berdiri.

"Mau ke kamar kecil, Yah." Aku menjawab santai. 

Seseorang dari pihak pengantin wanita segera memberitahu di mana letak kamar kecilnya, dan aku tak terlalu peduli. Tujuanku hanya ingin pergi dari acara membosankan ini, itu saja.

Aku melangkah menuju ruang dalam. Furniture rumah terlihat serba kuno dan ketinggalan jaman, bedanya, di sini sangat rapi. 

Di dalam cukup luas, dan ada beberapa pintu yang membuatku harus memilih akan menuju ke arah mana. Orang tadi bilang toilet ada di dalam dapur yang pintunya paling ujung.

Aku menekan handel, lalu mendorong pintu bercat hijau itu dengan asal.

Seorang gadis yang sedang berkaca di depan cermin, langsung berbalik kaget. Melihat wajahku, dia semakin kaget. Sepasang matanya mendelik dengan mulut membentuk huruf O yang lebar.

Aku menyipit.

"Kak Xander?!" serunya tertahan.

"Sishy?" 

Tentu saja aku masih ingat wajah itu. 

Dia, patah hati terhebatku. Di masa SMP dulu. Cinta pertama, pacar pertama, sekaligus sakit hati pertama. 

Selama berbulan-bulan aku mengejar, sampai akhirnya kami berhasil jadian. Pengen buat moment romantis di hari valentine yang saat itu lagi rame-ramenya pembuktian cinta sama pasangan masing-masing. Di bawah rinai gerimis, setelah kasih setangkai bunga dan cokelat, aku mengecup bibirnya.

Pengalaman pertama, langsung berakhir tragedi. Karena bukan cuma ditampar, tapi juga langsung diputusin sepihak. Di depan banyak orang. 

"Kita putus!" teriaknya sambil melempar coklat dan bunga pemberian dariku.

"Kok putus?" Aku nanya heran. Abis dicium harusnya cewek-cewek langsung senyum malu terus pelukan. Ya kayak di film-film itulah. Tapi mungkin dia alien, nggak paham apa itu romantis-romantisan.

"Kakak otak mesum!"

Terdengar derai tawa dari teman-teman yang nonton kejadian na'as itu. 

Otak mesum, katanya. 

"Cuma cipokan kok mesum?" 

"Pokoknya putus!!" Dia teriak kayak orang gila. Sambil nangis pula. Lalu lari pergi gitu aja tanpa nunggu penjelasan selanjutnya. 

Aku ditantangin temen-temen, itu penjelasannya. Tapi besok, besoknya dan besoknya lagi, sampai aku lulus SMP, Sishy tetap nggak mau dengar. 

Hedeeh. 

Sudah lebih dari lima tahun setelah kejadian itu, kami sama sekali nggak pernah ketemu lagi, tapi tetap saja kadang masih teringat wajah Sishy dan gemes setengah mati. 

Kok ada ya cewek begitu? 

"Siapa yang ngundang kakak ke sini? Trus kenapa tiba-tiba masuk ke kamar aku? Nggak sopan banget!" Sishy langsung marah-marah dan mendorong bahuku biar aku keluar dari kamarnya. 

"Nak Xander? Sishy? Kalian udah saling kenal?" Seorang wanita paruh baya mendatangi pintu kamar Sishy. 

"Bude, dia kenapa bisa ada di sini?" Sishy langsung lari ke belakang punggung wanita itu. 

Wanita itu mengernyit menatap kami bergantian. "Dia kan ikut ke sini bareng calon ayahmu."

"Apa?" 

Aku dan Sishy saling pandang. 

.

Selanjutnya, acara itu tak lagi membosankan. Bisa kulihat di sebelah calon pengantin wanita, Sishy cemberut. 

Dan tibalah di saat pertanyaan itu dilemparkan pada kami.

"Jadi Nak Xander bagaimana? Setuju?" tanya lelaki yang menjadi perantara pembicaraan lamaran ini.

Aku mengangkat bahu, sambil melirik kearah Sishy penuh arti. "Ikut ayah ajalah," sahutku santai. 

Semua tersenyum lega. 

"Nak Sishy sendiri bagaimana?" Lelaki itu menoleh, bersamaan dengan tatapan yang lain ke arah gadis itu. Termasuk aku. 

"Aku ...." Sishy menggumam gugup. 

Sekali lagi pandangan kami bertemu. 

"Pasti setuju, dong!" Gadis-gadis yang sedang mengintip di balik dinding tiba-tiba nyeletuk. Lalu terdengar tawa cekikikan mereka.

"Kemaren-kemaren bilangnya nggak sabar pengen punya kakak cowok."

"Katanya pengen dijagain kakak cowok."

"Mau ngerasain kemana-mana bareng kakak cowok juga."

Seisi ruangan tertawa. Sishy tambah salah tingkah. Sementara aku mengangkat alis kearahnya.

"Pasti dijaga," ucapku penuh penekanan. "Adek sayang."

"Eaaak!"

"So sweet."

"Enak banget jadi punya kakak."

Sishy mendelik. Aku tersenyum setan. 

Di kepalaku terus terlintas satu kalimat itu. 

Hubungan pacaran memang bisa putus, tapi kalau hubungan kakak adik kan enggak. 

Iya, kan?

.

Next