Bab 3


.

     "Dih, apaan!" Sishy langsung protes. Kami saling menatap, lalu semburat merah kembali merebak di kedua pipinya. Membuatku seperti mengalami dejavu dari masa lima tahun lalu. 

Kembali teringat perjuanganku biar dia mau balikan. Dari ikut masuk ke kelasnya pas pelajaran dimulai lalu dijewer Bu Guru suruh keluar, nunggu di kantin sampe dikira mau ngutang, sampai nunggu di gerbang sekolah cuma biar bisa pulang bareng. Tapi tetap nggak dimaafin. Tega emang. 

Dulu, rasanya sakit banget, tapi sekarang malah jadi ... entah. Antara pengen ketawa ngakak sambil tutup muka. Malu-maluin sumpah. 

Mungkin Sishy juga kembali teringat kenangan-kenangan konyol itu, ada senyum tertahan di bibirnya yang langsung disembunyikan dengan melempar pandangan kearah depan, lalu jalan duluan.

"Shy."

Dia tak menjawab.

"Udah berapa lama pacaran?" Aku sedikit berseru karena tertinggal di belakang. 

"Sishy!"

Sishy menoleh, matanya menyipit marah. "Kepo!"

Gadis itu kembali berjalan mendahului.

.

     Menjelang sore, akhirnya rombongan kami pamit pulang. Terlihat mereka sibuk mempersiapkan kue-kue dan beberapa makanan sebagai oleh-oleh untuk dibawakan. Terasa sekali sikap hangat dan penuh kekeluargaan di antara mereka.  

Ayah berpamitan pada calon istrinya dengan tatapan bahagia. Apalagi saat wanita itu dengan sopan dan penuh cinta mencium punggung tangannya. 

"Nomor WA mana?" bisikku pada Sishy yang dari tadi mencoba menjauh, tapi selalu balik lagi karena paham bagaimana ekspresi wajahku ke arahnya. 

"Enggak punya." Dia cemberut.

"Hmm."

"Ck." Gadis itu mengerling malas. Putus asa kayaknya. Dengan terpaksa, dia mengambil hape yang kuulurkan dan mengetik nomornya di sana.

Setelah selesai acara perpisahan yang cukup makan waktu itu, aku melangkah menuju mobil, mendahului yang lainnya. 

Saat mobil mundur perlahan, masih kutangkap tatap mata Sishy, yang langsung pura-pura nggak liat saat aku melambaikan tangan dengan mesra ke arahnya. Sementara gadis-gadis sepupu Sishy langsung membalas lambaian tanganku dengan semangat yang menggebu-gebu.

Mobil kami meluncur keluar halaman dan pemandangan pun berganti dengan jalanan yang cukup ramai. 

Aku baru tahu ternyata Sishy pindah ke tempat ini. Pantas saja sekitar tiga tahun lalu aku mencoba mencari ke rumah lamanya, Sishy sudah tak ada di sana. 

"Gimana menurut kamu, Xan?" Ayah bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.

"Lumayan." Aku menyahut sambil mengalihkan pandangan keluar. 

"Kalau kamu benar-benar udah sreg sama calon pengganti bunda, bulan depan Ayah jadiin nikah dan resepsinya."

"Hmm." Aku menggumam sambil mengangguk saja. 

Tante dan Om dari pihak Ayah asyik bercakap di belakang. Semua terlihat antusias menyambut keluarga baru. Begitu pun aku.

Kembali terlintas wajah Sishy yang sekarang jauh lebih cantikan. 

"Oh ya, besok ... anterin undangan buat bunda, ya?" Ayah kembali memecah keheningan.

Aku menoleh, menatap ekspresi datar Ayah, kemudian mengiyakan karena tak bisa membantah perintahnya. 

***

      'Hei.'

'Shy.'

'Sishy.'

Aku mengirim pesan ke nomor Sishy. Centang biru, tapi tak dibalas. Mungkin lagi malam mingguan sama pacarnya. 

Sempat kepikiran buat ganggu, tapi entar ajalah eksekusinya. Jangan sampai dia malah bikin mamanya mundur dari pernikahan yang sudah direncanakan Ayah selama berbulan-bulan. Jujur, baru kali ini aku liat Ayah senyaman itu sama perempuan, semenjak kepergian Bunda sekitar tujuh tahun yang lalu. 

Jadi yang kulakukan malam ini hanya browsing tipe-tipe kamar cewek paling nyaman di internet.

***

     Hari Minggu, sesuai perintah Ayah, aku mengantar undangan pernikahan ke rumah Bunda. Aku pergi ke sana naik motor kesayangan. 

Setelah bercerai dengan Ayah, Bunda tinggal di sebuah kompleks perumahan yang cukup mewah. Jujur, aku jarang datang ke sini. Mungkin itu sebabnya semakin dekat semakin terasa debar dalam dada, dan bertambah mengencang saat motor besarku berhenti di sisi gerbang rumah bercat abu-abu itu.

Seorang asisten rumah tangga membuka pintu gerbang sebatas tubuhnya, mungkin cuma untuk melihat siapa yang datang. 

Aku membuka helm, baru kemudian wanita paruh baya itu menggeser pintu gerbang lebih lebar. 

Kembali kunyalakan mesin, lalu meluncur masuk ke dalam halaman berpaving yang cukup lebar itu. 

Ada sebuah kolam mungil di sisi depan teras, juga taman hias dan tempat duduk bersantai yang tampak asri.

"Bunda ada, Bi?" Aku bertanya setelah mematikan mesin motor, berhenti di sisi teras. 

Wanita yang masih memegangi sapu itu menggeleng. "Lagi keluar tadi, Mas." Dia menjawab sungkan. 

Aku menarik napas. "Jadi nggak ada orang di rumah, nih?" 

"Eng ... iya." Dia mengangguk meyakinkan.

Aku, yang bahkan belum turun dari motor, akhirnya tahu diri. Kembali kukenakan helm dan menyalakan mesin motor. Tapi sebelum meluncur keluar, aku sempat mendongak. 

Tirai yang tadi sempat tersingkap, langsung tertutup rapat.

Okelah, mungkin dia sibuk. Sibuk ngintip anaknya dari jendela kamar di lantai dua.

.

Next