bab 7


.

      "Itu pacar kamu?" Aku menyingkirkan boneka Teddy dari wajah Sishy. 

Sishy melotot kaget, lalu kembali menutupi wajahnya sambil nunjuk-nunjuk ke arah yang berbeda.

"Ish, bukan yang baru masuk." Sishy menggeleng gugup. "Ituuu!" Dia kasih kode lewat lirikan mata. 

"Kalian?" Tiba-tiba terdengar teguran suara yang cukup familiar di telinga.

Sishy langsung menunduk dan memeluk bonekanya. Sementara aku menoleh cepat. Mati, ternyata Ayah sama mamanya Sishy udah berdiri di belakangku. 

"Kok di sini?" Ayah nanya lagi. Kayaknya mulai curiga.

Tante Wini, mamanya Sishy, menatap kami bergantian tapi nggak bilang apa-apa. Atau mungkin juga dia masih coba nahan diri.

"Ehm, Kemaren, Sishy bilang mau kamar yang banyak bonekanya. Jadi ... kami cari boneka." Aku menjawab asal. Sambil menunjuk boneka yang digenggam Sishy dengan tatapan mata.

Sishy mendelik, nggak mau jadi tameng. "Kak Xander yang ngajak, Ma." Dia meringis takut-takut.

Tante Wini menarik napas, sementara Ayah masih menatap kami. Untuk beberapa saat, kami masih merasakan ketegangan itu, sampai akhirnya terlihat senyum lebar di wajah Ayah dan Tante Wini. 

"Wah, baguslah kalau kalian udah mulai akrab begini." Ayah mengangguk-angguk. "Ayo, Win, kita makan sekalian bareng mereka aja."

Tante Wini mengangguk setuju. Ayah segera menggeser kursi di dekat meja kami untuk bergabung, satu untuk Tante Wini satu lagi buat sendiri.

Selanjutnya, bisa dibayangin lah secanggung apa suasana kami di sana. Terpaksa ngobrol basa-basi sambil makan bareng.

Orang tua kadang nggak mikir emang, udah ngerusak moment romantis anaknya. Hedeeh.

.

      "Langsung anterin Sishy pulang, Xan!" Ayah berpesan penuh penekanan. 

"Iya, Yah." Aku menjawab. 

Kami berpisah di halaman parkir kafe setelah makan siang bareng. Mereka mau lanjut lagi ngurus tetek bengek rencana pernikahan. Tante Wini dengan wajah cerah ceria melambaikan tangan ke arah kami, lalu kaca mobil tertutup rapat. 

Di sampingku, Sishy menghela napas lega. Dia kembali memeluk erat bonekanya di dada. 

Kami saling menoleh, lalu tanpa sadar sama-sama mengulum senyum karena pengalaman yang cukup menegangkan barusan. 

"Shy."

"Apa?"

"Mau nonton, nggak?"

"Nggak!"

"Kok enggak?"

"Nggak mau di tempat gelap sama Kakak!"

Aku tertawa kecil.

Dia berjalan mendahului, aku menyusul di belakang. 

.

Perjalanan pulang, terasa sangat singkat. Mungkin karena kecepatan motornya, atau karena pegangan lengan Sishy sudah tak secanggung saat berangkat tadi. 

Motor berbelok memasuki halaman rumah sederhana itu. Aku mematikan mesin. Sishy turun dari jok motor, lalu berdiri di samping motor sambil berusaha buka helm. 

"Kakak langsung pulang, ya?" Aku berpamitan sambil mengulurkan tangan, membantunya melepas pengait helm.

Sesaat, tatapan kami bertemu. Sishy mengalihkan pandangan ke bawah, sampai akhirnya helm lepas dari kepalanya. 

Dia membenahi rambutnya yang sedikit berantakan. 

"Iya, hati-hati," ucapnya pelan. 

Aku mengulum senyum. "Foto yang mana yang masih disimpen?"

Dia mendelik malu. 

"Punya pacarnya cuma hoax apa serius, Shy?"

"Dah lah, Kakak pulang aja, buruan."

"Jawab dulu."

"Ish." Dia akan berbalik, tapi tangannya segera kutahan. 

"Bilang."

"Iya."

"Iya apa?"

"Itu."

"Shy."

"Cuma hoax."

Aku menahan senyum. "Biar apa bilang gitu?"

"Dih, apa sih. Udahlah Kakak pulang aja sana."

Dia menarik lengan hingga cekalan tanganku merosot ke telapak tangannya.

Sishy memandangi genggaman tangan kami, rona merah langsung menyebar di kedua pipinya. 

"Shy."

Dia mendongak. 

"Nggak kangen emang?"

***

      Ayah pulang ke rumah dengan raut wajah berbinar-binar. Ada kebahagiaan yang semakin nyata di wajah lelahnya.

Aku tau, selama kepergian Bunda, Ayah nggak begitu peduli dengan kebahagiaannya sendiri. Selalu sibuk kerja dan mendidik anak satu-satunya. Aku. Padahal kesibukan itu cuma buat menutupi kepedihan hatinya. 

Sekitar jam sebelas malam, aku terkapar di tengah ruangan kosong yang bau catnya masih menguar tajam. Coba VC Sishy tapi nggak diangkat-angkat, mungkin dia udah tidur. 

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Ayah melongok ke dalam, lalu membuka pintu makin lebar. Dari ekspresinya, kayaknya Ayah lumayan takjub sama pemandangan di dalam ruangan. 

"Kamu ngecat sendiri, Xan?" Ayah nanya.

Aku bangkit dari posisi telentang, lalu duduk dengan posisi kedua siku di atas lutut. "Iya. Sepulang dari rumah Tante Wini, langsung beli cat tadi."

Ayah mengangguk-angguk, sekali lagi dipandanginya setiap sisi dinding yang menjadi kombinasi perpaduan pink dan biru yang lembut. 

"Kamu udah coba chat atau telpon bunda?" 

Aku menoleh. Lalu terdiam untuk beberapa saat.

"Kadang nggak dibales. Jadi mending ke sana lagi besok. Siapa tau ada."

Ayah terdiam untuk beberapa saat.

"Yaudah lanjut aja. Sishy pasti seneng setelah pindah ke kamar ini." 

Aku mengangguk samar, lalu kembali memandangi hasil karyaku. Perlahan tersenyum, lalu mulai muncul pertanyaan itu.

Sebenernya ini kamar buat calon Adek, atau calon ... pacar?

'Met tidur.'

Pesan terkirim ke nomor Sishy. Centang biru. Lalu terlihat dia mengetik pesan balasan.

'Kakak juga ....'

Aku mengulum senyum, lalu mengempaskan punggung di lantai. Hilang sudah semua capeknya.

.

Next