Bab 1
Denting Sendok Tetangga


[Mas, punya uang tidak? Ibu sudah tidak masak sejak kemarin. Kita semua lapar. Kalau Mas punya uang, tolong kirimin ke rumah ya?]


Pening, langsung mendera kepala Ardian begitu membaca pesan yang datang dari nomor Budenya. Ia tahu pasti adik pertamanya yang mengirimkan itu, karena di keluarganya tidak ada yang memiliki handphone selain dirinya.


Benda pipih yang ada di tangannya pun ia beli secara bekas. Ia korbankan gaji pertamanya untuk membeli handphone. Semua itu ia lakukan agar orang rumah bisa menghubunginya dengan mudah. 


Ardian bekerja di sebuah Pabrik tahu. Gajinya hanya satu juta delapan ratus per bulan. Upah yang sangat minim, karena itu masih harus terpotong biaya kos, makan, sabun, dan semua keperluan lainnya. 


[Mas, bagaimana? Kenapa hanya dibaca?] 


Masuk pesan susulan dari adiknya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan ia sendiri juga belum makan sejak pagi. Bekerja dengan perut kosong, bersyukhur ia tidak pingsan saat mengangkat wadah berisi tahu yang besar-besar.


[Mas juga tidak ada, Dik.]


Terpaksa ia mengetik pesan itu dan mengirimnya. Tidak tega, tapi apa daya? 


Ia tidak memiliki uang sepeserpun. Hanya sedikit beras yang tersisa, ia irit irit supaya cukup sampai waktu gajian tiba. 


Tring! 


Bel masuk berbunyi, ia bergegas menyimpan handponenya ke dalam loker kemudian masuk ke dalam gedung. 


Sementara di belahan bumi yang lain, Ratusan ribu meter dari tempatnya bekerja. Adik sulung Adrian yang bernama Nina hanya mampu tercenung setelah membaca balasan dari kakaknya. 


Saat ini ia sudah tidak punya harapan lagi. Perut yang kian melilit semakin terasa sakit. Ia pergi meninggalkan rumah Budenya dengan langkah lunglai. Dari jalan ia bisa mendengar adik-adiknya menangis karena kelaparan. 


Diam diam Nina menghapus air matanya. Jalanan sepi, sehingga tidak ada satu pun orang yang melihatnya menangis. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia menarik napas berkali-kali untuk menetralkan suaranya. 


“Assalamu’alaikum ....” Salam ia ucapkan saat membuka pintu rumahnya. 


Melihat ia pulang, Ibu dan adik adiknya langsung berbinar. 


“Bagaimana, Nduk? Apa Masmu punya uang?” tanya sang Ibu. Nina hanya menggeleng samar. 


Mata Khadijah kembali sendu. Sekarang ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Sekilas matanya melirik suaminya yang tidur sejak pagi. Sementara delapan anaknya menangis karena kelaparan. 


Meminjam pada tetangga? Ia bahkan sudah merasa malu akibat hutang suaminya yang bertumpuk. Kini ia hanya berharap ada rezeki yang datang dari Tuhan. 


Ditengah rasa lapar yang mendera keluarga Khadijah, terdengar bunyi piring dan sendok yang beradu di rumah adiknya. Saat itu pula aroma bakso dengan bumbunya yang khas menguar kemana-mana. Khadijah yang mencium baunya hanya mampu menelan ludah. Jangankan bakso, ia bisa membeli beras dan garam saja rasanya sudah bersyukhur. 


“Bu, baunya kok enak banget. Itu bau apa ya?” tanya si kecil. Anaknya yang nomor enam. 


Mulutnya bungkam mendengar pertanyaan polos itu. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa itu adalah aroma bakso yang sangat lezat? Makanan yang tidak pernah keluarganya makan?


“Bu ... ini bau apa?”


“Ibu tidak tau, Sayang. Kamu nggak tidur?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Berharap anaknya berhenti bertanya dan tidur agar tidak berhenti merengek.


“Lapar, Bu. Nggak bisa tidur.” 


“Iya, Bu. Lapar.” 


“Sabar ya, Nak. Nanti kalau Ibu sudah dapat uang, Ibu akan masak nasi untuk kita makan bersama. Sabar dulu, ya.”


“Tapi sampai kapan, Bu?” 


“Sampai Tuhan memberikan kita makanan.”


“Memangnya Tuhan bakal ngasih kita uang ya, Bu?” Khadijah tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. 


“Iya Sayang. Tuhan akan memberi kita rezeki melalui seseorang. Jadi kita harus sabar menunggu kedatangan seseorang tersebut.” 


“Iya, Bu.” 


Tepat saat itu juga, tiba-tiba pintu rumah diketuk. Apakah itu adalah seseorang yang mereka tunggu?