Bab 6
Luka Dalam Diam

 

21 tahun yang lalu ....

 

Seseorang boleh saja pemaaf, tapi bukan berarti ia melupakan. Begitulah Khadijah. Hatinya dipenuhi luka selama bertahun-tahun pernikahannya. Sejak tahun pertama ia menikah, berbagai masalah datang bertubi-tubi.

 

Ia mengenal suaminya Raffi saat ia tinggal bersama ibu tirinya. Raffi adalah seorang laki-laki pemilik toko mushaf, tasbih, dan berbagai peralatan sembahyang lainnya. Toko milik pria itu juga menjual berbagai macam camilan.

 

Hari itu Khadijah sedang duduk di teras, dari tokonya Raffi bisa melihat kecantikkannya. Konon katanya Khadijah adalah bunga desa di kampung ibu kandungnya. Mungkin saat itulah Raffi jatuh hati padanya.

 

Sejak awal Khadijah selalu menolak, ia mengaku sudah memiliki tunangan saat Raffi mengutarakan niat untuk menikahinya. Demi menghindari pria yang terus mengejarnya itu, ia pulang ke rumah milik almarhum ibu kandungnya.

 

Ia pikir semuanya baik-baik saja, pria yang ingin menikahinya pasti menyerah. Namun ia salah, sepertinya tekad pria itu bulat. Ia datang ke kampungnya untuk mencari tahu kebenaran tentang tunangan Khadijah. Begitu tahu Khadijah tidak pernah memiliki tunangan, Khadijah dikejutkan dengan kedatangan pria itu ke rumahnya.

 

Layaknya wanita lugu lainnya, Khadijah terpesona dengan keberanian dan tekad pria itu. Jauh-jauh ia datang ke rumahnya untuk melamar.

 

“Harusnya, kalau kamu memang serius dengan Khadijah kamu datang ke sini bukan bersama seorang teman. Tapi dengan kedua orangtuamu.” Begitu jawaban ibu tiri Khadijah. Ayah dan Ibu kandung Khadijah sudah meninggal, satu-satunya yang tersisa sebagai orangtuanya adalah Nikmah, ibu tirinya.

 

Selang beberapa hari sejak penolakan itu, Raffi datang lagi. Kali ini ia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh orangtuanya. Maka terjadilah lamaran itu. Tidak lama setelah lamaran itu disepakati, Khadijah akhirnya resmi menjadi istri Raffi.

 

Baru beberapa hari pernikahan itu Khadijah jalani, emas-emas miliknya harus menginap di penggadaian. Uang hasil menggadaikan perhiasannya digunakan untuk membayar semua hutang-hutang Raffi. Khadijah baru tahu jika suaminya terlilit banyak hutang di masa remaja. Sebagai istri yang baik, ia merelakan emasnya digunakan sebagai jaminan.

 

Tidak disangka, niat baiknya sebagai seorang istri berbuah kebencian dari pihak keluarga Raffi. Mereka menyangka Khadijah lah wanita yang membuat Raffi terlilit begitu banyak hutang, padahal kenyataannya ia sedbagai seorang istri tak sedikittpun menikmati uang hasil pinjaman suaminya.

 

Wanita yang memang tidak pernah turun ke dapur selama hidupnya itu, awal pernikahan juga tidak menginjakkan kakinya ke tempat saudara iparnya memasak. Berawal dari gadis kurungan, introver yang tidak pernah berbaur dengan orang-orang. Khadijah sangat sungkan menyapa saudara-saudara iparnya. Apalagi sorot kebencian yang mereka tunjukkan perihal hutang tadi, Khadijah lebih nyaman mengurung dirinya di kamar.

 

Hari terus berlalu, Khadijah masih bertahan pada pernikahannya. Hingga akhirnya ia dan suaminya pulang ke rumah Khadijah. Mereka memutuskan tingal di kampung halaman Khadijah. Jauh dari saudara-saudaranya, jauh dari ibu tiri Khadijah. Raffi mengajakknya tinggal di rumahnya saja.

 

Di kampung halaman ia tinggal berdampingan dengan empat saudaranya yang lain. Khadijah merasa aman tinggal di dekat keluarganya. Hidup di atas tanah miliknya, juga rumah miliknya. Warisan dari almarhum kedua orangtuanya.

 

Khadijah tahu kehadiran Raffi dalam hidupnya tidak pernah disambut baik oleh keluarganya. Pria itu dibenci, karena dianggap sebagai laki-laki yang datang tanpa membawa apa-apa dan menghabiskan harta Khadijah di awal pernikahan.

 

Dua sejoli yang terbiasa hidup enak, kini harus mulai membanting tulang demi kelangsungan keluarga. Raffi dulunya tinggal di pondok pesantren, hidupnya tidak pernah memegang pekerjaan apapun selain memasak. Sehingga memasak adalah keahlian yang ia miliki.

 

Plak!

 

Plak!

 

Ada sandal yang tiba-tiba terbang mengenai wajah Khadijah yang sedang menyusui putra pertamanya, Ardian. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Raffi? Pria ringan tangan yang menjadi suaminya.

 

“Oeeek! Oeeek! Oeekkk!” Anak kecil itu menangis. Lagaknya ia terkejut, ataukah dia tahu ibunya sedang disakiti?

 

“Perempuan kep*r*t!"