Bab 5
Secercah Harap

 

“Ar, maaf ya. Gara-gara aku kaki kamu jadi nggak bisa jalan tanpa tongkat untuk sementara,” ucap Anton. Ardian tersenyum samar.

 

“Tidak apa, Ton. Masih untung kita selamat,” jawabnya. Tabrakan motor yang terjadi membuat kakinya tertimpa motor keras. Mau tak mau ia harus berjalan menggunakan tongkat untuk sementara. Sama halnya dengan Anton. Pria itu malah lebih parah, sebelah tangannya dipasang gif.

 

Ardian tidak memiliki uang sepeserpun, tetapi untung saja ada BPJS yang menanggungnya. Malam itu keluarga Anton mengantarnya pulang ke kos-kosan. Sebelum itu mereka mampir ke ATM untuk mentanfer uang kepada Ibunya.

 

Anton yang meminjaminya uang 200 ribu. Ardian sempat meminta pinjaman sebelum kecelakaan. Kini ia bisasedikit tenang karena Ibu dan adiknya tidak akan kelaparan lagi.

 

Besok ia tidak bisa berangkat bekerja, malam ini ia ingin beristirahat. Tapi otaknya tertarik memikirkan tawaran anton untuk menulis novel.

 

Laki-laki itu bilang jika ia bisa membuat novel dan mengunggahnya di aplikasi hijau maka akan ada kemungkinan dirinya bisa mendapatkan uang lebih. Apalagi jika cerita itu diminati banyak orang, ia bisa membantu melunasi hutang-hutang ayahnya. Sehingga uang hasil buruh cuci ibunya bisa digunakan untuk makan. Bukan untuk membayar hutang lagi.

 

Meluruskan kakinya di atas kasur tipis, ia meraih handphone yang sedikit retak akibat kecelakaan tadi. Tapi untung saja masih bisa ia gunakan. Ardian langsung menyibukkan dirinya untuk mempelajari tentang aplikasi hijau itu.

 

Semalaman ia berkutat di sana, sampai akhirnya ia mengerti bagaimana cara aplikasi itu beroperasi. Detik itu juga ia mulai menulis novel, ia tuliskan kisah hidupnya di sana. Lelah juga rasa sakit akibat kecelakaan itu membuatnya tertidur. Handphone di tangannya jatuh ke atas kasur.

 

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam saat seseorang mengetuk pintu rumah Nina. Gadis itu berjalan keluar, membuka pintu, dan melihat anak dari budenya berdiri di sana.

 

“Ada apa, Mbak Fina?”

 

“Masmu kirim dua ratus ribu. Baru saja ia chat di hp ibuku.”

 

“Mas Ardian?”

 

“Iya.”

 

“Terima kasih ya, Mbak. Aku akan beritahu ibuku.”

 

“Sama-sama. Ya sudah, aku langsung pulang ya.”

 

“Iya, Mbak. Terima kasih.”

 

Setelah Fina pergi, Nina langsung mencari Ibunya. Ia berlari ke belakang ingin memberitahu ibunya. Tapi gadis itu tidak menemukan ibunya di dekat sumur.

 

“Ibu!” serunya karena tidak menemukan sang Ibu.

 

“Iyaa!” sahut ibunya. Di sana ia tahu bahwa ibunya sedang ada di ‘belakang’.

 

“Ada apa, Nina?”

 

“Mas Ardi mengirim uang 200 ribu, Bu,” tuturnya bersemangat.

 

“Ya sudah, kamu ambil ya. Nanti belikan beras satu kilo sama telur seperempat. Sisanya kamu simpan dulu. Ibu mau lanjut mencuci.”

 

“Iya, Bu.” Nina pun berlalu. Ia pergi berjalan kaki untuk pergi ke sebuah link yang jaraknya cukup jauh. Lima belas menit ia baru akan sampai di toko yang memiliki link tersebut.

 

Setelah kepergian Nina, Khadijah mulai mencuci pakaian yang baru ia terima. Penuh semangat ia mencuci, berharap besok bisa kering dan dia akan mendapatkan upahnya. Tangannya sangat cekatan, dalam waktu singkat semua pakaian sudah tercuci bersih. Ia menjemurnya di samping rumah. Di sana ada tempat khusus untuk menjemur pakaian pakainan itu.

 

Tanpa peduli dengan pening dan sakit di keningnya, Khadijah memeriksa kembali tempat ia menyimpan pakaian-pakaian yang sudah kering. Ia melipat pakaian yang baru saja ia angkat dari jemuran. Tadi sore pakaian itu masih dingin, ia tidak bisa mengangkat dan mengantarnya. Setelah dilipat dan di bungkus, ia meletakkannya bersama pakaian dua bungkus pakaian lainnya.

 

Dua bungkus pakaian itu tadinya sudah ia antar ke rumah pemiliknya, sayang sekali rumahnya tutup. Tidak ada siapapun di sana, hal itu pula yang membuat anak-ananya menangis kelaparan. Mungkin ini bagian dariujian kehidupan.

 

“Oeeek ... oeeekkk ... oeekk ....” Sepertinya Dika menangis. Nino datang sambil menggendong adiknya yang baru berusia dua tahun untuk diberikan padanya.

 

“Bu, Dika nangis terus. Aku nggak tahu kenapa.”

 

“Ya udah sini, kamu bantu Ibu mengisi Air di belakang ya. Tempat wudhunya kosong, setelah selesai kita shalat berjamaah.”

 

“Iya, Bu.” Khadijah tersenyum melihat putranya langsung pergi ke belakang. Ia bersyukhur, meski ia memiliki suami yang begitu kasar, egois, dan arogan. Tapi ia memiliki anak-anak yang begitu menyayanginya. Suatu saat mereka akan memberinya kebahagiaan yang tidak terukur.

 

‘Semoga,’ batinnya penuh harap. 

 



Nb : Teruntuk dirimu yang mengatakan cerita ini adalah tahayul dan tidak mungkin terjadi di kehidupan sekarang. Mohon maaf, saya katakan Anda main kurang jauh. 



'Hanya karena kisah itu tidak terjadi pada hidupmu, bukan berarti kisah itu tak pernah ada.' 

~Arzaderya