Bab 6. Tiba di Tangah Padang
💚Selamat Membaca💚


Rombongan Roslaila akhirnya tiba di tepi padang savana yang luas terbentang di depan sana. Orang sana menyebutnya tangah padang. Padang luas yang ditumbuhi oleh rumput ilalang yang cukup rimbun dan tinggi. Bunga-bunga ilalang yang putih seperti kapas, memanjang di pucuk tangkainya bergoyang-goyang ditiup angin.


Pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi tumbuh tersebar, jarak antara satu pohon ke pohon lainnya sangat berjauhan. Pemandangan yang terhampar di hadapan mereka tampak menyegarkan, karena sejauh mata memandang yang tampak hanya padang rumput yang hijau berlekuk-lekuk sesuai dengan kontur tanah. Batu-batu besar turut meramaikan padang rumput itu, menambah indah pemandangan.


Niek Biku sangat hapal daerah itu. Dimana dia dan suaminya lewat sehingga terbentuk jalan setapak yang hanya mereka berdua yang tahu. Jika ada yang tahu, mungkin hanya beberapa orang saja. Tangah padang itu sangat luas, karena kondisi tanah yang naik turun dan semuanya ditumbuhi rumput ilalang yang tinggi dan rapat, membuat pondok Niek Biku tidak bisa terlihat dari kejauhan.


Matahari sudah lewat dari sepenggalah dan terus merangkak naik ketika mereka berjalan membelah padang rumput. Angin sepoi-sepoi membelai lembut wajah mereka. Bayi Roslaila sepanjang perjalanan tidak pernah rewel. Sesekali mereka berhenti dan menunggu Roslaila menyusui bayinya sambil duduk di atas batu. Isnein secara bergantian digendong oleh Rosidah dan Rosminah. Si kecil Hero tampaknya paling tidak merasa kelelahan dibanding dengan yang lainnya. Badannya yang kecil membuatnya ringan untuk berjalan.


Serelah berjalan cukup jauh ke tengah padang, barulah mereka melihat sebuah pondok, di sampingnya tumbuh pohon perdu yang tidak terlalu tinggi. Berbagai tanaman sayuran tumbuh di sekelilingnya.


"Kita sudah hampir sampai, itu pondoknya." Niek Biku mengarahkan jari telunjuknya ke pondok itu. Semuanya tersenyum penuh kelegaan. Mereka yang tadinya merasa letih, seketika mendapatkan energi ekstra untuk bisa secepatnya tiba di pondok itu.


Langkah mereka semakin dipercepat lagi dan akhirnya tibalah mereka di pondok kecil dari papan itu. Di depannya terdapat sebuah bale dari bambu. Tanpa dikomando semuanya langsung menghempaskan bobotnya ke atas bale bambu itu. Beristirahat setelah beberapa jam perjalanan yang ditempuh.


Niek Biku membuka pintu pondok dan membersihkannya. Pondok itu walaupun kecil tapi berbentuk panggung juga meski tidak tinggi. Lantai yang terbuat dari papan itu sudah dibersihkan dan digelar tikar oleh Niek Biku.


"Kalian masuklah ke dalam pondok dan beristirahat," seru Niek Biku.


Roslaila dan kedua adiknya masuk ke dalam pondok. Ditidurkan bayinya di atas tikar. Isnein dan Hero memilih bermain-main di parit kecil yang berair jernih di depan pondok. Suara air di parit itu terdengar sedikit bergemericik karena alirannya cukup deras walaupun paritnya tidak dalam.


Niek Biku dan Niek Sori sudah sibuk di samping rumah untuk memasak. Di sana memang telah disiapkan tungku sedari dulu oleh Gaek Sanjo, untuk keperluan memasak selama mereka tinggal di pondok dalam rangka berkebun dan bertanam padi.


Sawah mereka tidak jauh dari pondok. Gaek Sanjo sendiri yang membuka sawah itu di tangah padang. Di sekeliling pondok ditanami pohon singkong dan kacang panjang. Di dalam pondok juga ada simpanan gabah sisa hasil panen. Mereka cukup memiliki persediaan makanan selama mengungsi di sana.


***


Sementara itu di rumah Niek Malik, Zebaidah undur diri setelah dirasa cukup mengobrol. Mita ditinggal di rumah Niek Malik. Dengan wajah sedih Mita duduk di atas tikar. Mita kembali teringat dengan orang tua dan ketiga adiknya. Dia mulai menangis tersedu.


"Diaam! Jangan menangis di sini!" bentak Niek Malik setelah kembali ke dalam rumah. Suaranya yang keras membuat Mita tersentak kaget. Mita segera mengusap kedua pipinya yang telah basah oleh air mata. Wajahnya yang memelas itu tampak takut melihat wajah garang Niek Malik.


"Di sini Kau indak boleh bermanja-manja! Indak boleh cengeng! Lihat apak Kau, kami telah mendidiknya hingga menjadi seorang yang kuat dan hebat. Kau harus meniru apak Kau tu," ucap Niek Malik sembari menajamkan sorot matanya.


"Sekarang ikut ke dapur! Lihat dan bantu Niniek Kau ini memasak!" seru Niek Malik. Mita dengan takut-takut berdiri dan mengikuti Niek Malik ke dapur.


"Lihat! Begini caranya menggiling cabai!"


Niek Malik memberi contoh cara menggiling cabai di atas cobek berbentuk bulat pipih yang terbuat dari batu kali. Beberapa tangkai cabe merah keriting dipatah-patahkan lalu diletakkan di atas cobek, kemudian ditaburi garam. Sebuah batu bulat sebesar genggaman telapak tangan diletakkan di atas cabai itu. Kemudian kedua telapak tangan Niek Malik menangkup erat batu bulat itu, lalu menggerakkannya ke depan dan kebelakang secara berulang kali sehingga cabai itu tergilas oleh batu yang digerakkan itu. Jika tidak hati-hati jari-jari tangan bisa terkena cabe yang sudah tergilas sehingga membuat jari itu terasa panas.


Hanya sebentar saja Niek malik memberikan contoh cara menggiling cabai. Mita disuruh meneruskannya. Padahal di dalam baskom kecil itu masih banyak cabai merah yang belum digiling.


"Yang keras nekannya Mita!" bentak Niek Malik. Wanita tua itu seakan tidak mau tahu bahwa yang diajari itu adalah seorang gadis cilik yang memiliki telapak tangan yang mungil dengan tenaga yang minim.


Susah payah Rosmita menggiling cabai sedikit demi sedikit, kadang potongan cabai itu ada yang terpental dari cobek dan kembali Mita mendapatkan omelan dari Niek Malik.


Mita menggiling cabai sambil berurai air mata, menahan rasa panas di jemari tangannya dan juga menahan rindu kepada maminya. Selama ini Mita belum pernah disuruh melakukan pekerjaan berat di rumah. Mita hanya diminta maminya menjaga kedua adiknya, Hero dan Isnein.


"Ingat Mita, cabai itu harus halus sekali bahkan biji-bijinya juga harus tergiling dengan halus, tidak ada yang boleh tampak itu biji cabai!" titah Niek Malik lagi. Mita semakin kepayahan menggiling cabai yang begitu banyak dan harus lembut sampai biji-bijinya.


"Mita sudah lelah Niek, boleh istirahat sebentar?" pintanya takut-takut.


"Mana boleh! Lihat itu masih banyak cabai yang belum Kau giling. Jika ditinggal lama-lama, cabai itu bisa tidak segar lagi!" larang Niek Malik sambil melotot.


Dengan wajah sendu Mita kembali menggiling cabai-cabai itu. Napasnya mulai terengah-engah dibuatnya. Air mata telah berganti peluh yang membanjiri pelipis dan wajahnya.


Niek Malik tetap tidak peduli, dia asyik mengaduk santan di atas tungku. Rupanya dia mau memasak gulai. Dan cabai yang telah digiling itu selain untuk sambal, juga untuk dijadikan bumbu gulainya.


Dengan susah payah Mita terus menggiling cabai, membuat perutnya kembali terasa lapar. Dia tidak sabar menunggu waktu makan siang tiba.


Akhirnya setelah berjibaku di dapur bersama Niek Malik, selesai juga mereka memasak. Mita membantu wanita tua itu menghidangkan semua makanan di atas tikar di ruang tengah.


Beberapa masakan, sambal dan sebakul nasi telah terhidang tanpa ada yang terlewat. Tiga piring kaleng telah tersusun di depan Niek Malik. Mita duduk bersimpuh agak jauh dari Niek Malik. Gaek Malik pun telah duduk bersila di posisinya. 


Niek Malik mengambil piring dan mengisinya dengan nasi kemudian disodorkan kepada suaminya. Lalu dia mengambil piring lagi dan mengisinya dengan nasi kemudian diletakkannya di depannya. Terakhir dia ambil piring dan mengisinya dengan sesendok nasi kurang, lalu menyerahkannya kepada Mita. Nasi yang diberikan untuk Mita terlalu sedikit.


Mita menerima piring jatahnya makan, bahkam lauk dan sayurnya pun Mita tidak boleh mengambil sendiri, semua diambilkan oleh Niek Malik.


Tidak butuh waktu lama Mita telah menghabiskan makanannya yang ada di piring. Namun perutnya masih terasa lapar. Mita hanya diberi makan sedikit oleh Niek Malik. Dia ingin menambah lagi makannya.


"Niek, boleh Mita nambah makannya?" pinta gadis cilik itu dengan takut-takut.


"Tidak, anak kecil tidak boleh makan nasi banyak-banyak. Nanti bodoh!" sahut Niek Malik dengan ketus.


Wajah Mita yang penuh harap tadi seketika meringis, batinnya dipenuhi oleh pertanyaan, 'Betulkah banyak makan nasi bisa bikin bodoh? Aku tidak mau jadi anak yang bodoh.'


Akhirnya gadis cilik itu berusaha menahan sisa rasa lapar di perutnya. Dia hanya bisa menelan ludah ketika melihat Niniek dan Gaeknya menyantap makanan dengan lahap.


Bersambung


Hai Kakak Pembaca, yuk ikuti terus kisah ini. 
Jangan lupa untuk subscribe dan komen ya, terima kasih. 🤗🤗😘



Akhirnya setelah berjibaku di dapur bersama Niek Malik, selesai juga mereka memasak. Mita membantu wanita tua itu menghidangkan semua makanan di atas tikar di ruang tengah.


Beberapa masakan, sambal dan sebakul nasi telah terhidang tanpa ada yang terlewat. Tiga piring kaleng telah tersusun di depan Niek Malik. Mita duduk bersimpuh agak jauh dari Niek Malik. Gaek Malik pun telah duduk bersila di posisinya. 


Niek Malik mengambil piring dan mengisinya dengan nasi kemudian disodorkan kepada suaminya. Lalu dia mengambil piring lagi dan mengisinya dengan nasi kemudian diletakkannya di depannya. Terakhir dia ambil piring dan mengisinya dengan sesendok nasi kurang, lalu menyerahkannya kepada Mita. Nasi yang diberikan untuk Mita terlalu sedikit.


Mita menerima piring jatahnya makan, bahkam lauk dan sayurnya pun Mita tidak boleh mengambil sendiri, semua diambilkan oleh Niek Malik.


Tidak butuh waktu lama Mita telah menghabiskan makanannya yang ada di piring. Namun perutnya masih terasa lapar. Mita hanya diberi makan sedikit oleh Niek Malik. Dia ingin menambah lagi makannya.


"Niek, boleh Mita nambah makannya?" pinta gadis cilik itu dengan takut-takut.


"Tidak, anak kecil tidak boleh makan nasi banyak-banyak. Nanti bodoh!" sahut Niek Malik dengan ketus.


Wajah Mita yang penuh harap tadi seketika meringis, batinnya dipenuhi oleh pertanyaan, 'Betulkah banyak makan nasi bisa bikin bodoh? Aku tidak mau jadi anak yang bodoh.'


Akhirnya gadis cilik itu berusaha menahan sisa rasa lapar di perutnya. Dia hanya bisa menelan ludah ketika melihat Niniek dan Gaeknya menyantap makanan dengan lahap.


Bersambung


Hai Kakak Pembaca, yuk ikuti terus kisah ini. 
Jangan lupa untuk subscribe dan komen ya, terima kasih. 🤗🤗😘
", ]; document.getElementById( "render-text-chapter" ).innerHTML = `

${myData}

`; const myWorker = new Worker("https://kbm.id/js/worker.js"); myWorker.onmessage = (event) => (document.getElementById("render-text-chapter").innerHTML = event.data); myWorker.postMessage(myData); -->
Komentar

Login untuk melihat komentar!