Bab 2. Sembunyi di Dalam Lubang
đź’›Selamat Membacađź’›


"Uni, janganlah pingsan di sini! Kita harus secepatnya pergi!" pekik Rosidah yang takut kakaknya jatuh pingsan. Mendengar teriakan adiknya, Roslaila segera terkesiap dan tersadar bahwa dia harus segera berlindung bersama anak-anaknya dan kedua adik perempuannya.


"Uni! Ayo kita ke rumah Niek Biku aja. Di bawah rumah panggungnya ada lubang yang bisa dipake untuk bersembunyi," ucap Rosidah.


Rosminah dengan cepat mengambil si kecil Isnein dari gendongan kakaknya. Dia berniat membantu menggendong Isnein, tidak tega melihat kakaknya yang tengah hamil tua itu. Rosidah mengambil bakul yang terjatuh di tanah, memasukkan kembali beberapa helai baju yang sempat terserak, lalu menyandangnya dengan tangan kanannya. Tangan kiri Rosidah menggandeng tangan kecil Hero.


"Tapi Apak sama Ande bagaimana? Di mana mereka sekarang?" tanya Roslaila dengan perasaan cemas.


"Apak tadi belum pulang dari sawah, sedangkan Ande dari tadi memang sedang mengunjungi rumah Niek Biku," ucap Rosminah adik bungsu Roslaila.


Mereka akhirnya berbelok ke arah kanan, di jalan setapak berbatu yang menurun sambil berjalan tergesa. Mereka tidak bisa berlari, karena keadaan Roslaila dengan perutnya yang besar itu, jangankan untuk lari, bisa berjalan cepat saja sudah kesusahan.


Jalanan berbatu itu berbelok-belok menuruni bukit di sisi lainnya. Roslaila dengan perutnya yang buncit nampak kepayahan dan terengah-engah. Sesekali mereka berhenti agar Roslaila bisa beristirahat sejenak untuk mengambil napas.


Akhirnya tepat di waktu Maghrib mereka tiba di rumah Niek Biku. Niek Biku dan ande mereka, segera menyambut dengan wajah cemas.


"Kalian tidak apa-apa? Ayo cepat masuk!" perintah Niek Biku dari atas serambi rumah panggungnya. Mereka dengan tergesa menaiki tangga rumah panggung itu.


Setelah di dalam rumah, ande segera menutup pintu yang terbuat dari papan itu.


"Ande dengar, rumah kita dibakar orang, betulkah itu? Di mana Apak, dua adik lelaki kalian dan menantuku Malik?" tanya ande mereka dengan wajah tegang.


Tiga wanita kakak beradik itu masih nampak tersengal-sengal napasnya. Rosmita menangis karena kelelahan dan juga ketakutan.


"Mita! Hhh ... hhh ... berhenti menangis!" bentak maminya masih dengan terengah-engah. Rosmita tersentak kaget dan seketika berhenti menangis.


"Kami tidak apa-apa Mak, hhh ... hhh ... kami tidak tau dimana mereka berada. Saat itu di rumah hanya ada ambo dan Minah. Maaf, kami tidak sempat menyelamatkan baju dan barang-barang berharga kita," jawab Rosidah.


"Sudahlah, jangan dirisaukan soal harta benda. Yang terpenting adalah kalian selamat." Ande Sori berusaha menenangkan hati ketiga putrinya.


"Yang ande pikirkan sekarang adalah nasib apak, kedua adik laki-laki kalian dan Malik menantuku. Semoga mereka semuanya selamat dan dalam lindungan Allah," ucap Ande Sori dengan wajah sendu.


Niek Biku datang menjinjing cerek lurik dan beberapa gelas yang terbuat dari batok kelapa yang dibelah dua yang diserut hingga halus, mereka menyebutnya galuek. Niek Biku menuangkan air yang ada di dalam cerek lurik ke galuek, lalu menyodorkannya kepada Roslaila.


"Minumlah, Laila ... Kau pasti haus. Kasihan bayi yang ada dalam perutmu," ucap Niek Biku. Roslaila segera menerima galuek itu dan meminum air yang ada di dalamnya hingga habis.


"Kalian, ambillah sendiri minum untuk kalian!" perintah Niek Biku kepada kedua adik Roslaila. Mereka segera mengambil galuek dan mengisinya dengan air minum.


"Niek Sori, Mita haus ...." rengek gadis kecil itu.


"Hero juga haus ...." Adiknya Mita ikut menimpali. Dengan sigap Niek Sori langsung mengambilkan minum untuk kedua cucunya. Sedangkan Isnien sudah diberi minum sendiri oleh Roslaila.


"Niek Biku, Gaek Sanjo mana?" tanya Rosidah yang sedari tadi tidak melihat keberadaan suaminya Niek Biku.


"Gaek Sanjo tadi pergi ke surau sebelum kalian datang," jawab Niek Biku.


"Ayo, cepatlah kita Sholat Maghrib! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini," ajak Niek Biku.


Mereka segera berjalan beriringan menuju pintu belakang dan kembali menuruni tangga menuju pincuran kecil di belakang rumah untuk berwudhu.


Setelah selesai menunaikan Sholat Maghrib, tiba-tiba terdengar suara tembakan di kejauhan dan semakin lama suara itu semakin keras dan terasa dekat. Mereka mulai didera rasa ketakutan, saling pandang dengan wajah tegang.


"Ayo kita masuk ke lubang!" Tiba-tiba Niek Biku berteriak. Mereka langsung berdiri dan berjalan dengan tergesa menuju pintu belakang dan menapaki satu persatu anak tangga yang menurun itu. Roslaila nampak semakin kepayahan. Dia berjalan sambil memegangi perutnya yang buncit.


Tiba di bawah rumah panggung itu, Niek Biku membuka pintu kandang yang terbuat dari bilah bambu. Di bawah rumah panggung itu memang dibuat pagar dari bilah bambu yang mengelilingi tiang-tiang penyangga panggung. Walaupun tidak ada binatang ternak di bawah situ, tapi mereka tetap menyebutnya kandang.


"Ayok cepat kita masuk ke dalam kandang!" perintah Niek Biku. Suara tembakan semakin sering dan terdengar sangat keras membuat jantung-jantung mereka berdegup dengan kencang.


Satu persatu mereka memasuki pintu kandang. Pagar bambu yang mengelilingi kandang itu tersusun jarang-jarang sehingga dari luar masih bisa terlihat semua yang ada di dalam kandang. Suasana Maghrib yang belum memasuki gelapnya malam, membuat mereka masih bisa melihat keadaan sekitarnya.


Langkah kaki mereka tiba di bagian tengah kandang, terlihat lubang berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu luas. Lubang itu sedalam kira-kira satu setengah meter. Sengaja dibuat oleh Gaek Sanjo untuk tempat bersembunyi jika dalam keadaan bahaya. Di bibir lubang bersandar tangga yang terbuat dari bambu.


Rosidah lebih dahulu turun ke dalam lubang kemudian disusul Mita dan Hero. Rosidah memegangi kedua anak kecil itu agar tidak jatuh saat meniti tangga. Rosminah mengulurkan si kecil Isnein ke Rosidah dan langsung disambut oleh Rosidah, lalu digendongnya Isnein dengan tangan kirinya. Rosminah menyusul turun, kemudian Roslaila dengan hati-hati dan perlahan juga ikut menuruni tangga bambu itu. Setelah itu baru Niek Biku yang turun, disusul dengan Ande Sori.


Mereka duduk saling berdekatan di dalam lubang. Hari semakin gelap di luar, apalagi di dalam lubang. Anak-anak Roslaila mulai rewel karena tidak nyaman berada di dalam lubang yang gelap gulita. Susah payah Roslaila dan kedua adiknya menenangkan tiga bocah itu.


"Kalian jangan menangis! Nanti jika kalian berisik, kita bisa kena tembak oleh orang-orang itu!" ucap Roslaila dengan penuh penekanan. Akhirnya karena takut mendengar ancaman maminya, ketiga anak itu berhenti menangis.


Suara tembakan mulai reda, saat terdengar suara langkah-langkah kaki menaiki tangga rumah panggung yang terbuat dari papan itu. Tak lama terdengar suara pintu rumah yang digedor dengan keras berulang kali. Membuat suasana di dalam lubang semakin mencekam. 


"Dobrak saja pintunya! Siapa tahu mereka ada di dalam. Cari di semua sudut rumah itu!" teriak seorang lelaki yang berada di bawah tangga.


Dua orang lelaki yang menggedor pintu itu akhirnya menuruti perintah orang yang berteriak tadi. Mereka langsung mendobrak pintu dan menerobos masuk ke dalam rumah panggung itu. Dari dalam lubang mereka bisa mendengar suara hentakan-hentakan sepatu yang berasal dari lantai papan di atas mereka.


"Rumah ini kosong, ayo kita cari lagi ke tempat lain!" teriak dua lelaki itu setelah keluar dari rumah Niek Biku tanpa menemukan siapapun di dalamnya. 


Suara itu dengan jelas bisa terdengar oleh mereka yang ada di dalam lubang. Dengan cepat tangan Rosidah menutup mulut Isnein karena takut anak kecil itu bersuara atau menangis.


"Apa perlu kita bakar rumah ini?" tanya seorang lagi. Membuat Roslaila, Niek Biku, Niek Sorry dan kedua adik Roslaila seketika membelalakkan mata mereka dan berhenti bernapas untuk beberapa saat, karena sangat takut mendengar ancaman terbakarnya lagi keluarga mereka.


"Sudahlah tidak perlu! Membuang waktu saja! Sebaiknya kita cepat mencari ke tempat lain!" teriak seseorang yang sepertinya pimpinan mereka.


Tiba-tiba perut Roslaila terasa mulas. Dia mulai meringis menahan sakit sambil mengusap-usap perutnya. Tubuhnya mulai bergerak-gerak dengan gelisah, hembusan napasnya terdengar jelas dan cepat, karena dikeluarkan dari mulutnya seperti sedang meniup-niup.


"Laila ... Kamu kenapa? Jangan-jangan Kamu mau melahirkan?" tanya andenya dengan berbisik.


Roslaila tidak menjawab, dia semakin meringis menahan sakit, tidak berani mengaduh karena takut didengar oleh orang-orang yang masih berkeliaran di luar sana. Roslaila yang duduk bersandar di dinding lubang mencoba meluruskan kakinya yang terasa amat pegal. Niek Biku duduk mendekat ke sisi Roslaila. Dia memijat bahu Roslaila, untuk menenangkannya.


"Huuf ... huuf ... Ande, Laila sudah tidak tahan lagi ... huuf ... huuf ... sepertinya ambo akan melahirkan .... " ucap Roslaila sambil berbisik diiringi hembusan napasnya yang cepat, menahan kontraksi di perutnya yang semakin cepat datang.


"Tenang Laila ... tenang ... jangan panik! Ande sama Niek Biku akan membantumu. Jika memang Kamu harus melahirkan di sini, tidak mengapa," bisik andenya.


Anak-anak Mita hanya bisa tertegun, menatap polos maminya. Ande lalu menyuruh putri sulungnya itu untuk merebahkan tubuhnya. Roslaila kemudian tidur terlentang di dasar lubang yang hanya beralaskan tanah. Kepalanya berada di atas pangkuan andenya. Niek Biku dengan tenang menekuk kedua kaki Roslaila.


"Jangan khawatir, Laila. Niek Biku dulu sering membantu dan menemani ande Kau melahirkan," ucap Niek Biku berusaha menenangkan hati Roslaila.


Bersambung


Akankah Roslaila melahirkan di dalam lubang? Yuk ikuti terus kisahnya.

Jangan lupa untuk subscribe ya, terima kasih.













", ]; document.getElementById( "render-text-chapter" ).innerHTML = `

${myData}

`; const myWorker = new Worker("https://kbm.id/js/worker.js"); myWorker.onmessage = (event) => (document.getElementById("render-text-chapter").innerHTML = event.data); myWorker.postMessage(myData); -->
Komentar

Login untuk melihat komentar!