31
31


     Keesokan harinya di markas Bintang Biru atau lebih tepatnya di dalam ruangan megah nan mewah, terlihat boss besar terbelalak seakan tak percaya saat mendengar laporan dari wakilnya beserta kepala medis Bintang Biru bahwa satu personil Hurricane Army yang menyerang pasukan operasi Genosida kemarin adalah Super Perfect. Kepala medis menjelaskan dengan detil mengenai ciri-ciri Super Perfect jika berhasil  diterapkan dan profilnya ternyata sama persis seperti sosok di dalam foto kiriman dari medan perang via satelit dimana sekarang ini foto tersebut ada dalam genggaman tangan kanan boss besar. Di foto itu terlihat jelas sosok Lydia yang sudah bertransformasi menjadi Super Perfect, sedang mencibir dan mengacungkan jari tengah…

“Berarti Patrick sudah berhasil membuat serum Super Perfect?” Tanya boss besar kepada Kepala Medis Bintang Biru,
“Saya yakin tidak seperti itu boss. Bidang Patrick itu mechanical robotic. Tidak mungkin bisa membuat serum”, jawab Profesor Medis
“Kalau begitu bagaimana penjelasannya sampai mereka bisa membuat Super Perfect?”
“Saya memperkirakan prajurit super HA(Hurricane Army) itu adalah salah satu percobaan kita yang berhasil bertahan hidup. Saya tadi bertanya ke komandan Xander dan ternyata memang ada laporan serangan terhadap truk pengangkut mayat setahun lalu. Kemungkinan besar dari situ awalnya”

“Sebentar, saya tahu laporan itu, tiga prajurit kita tewas dan itu memang ulah HA karena tak terlacak sama sekali. Tidak ada pasukan yang mempunyai tim seperti itu kecuali kita dan HA. Tapi anehnya mengapa mereka menyerang truk mayat? Buat apa? Tidak mungkin mereka sebelumnya tahu kalau di dalamnya ada hasil percobaan Super Perfect dan ada yang masih hidup. Di dalam analisa laporannya juga disebutkan kalau HA menyerang truk hanya karena dendam ke kita, hanya kebetulan saja truk kita bertemu mereka di tengah hutan. Yang lebih aneh lagi, tim dengan tehnik sangat tinggi seperti itu sebenarnya tidak mungkin bergerak sangat dekat dengan jalanan. Mereka lebih nyaman kalau jauh dari jalanan karena lebih aman. Terus bagaimana penjelasan logisnya kalau asal prajurit super perfect HA itu dari truk pengangkut mayat kita?”

     Komandan Xander yang juga wakil dari boss besar menjawab, 

“Begini boss, perkiraan skenario yang paling masuk akal sampai saat ini adalah, pada saat itu mereka mengira truk tersebut membawa logistik bahan makanan atau senjata reject dan diserang. Maksudnya, mereka ingin merampok isi truk. Tapi setelah diperiksa, ternyata isinya mayat dan ada satu mayat yang masih bisa bertahan, kemudian dibawa”. 

     Mendengar penjelasan tersebut Boss besarpun menghela nafas sangat dalam,

“Okelah sangat masuk akal. Tapi begini Prof, ini artinya Super Perfect HA itu dari kita. Apa kita tidak bisa melacak atau bagaimanalah, karena sudah terbukti kalau ada satu yang berhasil bertahan?” Xaan bertanya kepada kepala medis yang juga pimpinan proyek Super Perfect,

“Saya sudah melacak begitu mendapat informasinya kemarin. Untuk asal-usul tubuh tersebut saya tidak tahu karena hanya menerima saja. Sedangkan untuk proses, semua anggota tim sudah saya perintahkan untuk membuka seluruh file untuk melacak dari mulai awal penelitian sampai ke tubuh percobaan terakhir. Hasilnya nihil dan tidak ada satu tahappun yang memperlihatkan adanya kejanggalan yang tidak biasa dengan proses. Ini artinya ada keunikan khusus pada tubuh tersebut sehingga proses maupun sistem tidak bisa mendeteksi. Dan keunikan itu juga yang menjadi jawaban mengapa sampai detik ini kita belum berhasil” 

Xaanpun manggut-manggut mendengar penjelasan kemudian bertanya lagi, 

“Jadi kita harus bisa merebut tubuh itu, supaya tahu mata rantai Super Perfect kita yang belum ketemu?”
“Kalau boss bisa melakukan seperti itu, saya jamin hanya dalam setahun, target kita untuk memusnahkan ras selain ras kita akan tercapai”

     Xaanpun menghela nafas dalam lagi kemudian menyandar sambil berpikir bersamaan dengan suara ketukan di pintu, terbuka dan masuklah komandan pusat ruang komando Bintang Biru, salut hormat dengan wajah sangat tegang kemudian melapor,

“Siap! Maaf boss, tim genosida kena perangkap dan sekarang sedang kewalahan! Mohon arahan komando!”

     Bagai mendengar petir di siang bolong karena baru pertama kalinya dalam sejarah kalau pasukan Bintang Biru bisa kewalahan bahkan sampai terperangkap, boss besar terperanjat dan lari menuju ruang komando diikuti sang wakil beserta kepala medis Bintang Biru. Ketika sampai di depan layar besar pencitraan satelit, boss besar menatap dengan sangat tajam, mempelajari situasinya kemudian menjelajahi seluruh area untuk mencari jalan keluar bagi timnya yang sekarang sedang terdesak akut oleh perangkap Hurricane Army.

     Sambil terus berpikir mencari jalan keluar, di monitor besar utama saat ini sedang menampilkan tayangan pertempuran sangat sengit dimana puluhan robot tempur Bintang Biru yang berada di garis paling depan terlihat seperti kebingungan menghadapi prajurit super Hurricane Army yang bergerak sangat cepat, lincah, melompat-lompat, salto, berlarian kesana-kemari ngga jelas tapi sesekali menendang, memukul dan menggeprak robot tempur jika ada kesempatan. Sedangkan serangan tembakan maupun roket RPG dari Pasukan Hurricane Army pimpinan komandan Daniel yang berposisi di dalam hutan terus menerus menghujani seakan hendak membanjiri posisi pasukan Bintang Biru dengan peluru maupun mortir. Akibatnya, karena para robot tempur teralihkan konsentrasinya ke prajurit super, maka barisan prajurit Bintang Biru kewalahan akut menghadapi serangan frontal pasukan Hurricane Army dan ketika komandan Bintang Biru yang memimpin operasi memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur teratur, yang terjadi malah ledakan di sana sini karena sebelumnya tim bomber Hurricane Army sudah memasang berbagai macam ranjau berdaya ledak tinggi dan ditanam tepat di area belakang pasukan Bintang Biru. Maka yang terlihat saat ini di monitor besar ruang pusat komando Bintang Biru adalah pemandangan yang sangat mengenaskan dimana beberapa robot tempur dan belasan prajurit tergeletak tak berdaya tanpa nyawa terkena ledakan ranjau.

“Berapa jam lagi Android kita tiba di lokasi?” Tanya Boss besar dan komandan Xander melihat jam di tangannya,

“Maksimal 120 menit boss”
“Terlambat. Tim Jackson bisa habis”, 

     Boss mengambil head phone komunikasi untuk memberi perintah ke medan pertempuran. Setelahnya, begitu menerima perintah dari boss besar, komandan grup Genosida Bintang Birupun segera melaksanakan dengan mengorbankan beberapa robot tempur untuk lari di atas medan ranjau guna membuka jalan menuju tebing dimana terdapat satu celah sempit. Beberapa menit kemudian, setelah berhasil membersihkan jalur dari berbagai macam ranjau, pasukan Bintang Birupun mundur teratur menuju celah sempit tersebut, masuk dan bertahan total sambil menunggu datangnya dua android canggih kiriman dari markas pusat. 

     Dilain pihak, karena melihat pasukan Bintang Biru mundur dan berlindung di celah sempit, pasukan Hurricane Armypun bergerak maju untuk mengepung dengan Lydia yang berada di depan semua pasukan. Pertempuranpun semakin sengit, segala macam amunisi dimuntahkan, korbanpun berjatuhan terutama di pihak Bintang Biru dan karena tidak bisa memunculkan senjata apapun, Lydia menggunakan apa saja yang ada di sekitaran untuk dilemparkan.