06
06


     Mendengar Roddart berkata seperti itu, bak mendengar petir di siang bolong, di barisan tengah tampak Lydia yang tadinya diam santai tiba-tiba terperanjat, berdiri dengan wajah merah padam, berteriak dengan tangan kiri menunjuk Roddart, 
“Heh, Whedduss!!! Kau aja yang berangkat sana!!! Jangan korbankan Ruben!!! Brengsek kau!!!” Mata memerah berkaca-kaca dan om Pedro segera berdiri untuk mendatangi, merangkul sambil menenangkan Lydia yang terengah-engah karena saking emosinya. Sesaat Rubenpun mendatangi juga, jongkok memegangi lutut Lydia yang sudah duduk dan berusaha menenangkan,
“Lydia, jangan terlalu emosi. Nanti kepalamu sakit lagii”, Ruben mengingatkan dan Lydia langsung merangkul sambil terisak,
“Ben, ayoo, kita pergi aja dari sini. Biar anjing itu aja yang pimpin kota inii”
Ruben menghela nafas, “Aku maunya juga bergitu. Tapi kan ngga bisa begitu saja. Harus dibicarakan dengan semua warga karena mereka termasuk kamu yang menginginkan aku jadi pemimpin kota”
“Iyaa, tapi aku sudah ngga tahan. Aku kepikiran keselamatan Diego sama Suzaaan”
“Ya sudah, sekarang kamu pulang aja ya? Aku takut nantinya kamu malah jatuh sakit. Setelah ini selesai semua, aku ke rumah”
Lydia mengangguk, Ruben menatap om Pedro,
“Om, saya minta tolong antar Lydia pulang ya?”
“Iya, sudah sana. Nanti aku balik lagi. Ayo Lydia”, Om pedro mengajak keluar dan menggendong Suzan.

     Jam sepuluh lebih dikit sekali, ketika Ruben datang ke rumah Lydia, terlihat Diego sedang duduk termenung di tangga teras depan. Rubenpun mendatangi kemudian duduk di sebelahnya,
“Kok bengong? Ada apa? Kakakmu mana?” 
“Ada di kamar, sama Suzan. Bang, gimana keputusannya? Apa kita jadi ngungsi?”
“Belum. Tolong panggilin kakakmu”
“Sebentar dulu bang, aku mau tanya. Kenapa sih Lydia sekarang tambah emosian? Tambah aneh. Dulu ngga separah ini”
Ruben menghela nafas, “Begini Go, sebagai saudara laki-laki, kau harus ngerti, harus sabar, harus kuat. Kalian bertiga ini sangat terpukul ketika papa dan mama meninggal. Tapi khusus untuk kakakmu, selain terpukul, dia juga tiba-tiba di beri beban untuk menjaga kamu dan Suzan. Sebenarnya kakakmu itu belum siap. Tapi mau ngga mau harus terima kenyataan. Itu yang bikin dia jadi tambah emosian. Kaunya juga, kurangi bandelmu itu. Apa ngga kasihan sama kakakmu?” 
“Iya bang. Tapi pelitnya itu lho. Kadang-kadang ngga tahan aku”, 

     Diegopun berdiri, berbalik dan masuk ke dalam rumah untuk memberitahu kakak pelitnya. Sesaat Lydia muncul, duduk di sebelah Ruben, tetap di tangga teras, merebahkan kepala di pundak Ruben.
“Gimana keputusannya Ben? Jadi ngungsi?”
“Belum. Kita belum jadi ngungsi”
“Gimana sik? Informasinya kan sudah sangat jelas. Perbandingan resikonya juga sudah sangat jelas. Apa lagi siih pertimbangannya?”
“Tadi aku juga berdebat keras dengan Roddart. Akhirnya dia minta diambil voting. Hasilnya, 65% tetep minta informasi akurat terlebih dahulu tentang Bintang Biru”
“Sialan, kalau dia sih aku maklum. Dia itu sebenarnya kan hanya peduli sama kekayaan dia doang. Tapi sebenarnya apa sih yang ada di otak yang lainnya? Apapun hitungannya, ngga sebanding jika itu menyangkut keselamatan nyawa kita”
“Aku nggak tahu. Aku juga baru paham sekarang, bagaimana harta benda bisa mengubah cara pandang seseorang dan menempatkannya paling atas, bahkan di atas keselamatan nyawanya sendiri”
“Ya sudah, kamu mundur aja. Biar Roddart yang mimpin kota”
“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kalau aku mundur, sepertinya aku ini meninggalkan gelanggang. Meninggalkan semua warga. Aku ngga bisa seperti itu”
“Tapi kamu kan juga ingin mengungsi secepat mungkin. Ayoo, serahkan saja semuanya ke Roddart. Kita pergi dari sini. Om Pedro juga setuju kok kita ngungsi. Ngga pa pa di Klanth nanti kita mulai dari awal lagi. Kita pasti bisa Ben. Katamu Klanth kan tanahnya sangat subur, bahkan lebih subur dari sini”
“Ngga bisa sesederhana itu sayaang. Semua sistem yang ada dikota ini, mayoritas aku yang rancang terutama masalah keamanan termasuk langkah-langkah cepat jika ada keadaan darurat. Kalau aku tiba-tiba menyerahkan ke Mulyono atau siapapun dan terjadi keadaan darurat, pasti panik. Karena ini menyangkut 10 ribu jiwa lebih”
Lydia menghela nafas sangat dalam, “Terus gimana ini langkah selanjutnya?”
“Kamu yang sabar aja ya? Yang penting, aku akan cari informasi lagi secepatnya. Mungkin besak atau lusa aku akan cari informasi lagi”
“Ke Mehzut?” Wajah Lydia terlihat sangat khawatir,
“Ya Nggak lah. Terlalu besar resikonya kalau ke sana. Rencananya aku akan cari penduduk atau siapa saja yang sempat selamat dari serangan Bintang Biru. Katanya sih mereka yang sempat selamat, ngungsi sejauh mungkin. Ada yang paling dekat sekitar 300 kilo dari sini ke selatan”
“Oo, tapi jangan lama-lama. Aku nih kadang takut kalo kamu lagi ngga ada. Takut kalo ada apa-apa”
“Iyaa. Eh ngomong-ngomong, kalau ngga salah, tadi itu aku sempat denger adanya sebuah informasi yang sangat akurat dan akuntable. Menurut keterangan dari informasi itu, katanya barusan ada yang panen buah”, kata Ruben, menyindir, senyum sambil memandang indahnya gemerlap bintang-bintang di langit sementara yang disindir dimana awalnya memasang muka sangat serius untuk mendengarkan langsung berubah menjadi manyun berat, berdiri dan masuk ke dalam. Sesaat datang lagi, masih tetap manyun sambil membawa piring besar. Rubenpun senyum menatap piring besar, beranggotakan buah apel dan jeruk, masing-masing berjumlah satu biji.
“Harus hemat”, Kata Lydia kemudian bertanya sambil mengupas buah apel,
“Kamu kemarin habis berantem sama prajurit Hurricane Army?”
“Iya. Tapi aku maklum. Mereka itu sangat waspada. Sangat menjaga keberadaan pasukan. Aku berani bertaruh kalau saat ini mereka pasti sudah bergerak lagi karena posisinya sudah ada yang tahu”
“Seperti apasik mereka itu? Suombong banget. Masak cuman ditanyak nama aja ngga mau jawab”
“Mereka itu ya seperti prajurit biasa. Hanya saja ciri-cirinya di bahu kanan seragam ada badge lambang mereka. Aku juga sempat dengar yang berkelahi denganku itu dipanggil Jap. Aku salut, kagum sama dia. Jago juga duelnya”
“Kamu menang?”
“Imbang, karena setelah yakin dengan niat baikku, mereka sangat humble”
“Apasik lambang mereka?”
“Honey Badger”
“Haa? Luwak? Musang?”
“Iya”
“Oo, awas kalau ketemu”
“Emang kamu mau apa kalau ketemu mereka?”
“Mau ta maki-maki, ta sumpah-sumpahin. Sebel aku. Sombong banget. Dimintain tolong ngga nggubris. Sialan. Kalo perlu ta ludahin aja sekalian biar tahu rasa”
“Heh! Jangan begitu. Walau begitu, mereka itu baik. Dan juga menurut kabar, mereka itu ternyata satu-satunya milisi yang masih berani melawan Bintang Biru sampai saat ini. Sedangkan yang lainnya sudah ngga ada kabar lagi, ngga tahu entah pada kemana”
“Ck ah, pokoknya kalo ketemu mo kukata-katain, titik”, Lydia menyerahkan hasil kupasan dan dimakan abis tuntas tak tersisa…