26
26


     Hari-hari berikutnya di markas Hurricane Army terlihat ada peningkatan kesibukan yang sangat tajam di bagian Sains dan medis dimana dua bagian ini saling bahu membahu, berupaya keras semaksimal mungkin untuk menyempurnakan hasil percobaan mutakhir Hurricane Army yang merupakan lanjutan dari program Super Perfect Bintang Biru. Para personil, baik itu dari bagian medis maupun dari bagian sains hilir mudik bolak balik terkadang dorong-dorong peralatan entah itu alat medis atau sains dari ruangan satu ke ruangan lainnya hingga pada akhirnya, tepat tiga bulan berikutnya Lydia sudah terlihat seperti prajurit normal lainnya, mondar-mandir di area markas, entah itu ke bagian medis, ke bagian sains maupun ke ruang pusat komando untuk melapor ke komandan Daniel karena telah resmi menjadi anggota Hurricane Army dengan pangkat Sersan Dua. Disamping itu, terkadang di waktu senggang karena tidak ada jadwal ujicoba maupun latihan, Lydia berkeliling, berkenalan dengan para personil, beberapa akhirnya menjadi teman akrab dan karena sifat Lydia yang easy going dimana terkadang seenaknya sendiri, ini membuat seluruh personil Hurricane Army melihatnya hanya seperti seorang prajurit pemula biasa walaupun tahu bahwa Lydia itu sebenarnya adalah prajurit super. Bahkan ada beberapa personil terutama prajurit cowok yang terkadang mengolok-olok, memanggil anak mami karena Lydia memang sangat manja kalau ke Laura.

     Singkat cerita, terhitung enam bulan semenjak uji coba pertama diadakan, saat ini di dalam suatu ruangan khusus terlihat Lydia yang sudah seperti perempuan dengan fisik sempurna sedang melatih gerakan cyborg dipadu dengan beraneka ragam ilmu bela diri seperti karate, judo, tae kwon do, jiujitsu, aikido, kung fu, wing chun, tai chi, capoeira, pencak silat, parkour, sumo, debus dan lain sebagainya. Sebuah sansak tampak menjadi korban dari semua gerakan bela diri dan bila diamati lebih seksama, ada sesuatu yang tidak normal karena sansak setinggi empat meter dengan diameter satu meter itu terbuat dari logam utuh seberat enam ton. Tampak setiap kali Lydia menendang maupun memukul, timbul percikan di titik benturan dan Sansak dari besi utuh itu terlihat mengayun-ayun kencang kesana-kemari dan gompal-gompal bin cuil di semua sisi akibat tendangan, terjangan maupun pukulan. Tak berapa lama, ketika sedang serius menendang dan memukul terdengar bel ruangan berbunyi. Lydia segera menghentikan latihan, menangkap sansak supaya berhenti mengayun karena itu pertanda seseorang akan masuk ke ruang latihan khususnya dan senyum lebar ketika melihat Laura masuk sambil membawa nampan untuk makan siang.

“Lauknya apa mom?” Tanya Lydia, bergegas ke arah Laura sambil menyeka peluh dengan handuk dan meminum air jeruk peras. Laura membuka penutup nampan, tampak sekumpulan nasi ditemani oleh grup tahu tempe beserta lalapan dan sambal matang plus lauk kesukaan yaitu ayam crispy pedas.
“Asiik. Mom, suapin”
“Ah kamu ini, ayo cepet”, Kata Laura kemudian menyendokkan nasi plus lauk ke mulut Lydia…
“Kenapa? Ada apa?” Tanya Laura melihat Lydia mengunyah sambil bengong,
“Mom, apa aku ini masih bisa punya keluarga? Punya suami, punya anak”
Mendengar itu, walaupun hati Laura menangis tapi wajah tetap senyum, 

“Kenapa ngga bisa? Emangnya apa yang ada di pikiranmu?”
“Mana ada cowo yang mau sama aku mom. Aku inikan setengah robot, sudah gitu, monster lagi”
“Huss! Kamu ngga boleh ngomong gitu! Tanamkan dalam hati dan pikiranmu, kalau kamu ini hanyalah manusia biasa! Sama seperti manusia normal lainnya! Ngga beda! Hanya saja, kamu itu dikaruniai setitik kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa!” Laurapun marah dan menatap tajam, 

“Tapi kan kenyataannya memang seperti itu mooom”, kata Lydia, menunduk sambil mengunyah-ngunyah kemudian menghela nafas dengan wajah sedih.

     Tak sadar mata Laura berkaca-kaca mendengar perkataan Lydia karena terharu dan ikut terbawa sedih karena paham akan situasi psikologis Lydia dimana sebenarnya adalah sosok perempuan yang sangat polos, dulunya bekerja dengan mengelola kebun apel dan jeruk warisan papanya di sebuah kampung kecil dan juga mengasuh kedua adiknya dan tak pernah sedikitpun terbayangkan kalau sekarang ini akhirnya menjadi prajurit super Hurricane Army. Laurapun berpikir keras untuk bisa menjaga agar psikologis Lydia tidak drop dan akhirnya menasehati,

“Kamu itu lho non, ngomong kok kayak ngga punya Tuhan aja. Jangan lupakan Dia. Walaupun bagi kita itu tidak mungkin, tapi bagi Tuhan, itu semudah seperti membalikkan telapak tangan”
Mendengar perkataan ibunya, Lydia mengangkat dagunya dan menatap, kali ini terlihat sorot mata yang berubah sedikit cerah,

“Gitu ya mom?”
“Ngga percaya? Buktinya ya sekarang ini, kamu punya tangan dan kaki lagi. Masih inget kan dulu, aku pernah bicara menawarkan untuk ikut membantu mencari jawaban kenapa kamu masih hidup sementara semua yang kamu sayangi sudah ngga ada? (Lydia mengangguk). Ya ini ternyata jawabannya. Tapi aku sama sekali ngga membayangkan kalau jadinya seperti ini non. Dulu itu aku sempat berpikiran bahkan sudah ngobrol dengan ndan Patrick untuk membuatkan kaki dan tangan palsu tapi yang dibekali dengan elektronik, pake batere yang bisa di cas atau gimanalah yang penting kamu bisa melakukan kegiatan walaupun sangat ringan seperti jalan, bisa makan sendiri dan mandi sendiri. Aku berpikir kalau itu bisa dilakukan, akan sangat membantu kondisimu, fisik maupun psikis. Aku bener-bener ngga mengira kalau yang terjadi malah sejauh ini. Komandan Daniel juga pernah bilang kalau sebenarnya ada keraguan waktu berpikir mengenai ide ini. Disamping pasti membutuhkan dana yang sangat besar, komandan Daniel juga tahu kalau kamu ini sebenarnya ngga ada profil sama sekali untuk menjadi prajurit. Kata dia, walaupun seumpama dulu itu kamu normal punya tangan sama kaki tanpa ada unsur Super Perfect, pasti ditolak kalau ingin bergabung dengan Hurricane Army. Terus siapa coba yang menggerakkan semua ini kalau bukan Tuhan?”

Mendengar penjelasan ibu angkatnya, airmata Lydia mengalir,

“Iya mom. Ternyata Tuhan itu baik sekali ya mom? Tuhan sayang sama aku. Makasih ya mom”
“Iyaa, makanya terus berdoa. Kamu ini istimewa non. Saaangat istimewa. Jangan sampai putus harapan. Harapan itu terbentang sangat luas bagi orang yang tidak pernah menyerah dan tidak pernah putus asa”
“Iya mom, tapi kapaan ya?”
“Kapan apanya?”
“Ya yang tadi mom, punya suami, punya anak”
“Hi hi hi hi”, Laura tertawa, “Kamu ini nooon non, maunya langsung instan. Semua itu butuh proses, kemudian butuh penyesuaian dan pengenalan. Siapa tahu besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau mungkin nanti habis ini, siapa tahu?”

“Ah mom”, raut wajah Lydiapun berubah menjadi senyam senyum sambil bengong membayangkan perkataan momnya bila menjadi kenyataan. Membayangkan pangeran pujaan hati, berjalan bersama sambil menggandeng dua buah hati mereka dan bel ruangan berbunyi lagi, pintu terbuka dan masuklah Patrick sambil membaca sebuah catatan dan mengelus-elus pitaknya,

“Ha ha ha ha ha ha!!” Laura dan Lydia tertawa bareng
“Apa sih?” Tanya Patrick
“Ngga ada apa-apa, ada perlu apa ke sini?” Tanya Laura
“Aku mau tanya ke Lydia, senjata utamanya sudah dipilih apa belum, biar langsung kukerjakan”
“Sudah ndan, samurai aja, dua biji. Jadi samurai kembar. Kalo bisa warnanya yang silver. Trus gagangnya berbalut putih. Ntar abis latihan ini tak kasik tauk contonya”, Jawab Lydia

“Samurai? Apa ngga lebih baik pedang saja?”
“Kalau pedang, ngayunnya ngga enak. Memang hantamannya mantep, tapi ngayunnya ngga enak. Trus kalo dipake kecepatan tinggi ke segala arah, ngga bisa luwes. Geter mulu, ngga bisa stabil. Kalo samurai, bisa luwes, bisa stabil. Bisa stabil karena melengkung. Melengkung itu kalo dipake ngayun, mbelah udaranya berurutan, jadi ngga bersamaan. Itu yang bikin ngga geter ndan”

     Mendengar penjelasan Lydia, Patrickpun manggut-manggut kemudian tanpa ngomong apapun, langsung balik badan keluar ruangan. Laura dan Lydiapun hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya,
“Oo dasar ilmuwan sedeng!”
“Huss!”