03
03


     Pada akhirnya, saat jam di dinding balai pertemuan menunjukkan pukul 10 lebih banyak, pertemuan seluruh wargapun selesai dengan keputusan mencari informasi seakurat mungkin untuk kemudian mengambil keputusan besar yaitu mengungsi atau tidak dari kota Mardam. Seluruh warga tampak berjalan keluar dari balai pertemuan sambil ngobrol serius dan Ruben terlihat berjalan sambil menggendong Suzan yang tertidur. Ada semacam perasaan bersalah karena melihat sang kekasih berjalan menjauh di depan kemudian berusaha membarengi langkah dan menggandeng tangan akan tetapi sang kekasih sudah terlanjur bete plus ngambek hingga beberapa kali menepis tangan Ruben yang bermaksud untuk menggandeng,
“Kamu masih marah?” Tanya Ruben dan Lydia hanya diam membisu, 
“Maaf kalau aku tadi membentakmu. Aku benar-benar minta maaf”
Lydia menghela nafas, “Mau bantu menguatkan pendapat, malah dibentak”, melengos ke arah lain, matapun mulai berkaca-kaca,
“Iya, aku tahu maksud kamu. Tapi ini masalah seluruh warga. Kalau terus berdebat, apalagi tadi Roddart ngga terima, mau sampai kapan kita bisa ngambil keputusan”
“Tapi ngga usah bentak kayak gitu! Udah gitu, di depan banyak orang lagi!” Lydia mempercepat langkah mulai mewek dan menghapus airmata. Rubenpun mempercepat langkah,
“Iya, aku salah. Aku minta maaf. Aku menyesal tadi membentakmu sayaang, aku bener-bener minta ma aaf”

     Sesampainya di rumah, setelah meletakkan Suzan di tempat tidur, mereka berdua duduk di teras depan rumah dengan Situasi dan kondisi belum kondusif alias masih diem-dieman. Sesaat Ruben menoleh, senyum ke Lydia, 
“Aku minta maaf. Tapi kamu tambah cantik lho kalo lagi ngambek”
Lydia melengos lagi, “Ya buat aja ngambek teross”
“Ha ha ha ha! Betul itu, mulai besok kubuat ngambek terus ya?”
Lydia menoleh dan melotot, Ruben tertawa lagi. Bersamaan dengan itu seorang laki-laki paruh baya membuka pagar dan masuk. Dia adalah Pedro, adik kandung dari papa Lydia yang rumahnya berselisih satu tembok alias dempet bersebelahan,
“Silahkan om”, Ruben mempersilahkan om Pedro untuk duduk di kursinya dan dia sendiri masuk ke dalam untuk mengambil bangku.
“Apa sik om?” Tanya Lydia karena om Pedro menatap ke dirinya sambil geleng-geleng kepala,
“Kamu ini lho, apa ngga bisa menghormati yang lebih tua? Roddart itu sepantaran dengan om. Hanya lebih muda tiga tahun”, Pedro menasehati tentang kejadian di tempat pertemuan barusan.
“Tapi aku nih ga suka kalo dia memaksakan kehendak, om. Dia itu maunya semua harus ikut pemikirannya tanpa melihat dari sudut pandang lain. Harus dari sudut pandang dia. Itu yang paling aku ngga suka. Maksud aku, kalo bisa, lihatlah dari berbagai macam sudut. Supaya bisa mengambil keputusan yang paling pas dan tepat”
“Tapi apa harus pake mengumpat segala? Ngatain tolol?”
Lydiapun terdiam sambil manyun dan om Pedro melanjutkan ngomel,
“Kamu ini persis seperti papamu, ngga ada bedanya sama sekali. Kalo ngomong ngga ada filternya. Kau juga gitu, Ruben”
Ruben yang baru saja dudukpun terkejut karena ikut terkena omelan sambil ditunjuk-tunjuk.
“Kau ini harus bisa ngasih tau. Lydia ini, walaupun cerdas tapi semaunya sendiri. Ngga peduli siapa, ngomong ngga pake mikir”
“Iya om, maaf om”, 
“Kau harus bisa membimbing Lydia. Sekarang om mau tanya, kapan kalian menikah? Om ini sudah gregetan, ngga ada kejelasan dari kalian”
Ruben dan Lydia terkejut, menoleh saling tatap,
“Ruben, kau yang laki-laki, Jawab”, Pedro menatap Ruben
“Begini om, saya memang belum bisa cepat-cepat untuk mengambil langkah itu, apalagi dengan situasi kita sekarang. Saya harus mendahulukan kepentingan dan keselamatan semua warga”
“Ruben, denger ya, walaupun kau pemimpin kami, tapi dalam masalah ini, aku omnya Lydia. Kalau main-main, kugampar bener kau”
“Iya om. Tapi tolong beri saya waktu”
Om Pedro menghela nafas, “Baiklah, bukan apa-apa. Om hanya melaksanakan amanah dari almarhum papanya Lydia supaya Lydia bisa cepat menikah. Kalian ini harus cepat menikah. Biar om lega, plong, biar ada yang bantuin jaga Diego sama Suzan”
“Iya om, saya akan beritahu secepatnya”
“Ok, kupegang mulutmu. Ya sudah itu saja, Lydia, om pulang dulu, capek, mau tidur”,

     Pedro berdiri mengecup kening Lydia dan setelah mengantarkan ke pagar, Lydia dan Ruben duduk lagi di teras,
“Kenapa tadi bohong ke om Pedro?” Tanya Lydia karena sebenarnya dialah yang selalu minta waktu setiap Ruben menanyakan masalah pernikahan. Lydia meminta waktu supaya Suzan lebih gede lagi minimal sampai umur 12 tahun dan Diego sudah dewasa.
Ruben senyum, “Kamu ini sudah kuanggap istriku. Jadi kalau ada apa-apa, biarlah aku yang jadi bempermu. Biar aku saja yang dimaki-maki, yang diomel-omelin sama om Pedro, sama uwak, sama lainnya”
“Lho, uwak ngomel ke kamu juga?”
“Iya, Pas mau berangkat kemarin. Lewat depan rumah uwak, eh malah dipanggil. Setengah jam aku diceramahin” 
Lydia senyum, merangkul dan merebahkan kepala di lengan kanan Ruben, “Maaf ya kalau aku masih belum bisa menuruti keinginanmu. Tapi coba mulai besok aku ngobrol sama Suzan, sama Diego”
“Terserah kamu, yang penting posisiku sudah melamar kamu secara pribadi. Tapi kalau bisa jangan terlalu memaksa ke Suzan dan Diego. Apa yang kamu bilang memang benar. Suzan itu sangat dekat sama kamu. Jangan sampai ada apa-apa lagi dengan Suzan, kasihan”
“Iya, makasih ya Ben. Aku juga ngga akan ngomong langsung kok. Kamunya juga kalo bisa luangkan waktu, sebentar juga ngga pa pa, yang penting sesering mungkin ada di sekitaran Diego sama Suzan terutama pas di kebun. Jadi nanti aku lebih mudah ngomongnya ke mereka karena mereka sudah lebih terbiasa lagi dengan kehadiran kamu”
“Iya, betul itu, ntar aku pasti usahain”
 “Eh, ngomong-ngomong, gimana kelanjutan pertemuan tadi?”
“Besok, pagi-pagi sekali aku akan cari informasi ke selatan. Menurut informasi terakhir, ada sebuah pasukan yang katanya pernah bertempur dengan Bintang Biru. Namanya Hurricane Army. Mungkin dari situ nanti kita bisa dapat informasinya”
“Hurricane Army? Nama pasukan kok gitu, jelek amat, beda ama lainnya. Tapi hati-hati lho, mungkin itu milisi rampok”
“Iya, aku akan hati-hati. Tapi kata orang-orang, Hurricane Army ini seperti pasukan siluman. Ngga ada yang tahu dimana markasnya. Kadang kala kelihatan di hutan, kadang di jurang dalam, di bekas-bekas reruntuhan kota, tapi sebentar saja katanya langsung hilang, entah kemana lagi”
“Lho, berarti besok ke selatan itu hanya kira-kira?”
“Terus terang iya. Tapi kita harus mengupayakan dengan segala kemampuan. Aku inginnya cepat mendapat informasi. Harus cepat mengambil keputusan”
“Ben, aku mau tanya, kalo menurut feelingmu sendiri, harusnya bagaimana?”
“Aku maunya kita semua menyingkir secepat mungkin. Tapi tadi kan keputusan mayoritas seperti itu. Ya aku harus jalani”, kata Ruben dan merekapun ngobrol ngalor ngidul hingga saat waktu menunjukkan pukul sebelas, ketika Ruben hendak pamit pulang, sebuah jeep terlihat usang dan tua berhenti di depan rumah Lydia. Turun seorang laki-laki dari jeep, berdiri di depan pagar,
“Boss!” laki-laki tersebut memanggil, Rubenpun bergegas mendatangi dan mereka berdua berbicara dengan setengah berbisik. Beberapa menit, Ruben balik lagi ke teras,
“Lydia, aku mau berangkat sekarang. Menurut informasi, ada sepasukan katanya Hurricane Army ada di utara, 200 kilo dari sini”
“Iya hati-hati”
Ruben mengangguk, berbalik bergegas menuju jeep dan berangkat…….