16
16



     Hari-hari berikutnya terlihat Laura mempunyai kegiatan baru yaitu menangani kondisi Lydia, baik itu secara fisik maupun psikis sedangkan disisi lain, dalam perasaan hancur lebur menuju putus asa akibat keterpurukan nasib tanpa ada bayangan masa depan sama sekali, Lydia merasa heran dengan perlakuan bu Laura yang dia pikir sangat jauh melebihi dari apa yang seharusnya dilakukan untuk menangani korban seperti dirinya. Lydia merasa, sebagai kepala medis dengan belasan anak buah, seharusnya hanya tinggal tunjuk, satu personil pasti langsung berkata siap dengan tegas kemudian melaksanakan dan menganggap bahwa itu adalah tugas dari atasan. Tapi Lydia merasa heran karena Bu Laura melakukan sendiri entah itu memandikan, menyuapi makan bahkan sampai membersihkan kotoran dan semua itu dilakukan dengan senyum seakan tidak ada beban sama sekali. Di waktu tengah malam, saat tidak bisa tidur karena sangat sedih teringat masa lalu, bu Laura pasti datang dengan senyum, ngobrol santai sambil menasehati dan menguatkan hati hingga beberapa kali ikut menemani tidur di ranjang rawat. Lydiapun merasa di satu sisi batinnya mulai terobati dengan perlakuan bu Laura yang seperti itu tapi di sisi lain merasa tidak enak hati karena sangat merepotkan. Seperti saat ini dimana dengan penuh rasa sayang dan keikhlasan, Laura menyuapi dengan sabar dan telaten hingga akhirnya Lydia memberanikan diri untuk bertanya,

“Bu, kenapa aku dulu ngga dibiarin disuntik mati saja? Lebih baik aku mati daripada seperti ini”
“Maksud kamu seperti ini gimana?” Tanya Laura sambil membersihkan mulut Lydia dengan tisu sehabis disuapi makan malam.
“Ya seperti ini bu. Ngga punya tangan, ngga punya kaki, ngrepotin ibu terus. Aku jadi ngga enak hati. Mau bantu ngga bisa, ngapain aja ngga bisa, digigit semut aja harus minta tolong. Lebih baik aku mati saja bu, daripada begini”.

     Laura menghela nafas sangat dalam kemudian mulai menasehati, 
“Kalau mau mati, itu namanya bunuh diri. Kamu pasti tahu kan kalau bunuh diri itu dilarang, apapun alasannya?”
Lydia mengangguk pelan dan tak terasa airmata mulai meleleh di kedua pipi kemudian berkata dengan terbata-bata dan sesenggukan, 
“Tapi aku sudah ngga peduli lagi itu dilarang apa engga. Rasanya ngga enak sekali buu. Semua yang aku sayang hilang semuaaaa. Diego, Suzan, Ruben, om Pedro, huuuu! Aku ngga mau hidup kalau begini buuu, hanya bisa jadi beban ibu dan yang lainnya, cuman makan tidur, trus semuanya ibu yang lakuin, huuuu”,  

Laura menghela nafas lagi kemudian berkata dengan tegas, 
“Aku tahu, yang kamu alami ini sangat berat sekali. Tidak semua orang mampu menanggung beban yang kamu alami sekarang ini. Tapi kalau masalah kamu mau mati, itu gampang, saangat gampang. Sekali suntik, semuanya selesai tanpa merasakan apa-apa. Aku punya banyak serumnya, tuh di almari itu. Tapi cobalah untuk bertahan hidup. Paling tidak, apa kamu ngga penasaran kenapa masih bisa selamat dari semua cobaan ini. Kamu tahu ngga, kalau hanya kamu yang selamat dari percobaan Bintang Biru. Sampai detik ini mereka terus melakukan penculikan untuk dijadikan kelinci percobaan dan menurut pengintaian terakhir, program itu tidak berkembang sama sekali dan korban-korban malah lebih banyak, terbukti truk pengangkut tetap membawa mayat-mayat melewati jalan dimana kamu ditemukan”
“Tapi kenapa buu? Kenapa aku harus selamat kalau akhirnya hanya seperti ini? Semuanya sudah ngga ada, Diego, suzan, Ruben, om Pedroooo, huuuuu”, bertambah keras suara tangisan Lydia dan Laura berkata lagi,
“Aku ngga tahu. Makanya apa kamu ngga penasaran, kenapa Tuhan masih memberi”

Belum selesai kalimat, Lydia memotong dengan nada tinggi tetap sambil sesenggukan, “Ngga!! Hu huu hu huuu Tuhan jelek!! Tuhan ngga adil!! Hu huuu huuuu Tuhan ngga punya kasihan!! Tuhan ngga bisa nolong!! Tuhan udah ngga peduli lagi!! Aku ngga percaya Tuhaaan!! Hu huuu huuuuu!”

     Laura menghela nafas lagi kali ini karena terkejut kemudian bertanya dengan nada biasa, 

“Kamu ini ternyata emosian juga ya? Sekarang aku mau tanya kenapa kamu begitu benci sama Tuhan?” 
“Aku sudah melakukan apa yang Tuhan minta! Kata papaku, kita harus selalu ingat dan berdoa kepada Tuhan! Aku sudah berdoa, ngga hanya hari minggu!! Tiap pagi, tiap sore, tiap malam aku berdoa! Tapi apa yang Tuhan kasih? Tuhan cuma kasih bencana!! Ruben, om pedro, pak puh, semuanya mati!! Aku benci Tuhaan!! Tuhan jeleeek!!” Saking emosinya sampai terengah-engah.
“Itukan dari sisi pikiran kamu. Mungkin saja pikiran Tuhan lain”, kata Laura sambil membelai untuk menenangkan,
“Lho, emang ibu tahu pikiran Tuhan?” Nada suara Lydia mulai sedikit menurun plus raut wajah heran,
“Ha ha ha ha! Ya ngga tahu, ngga ada yang tahu. Tuhan itu misterius, saangat misterius. Tapi mungkin saja Tuhan terlalu sayang sama Ruben, sama om Pedro, sama pak puh. Tuhan ngga ingin mereka menderita lebih jauh lagi dan ingin mereka ada disisiNya”
“Lho kok gitu? Berarti Tuhan memang udah ngga sayang lagi sama aku!”
“Bukan begitu. Bagi kita yang masih hidup, yang masih bernafas di bumi ini, berarti masih ada satu dua urusan lagi yang harus kita selesaikan dahulu sebelum mati”
“Apa itu bu?” Nada suara Lydia turun lagi menuju biasa
“Ya ngga tahu. Makanya harus cari tahu. Jangan belum-belum udah putus asa, putus harapan, sampai pengin mati segala”
“Tapi dengan kondisi kayak gini, mana bisa? Ngga mungkin bu”
“Pasti bisa. Kalau kamu ngga keberatan, aku akan bantu sebisaku, gimana?”
Lydia mengangguk dan Laura memegang kedua pipi Lidya,
“Kamu ini cantik lho, berapa umurmu?”
“Dua puluh”
“Oh, masih muda sekali. Boleh aku memanggil kamu, non?”
“Boleh bu, tapi kenapa non?”
“Non itu nona. Aku biasa memanggil Donna putriku dengan sebutan itu”
“O, sekarang mana bu? Apa ada di rumah ibu?”

     Laura senyum tapi mata berkaca-kaca sambil merapikan rambut Lydia yang sudah rapi kemudian berkata, 

“Dia sudah meninggal, dibunuh oleh Bintang Biru”, suarapun mulai sendu dari yang biasanya tegas
“Oh, maaf ya bu? Aku ngga tahu”
“Ngga pa pa. Itu sudah suratan takdir. Ya itu tadi, mungkin Tuhan terlalu sayang sama Donna. Gimana, boleh kupanggil non? Kamu ini mirip sekali dengan Donna. Rambutmu, hidungmu, mata, mirip sekali”, akhirnya airmata Laura jatuh kemudian memeluk erat karena sangat rindu dengan putri semata wayang sedangkan Lydia terkejut hingga ikut-ikutan menitikkan airmata dan mulai paham mengapa perlakuan Bu Laura sangat tulus tidak dibuat-buat bahkan sepertinya sangat memanjakan padahal dia tahu kalau bu Laura itu adalah sosok yang tegas dan dihormati oleh semua personil. 
“Boleh bu, tapi ibu juga kupanggil mom ya? Jadi ibuku”
“Kenapa? Ibumu kamu panggil mom juga?”
“Engga, pengin aja”, Lydia mulai sedikit senyum……