32
32


     Pertempuran semakin sengit, korban terus berjatuhan terutama di pihak Bintang Biru dimana saat ini terlihat bertahan sekuat tenaga dan walau berhasil bertahan total di celah sempit tetapi ketegangan semakin meningkat karena semua perhatian tertuju kepada prajurit super Hurricane Army yang pergerakannya sangat tidak bisa diduga, sekonyong-konyong tiba-tiba lari sangat cepat dan menangkap sebuah robot tempur terdekat kemudian menyeret dan diinjak-injak, ditendang-tendang di depan pasukan Hurricane Army. Keteganganpun bertambah semakin memuncak bahkan di pusat ruang komando Bintang Biru jadi heboh sangat khawatir karena di monitor besar saat ini terlihat prajurit super bersungut-sungut bermaksud menantang para robot tempur untuk keluar dari persembunyiannya hingga tampak kacamata hologram yang dikenakan berubah warna dari hitam dof menjadi silver kemudian menggali tanah karena tantangannya ngga digubris. 

     Sesaat, semua yang berada di dalam pusat ruang komando Bintang Biru terkejut setengah mati karena prajurit super tersebut ternyata menggali tanah untuk mengambil sebuah ranjau darat berukuran besar buatan ndan Patrick dan diperkirakan berbobot 250 kg untuk kemudian dilemparkan ke arah kerumunan robot tempur yang membuat benteng dengan cara berkerumun menutupi depan celah sempit. Terjadilah ledakan besar dengan bola api berdiameter 100 meter karena ranjau tersebut berhasil ditembak oleh beberapa robot tempur dan meledak di udara. Prajurit superpun terlihat sewot, mengumpat-umpat memaki-maki karena ranjaunya meledak di udara kemudian menyapu pandangan di tanah untuk mencari posisi ranjau lagi. Tampak kacamata hologram dengan desain sport agressive yang dikenakan prajurit super Hurricane Army berubah warna lagi menjadi silver karena sedang mengaktifkan fitur sinar X. Sesaat, setelah menemukan posisi ranjau besar seperti yang pertama tadi dan ketika akan menggali tanah lagi untuk mengambil, prajurit super tersebut menoleh seperti dipanggil dari posisi Hurricane Army kemudian mengurungkan niat untuk menggali ranjau dan berjalan cepat menuju posisi teman-temannya. 

     Ketika monitor menyorot lebih jelas ke arah lain, tampak komandan Daniel dengan mata melotot ke arah prajurit super, berteriak keras memarahi sambil tangan kanan mengkode menyuruh mundur. Setelah itu seluruh pasukan Hurricane Army mulai terlihat mundur cepat hingga akhirnya seperti menghilang tak berbekas. Situasi anehpun terjadi dimana situasi yang tadinya brutal saling tembak dan ledakan terdengar disana-sini tiba-tiba sunyi sepi dan pasukan Hurricane Army benar-benar seperti lenyap tak terlihat, entah memakai tehnologi apa.
Suasana di ruangan pusat komando markas Bintang Biru benar-benar menjadi canggung, aneh, awkward dan lain sebagainya karena pasukan Hurricane Army di monitor pencitraan satelit telah hilang, tidak terlihat sama sekali dan wajah boss besar tampak bersemu merah akut tanda emosi yang sedang memuncak akibat mengalami kekalahan telak plus kerugian sangat besar kemudian menarik nafas beberapa kali, berbalik dari monitor besar untuk menuju ruangan megahnya,

“Bangsat kau Daniel!!! Brak!!!” Sebuah meja hias yang terbuat dari kayu di ruang komando menjadi korban emosi, patah tak berbentuk akibat dilempar dan membentur tembok dengan keras….

     Di lain pihak, selang beberapa jam setelah pertempuran, barisan konvoi jeep dan truk pengangkut pasukan Hurricane Army terlihat sedang menyusuri jalanan beton untuk menuju hutan Q yang sekarang menjadi markas baru mereka di dalam hutan yang berjarak sekitar 800km dari markas besar Bintang Biru. Di atas truk, para pasukan merayakan kemenangan telak atas Bintang Biru dengan bersorak dan bernyanyi, bahkan ada beberapa diantaranya meliuk-liuk berjoget dangdut dengan diiringi suasana temaram sore hari. 

     Mereka semua merasa sangat bahagia karena berhasil membalas kekalahan telak di kota mati Fargho dan kebahagiaan tersebut terasa semakin lengkap dengan hadirnya teman seperjuangan baru yang mempunyai kekuatan sangat dahsyat hingga rasa percaya diri semua prajurit termasuk para komandan meningkat tajam setelah sebelumnya mulai kebingungan dan lelah akut menghadapi semakin majunya tehnologi Bintang Biru. Disamping itu, walaupun mempunyai tingkah yang lumayan ‘aneh’, tapi sekarang semua pasukan menaruh harapan yang besar terhadap Lydia dan sudah membayangkan kemenangan-kemenangan besar di kemudian hari hingga cita-cita untuk menghancurkan Bintang Biru dapat terwujud.

     Wajah-wajah suka cita, bahagia sekaligus bangga itu tampak jelas menyeruak di setiap prajurit Hurricane Army, jiwa lelah yang menghantui selama berbulan-bulanpun seakan hilang tak berbekas, berganti motivasi hebat untuk berdiri lagi dan lari melanjutkan perjuangan sebagai pejuang kemanusiaan melawan Bintang Biru. Semua prajurit, laki-laki maupun perempuan tampak tersenyum lebar, sesekali tertawa lepas dan di dalam jeep yang berada paling belakang konvoi, tampak Komandan Maxwell yang tadinya berbincang-bincang santai dengan Javier tiba-tiba terkejut karena Pramono yang sedang memeriksa prajurit super di lantai kabin belakang mengatakan kalau Lydia mengeluh pusing berat dan sesak nafas. Sesaat, karena melihat kondisi Lydia malah menurun drastis dan mulai megap-megap, komandanpun berpindah ke kabin belakang untuk lebih memastikan dan menunggu laporan dari Pramono sementara anggota tim Fearless lainnya dari awal memang tidak berada di dalam jeep. Mereka semua saat ini sudah pindah ke truk personil untuk ikut menikmati dan berbagi perayaan sederhana bersama pasukan besar.

“Ndan, apa sebaiknya kita berhenti saja dulu, supaya tenang?” Tanya Javier yang memegang kemudi jeep,
“Negatif, kita belum masuk zona aman, masih delapan jam lagi. Jalan terus”, Jawab komandan
“Siap”
“Lydia, apa kau masih bisa dengar aku?” Tanya Pramono dan Lydia menganggukkan kepala sambil megap-megap,
“Shut down semua sistemmu, supaya tubuhmu tidak terlalu panas”
Lydia mengaktifkan kacamata hologram lagi dan sesaat kemudian menshutdown atau mematikan total seluruh sistem.
“Gimana Pram?” tanya komandan
“Ngga tahu ini ndan. Suhunya turun drastis, tapi Lydia tetap sesak nafas”, Pramono memandang heran ke alat scannernya yang menunjukkan derajat celcius yang terus menurun dari yang awalnya sekitar 85oC dan sekarang berada di kisaran 40oC tetapi Lydia tetap megap-megap kesulitan bernafas.
 
“Tadi kau makan apa? Mungkin nyangkut di tenggorokan”, Tanya komandan dan Lydia menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala karena mulai sulit bicara sedangkan Pramono menatap aneh ke komandan,
“Tidak mungkin ndan. Kalaupun ada yang nyangkut, pasti kelihatan di scanner”
“Ya siapa tahu, aku kan tidak paham medis”, komandanpun menjawab dengan entengnya dan pramono mengambil alat suntik dari dalam ransel sambil berkata ke Lydia,

“Kau akan kuberi penenang. Kalau tenang, semua organ dalam juga ikut rileks dan sesakmu akan berkurang”, Pramonopun menyuntikkan penenang ke leher dan sesaat kemudian mata Lydia mulai terlihat seperti mengantuk dan akhirnya tertidur. Komandanpun menghela nafas lega,

“Pram, apa laporan awalmu?”
“Aneh ndan, semua organ dalam normal dan stabil. Kalau tekanan darah naik dan wajah terlihat kusut, itu wajar karena kelelahan dan dehidrasi ringan. Tapi ini sesak nafas sampai sulit bicara”
“Mungkin psikisnya drop”, komandan mencoba menganalisa lagi,
“Kemungkinannya kecil ndan. Ibu bilang psikis Lydia sekarang sudah stabil walaupun terkadang masih bengong. Bisa diasumsikan dengan prosentase 85%. Selama operasi dari awal kita berangkat sampai detik ini juga tidak ada gejala apapun yang menunjukkan psikis menuju ke drop, bahkan waktu komandan setuju untuk menyelamatkan Trakh dengan memotong jalur lewat hutan, Lydia terlihat sangat bersemangat. Walaupun tadi sempat diomelin juga sama KHA1, tapi sepertinya tidak berpengaruh sama sekali, tetap semangat sampai tadi berusaha tidur, baru kelihatan gejalanya. Aneh sekali ndan”
Komandan Maxwellpun manggut-manggut, “Sekarang kau mulai saja untuk membuat laporan tentang Lydia dari mulai kita berangkat sampai nanti tiba di markas, langsung laporkan ke KHA3”
“Siap”