-7- Ditodong
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
TERSESAT DALAM CINTA
Bab 7: Ditodong
A Novel By. Ester Shu
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Pagi ini mataku mulai terbuka perlahan. Kucoba  mengumpulkan nyawa yang sebagian masih berkelana. Antara alam nyata dan mimpi.

Ingatanku tertuju pada sosok Vandi yang semalam memelukku dari belakang.

Huft!
Tanganku menepuk pipi perlahan. Pagi-pagi pikiran konyol itu sudah memenuhi otak.

Kaki pun melangkah menuju kamar mandi, mengambil handuk lalu mandi. Selesai mandi dan memakai baju aku duduk sebentar di meja rias untuk merapikan rambut dan tampilan wajah. Setelah selesai aku berdiri, tangan menyambar tas kerja dan kunci mobil. Mata menatap wajah Mia yang masih tidur pulas, lalu melangkah ke luar meninggalkannya.

Membuka pintu dan menguncinya lagi, sebelum akhirnya jalan menuju garasi. Membuka pintu dan mengeluarkan mobil.

"Key!" Aris menyapa saat aku turun dari mobil hendak mengunci pintu garasi lagi.

"Ya, Mas," jawabku singkat. Lagi-lagi jantungku berdebar saat melihat tampilannya cowok banget saat mau berangkat kerja.

"Berangkat kerja, Key?" tanyanya basa-basi.

"Iya, Mas. Mbak Nia mana, Mas?" tanyaku penasaran, soal kemarin Mbak Nia sudah tak mau serumah dengan Aris.

"Ada di rumah."

'Syukurlah,' gumamku dalam hati. Aku pun masuk ke dalam mobil.

"Duluan ya, Mas!" seruku dari dalam mobil. Aris mengangguk dan melambaikan tangannya.

Aku melihatnya dari kaca spion sampai di ujung tikungan. Dengan melihatnya begitu saja rasanya bahagia banget. Perasaan yang salah kaprah ini benar-benar mengurung dan menutup  mata hatiku.

Kubuka jendela mobil dan menikmati udara pagi menuju kantor setelah tiga hari libur. Hari pertama kerja rasanya masih malas banget.

Sampai perusahaan, langsung parkir mobil dan melangkahkan kaki masuk ke ruang kerja. Kuletakkan tas di meja kerja dan kaki melangkah menuju pantry hendak membuat secangkir kopi, agar mata terang.

Langkahku terhenti, saat melihat sosok Vandi sudah ada di pantry.

'Pagi-pagi Bos sudah datang!' gumamku heran sambil membalikkan badan hendak kembali ke ruangan.

"Key!" sapanya membuatku kaget. Kututup mata mencoba mengatur rasa. Manarik nafas, lalu mengembuskan lagi. Dengan keberanian penuh aku balik badan lagi, agar kami saling berhadapan.

"Ya, Pak," jawabku.

"Nih!" ucap Vandi mampu membuatku melongo. Secangkir kopi dan roti sudah disiapkan oleh seorang bos untukku. Luar biasa.

"Ini buat Keyla, Pak?" tanyaku tak percaya.

Vandi mengangguk dan tersenyum sebelum akhirnya berlalu meninggalkanku yang masih bengong.

Kubawa kopi dan roti pemberian bos lalu jalan menuju ruang kerja dan menikmatinya.

"Pagi betul datangnya, Key?" tanya Andi, teman sekantor. Setelah meletakkan tas, Andi pun menghidupkan komputernya.

"Ya lah. Karyawati teladan, ya, begini," jawabku besar kepala sambil tertawa lepas.

"Bisa aja lo. Selesaikan dulu tugas di mejamu tu. Menumpuk gitu!" ujarnya sambil menunjuk tumpukan data yang tersusun rapi di atas mejaku.

"Santai aja, ntar juga kelar."

Selesai menikmati kopi dan roti, tanganku mulai memasukkan data ke dalam mesin komputer.

Sampai siang aku tak beranjak dari meja kerjaku karena data yang musti input, belum selesai juga.

'Hari ini diet dulu, tak usah makan siang,' gumamku dalam hati semangat. Berharap bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Sampai sore, pekerjaanku masih menumpuk dan belum kelar juga.

Teman-teman mulai pada pulang satu persatu. Mataku melongok pada jam yang tergantung di dinding, jam menunjukkan pukul 18:00 WIB, tapi kerajaan belum kelar.

"Belum pulang, Key," sapa Vandi mengagetkanku.

"Belum, Pak," jawabku sambil terus memasukkan data pada komputer. Vandi mengambil sebuah kursi dan duduk di sampingku. Aku makin tak konsentrasi karena di tungguin sang pimpinan perusahaan.

"Masih banyak, ya?" tanyanya lagi sambil melongok ke layar komputerku.

"Dikit lagi, Pak. Bapak nggak pulang?" tanyaku berharap Vandi pergi.

Laki-laki yang tengah memakai jas warna hitam itu hanya diam. Tak berapa lama badannya menyandar pada sandaran kursi dengan santai sambil memperhatikan cara kerjaku. Sesekali mataku melirik ke arahnya yang sedari tadi diam saja.

'Kesambet apa ni orang, mau-maunya nungguin karyawannya sampai malam gini.'

Yes, selesai juga. Kuregangkan tangan dan gerakkan badan yang sudah kaku biar lentur lagi.

"Aku antar pulang, ya?"

"Keyla bawa mobil, Pak!"

"Biar supir yang bawa," ucap Vandi negosiasi.

Sejenak aku memikirkan tawarannya.

"Baiklah," jawabku singkat sambil menganggukkan kepala, karena laki-laki ini sudah mau menemaniku lembur. Vandi berdiri dan jalan di depan sedang aku mengekor dari belakangnya.

Kuberikan kunci mobil pada supirnya dan aku masuk mobil hitam milik Vandi. Dia duduk di depan pegang setir mobil sedang aku duduk manis di tengah.

Lama.

'Mungkin Vandi sedang menunggu seseorang.'

Aku duduk dengan santai, sesekali mataku melongok ke luar jendela mencari seseorang yang sedang ditunggu.

"Woy!" seru atasanku halus, sambil menengok ke arahku.

"Ya, Pak," jawabku bingung.

"Dikira supir, ya? Sini, pindah depan!" serunya lagi sambil menjentikkan ke-empat jarinya.

"He he he." Aku meringis sungkan. Kubuka pintu mobil, turun lalu pindah duduk di depan samping Vandi.

'Kapan lagi di sopiri seorang Bos,' sisi hatiku berbisik jahat.

"Makan dulu, ya?" ajaknya. Aku menganggukkan kepala karena tadi siang tak sempat makan.

Mobil melaju menuju restoran seafood yang tak jauh dari perusahaan.

Tak berapa lama kami sampai juga di restoran yang dituju. Setelah memarkir mobil, kami turun dan melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran. Kami duduk di kursi, meja nomer tiga. Seorang waiters datang sambil membawa daftar menu.

"Mau makan apa, Key?" tanya Vandi sambil memilih menu.

Tanganku pun mulai mengambil daftar menu yang terletak di atas meja dan mulai memilih. Sesekali mataku melirik ke arahnya yang sedari tadi termangu memperhatikan tingkah lakuku.

Hari ini atasanku berbeda. Entah kenapa, hari ini dia baik banget. tanganku tetap berselancar pada daftar menu yang tersedia di restoran ini.

"Ini ... ini ... dan ini ... tambah ini ... eh, ini juga ... penutupnya yang ini." Aku menunjuk beberapa menu dan waiters mencatat makanan yang dipesan.

'Begitu pintarnya aku dalam memanfaatkan situasi,' bisikku dalam hati sambil tersenyum manis.

Tak tanggung-tanggung, aku memesan beberapa macam makanan, mumpung ada gratisan.

"Mau pesan lagi?" tanyanya.

"Sudah, Pak," jawabku yakin.

Kami duduk dengan santai sambil menunggu makanan datang. Mataku melihat suasana Restoran yang sangat keren. Dekorasinya ciamik banget.

"Key," sapa Vandi sambil menyandarkan badannya pada kursi.

"Ya, Pak," jawabku cepat sambil melongok kearahnya.

"Kalau lagi berdua, jangan panggil Pak, yah?" pintanya.

"Tapi, Pak ...."

"Bersikap biasa saja bisa nggak, sih!" serunya memotong kalimat yang belum selesai terucapkan.

"Bapak, eh, kamu yakin?" tanyaku memastikan sambil mencondongkan badan ke arahnya..

"Ya." Vandi menjawab sambil mendekatkan muka, tapi terhalang oleh meja.

Mata kami saling menatap dalam diam. Kucoba mengatur rasa. Karena hampir dua tahun aku menyebutnya dengan sebutan, 'Pak'.

"Baiklah," jawabku setuju sambil menganggukkan kepala.

Tak berapa lama makanan yang kami pesan datang. Senyumku merekah melihat makanan enak tersaji di depan mata. Hampir seharian mata dan lidahku belum ketemu dengan nasi. Dengan sigap tanganku mulai meraih centong beserta nasinya, meletakkan di piring Vandi dan di piringku.

"Lauknya ambil sendiri ya, Pak, eh, Van," ucapku judes.

Rasanya sudah tak sabar ingin menikmati makanan yang tersaji secepat mungkin. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut, tapi Vandi belum juga menyentuh makanannya.

"Napa?"

"Mana lauknya," ucapnya pelan sambil menahan suara, sedikit melotot.

"Ish ...," jawabku sambil mengambilkan lauk dan meletakkan ke atas piringnya. Bibirnya menyungging senyum rasa puas telah menyuruhku.

Sekitar setengah jam, makanan sudah berpindah ke dalam perut kami. Rasanya kenyang.

"Sut ...," desisnya.

Aku melongok ke arahnya, menaikkan alis sambil bertanya, "Apa?"

"Bayar!" ucapnya pelan.

Mataku membulat, syok.

"Serius!" seruku memastikan dan dia pun mengganguk. Tanganku mulai meraih tas dan mencari dompet dari dalamnya.

'Sial,' umpatku dalam hati.

Aku melongok isi dompet, tinggal tiga ratus ribu dan beberapa lembar uang kecil.

"Kamu yang ajak, tapi aku yang bayar," gerutuku. "Nih, tinggal ini duitku," lanjutku sambil menyodorkan uang di meja.

Atasanku itu berdiri dan menyambar duit yang kuletakkan di atas meja. Lalu melangkahkan kaki menuju meja kasir.

'Busyet, diembat juga tu duit,' keluhku.

Bersambung ....
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Yukk! Tinggalkan komen dan love, sebagai penyemangat.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Jangan lupa subscribe dan mampir pada karya saya lainnya. 
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
TERIMA KASIH BANYAK.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Komentar

Login untuk melihat komentar!