BAB 2

Aku Belum Siap Dipoligami
Bab 2
#ABSD2

Degup jantungku menjadi tidak beraturan. Resah dan gelisah setelah mengetahui apa yang terjadi dengan suamiku.

Pikiran burukku segera dialihkan dengan melaksanakan shalat tahajud dan membaca kalam Illahi. Dadaku rasanya sakit menghujam, sesekali aku memegang dada lalu meneguk air putih untuk meredam degup jantung yang berlebihan.

"Ada apa dengan suamiku? Apa yang Mas Abi sembunyikan selama ini?"

Allah Karim ... Sakit sekali rasanya jika benar ia mengkhianatiku.

Hingga menjelang subuh, aku menghabiskan waktu dengan tetap membaca Al-Qur'an meskipun hati ini tetap belum bisa tenang.

"Sudah bangun Dek, kenapa tidak membangunkan, Mas?" tanya Mas Abi yang baru saja bangun, sambil menggeliat dan mengucek kedua matanya.

Mas Abi melewatiku menuju kamar mandi dan bersiap untuk shalat subuh berjamaah di Masjid yang dekat dengan rumah mereka.

"Mas, pergi ke Mesjid dulu ya, Dek" ucapnya berpamitan.

"Shalat saja, kamu itu rajin Mas. Tidak pernah sampai meninggalkan shalat berjamaah di Masjid, tapi apa iya kamu selingkuh? Aku tidak yakin Mas. Tapi pesan itu memang nyatanya ada."

Setelah aku menyelesaikan shalat subuh dan akan melanjutkan aktifitas seperti biasa, namun aku masih saja penasaran dan ingin meyakinkan sekali lagi isi chattingan Mas Abi dan Mba Afifah.

"Loh, ko tidak ada isi pesan sama sekali? Apakah Mas Abi sudah menghapusnya? Ataukah ... Memang semalam aku hanya berhalusisasi?"

Berkali-kali mengulang membuka pesan WhatsApp itu, namun tetap saja tidak ada. Kapan Mas Abi membuka Handphone nya?

"Assalamu'alaikum," ucap Mas Abi yang ternyata sudah sampai di rumah.

"Wa-wa'alaikumsalam, Mas."

"Kamu kenapa, Dek. Ko panik gitu wajahnya?" tanya Mas Abi sambil tertawa.

"Engga kenapa-kenapa ko, Mas."

Tiba-tiba Mas Abi memelukku sangat mesra. Aku yang hendak menuju dapur ditahan oleh tangan kekar miliknya.

"Ada apa, Mas? Adek mau siap-siap dulu," ucapku berpamitan.

"Disini dulu, Dek. Mas lagi Rindu. Semalam kan kamu sudah tidur duluan."

Tangan Mas Abi hendak membelai rambutku, namun bayangan isi chatt semalam membuatku menjadi tidak nyaman. Seketika dadaku meraskan sakit lagi.

Kutarik nafas dalam lalu hempaskan. Kemudian beristighfar, dan teringat akan dosa jika aku menolak permintaannya.

"Kamu kenapa, Dek?" tanya Mas Abi heran.

"Tidak apa-apa Mas, adek tidak enak badan saja."

"Jika kamu menolak, Mas tidak apa-apa sayang, Mas mengerti."

"Tidak Mas, aku tidak menolak. Maafkan aku, Mas."

***

Pagi ini aku ingin menyiapkan sarapan untuk Mas Abi sendiri. Biasanya, Mbak Afifah yang melakukan, sedangkan aku harus bersiap membuka toko.

Namun hari ini berbeda, hatiku menolak jika Mbak Afifah melakukannya sendirian.

"Assalamu'alaikum, Nabil," ucap Mbak Afifah yang sudah datang ke rumah kami.

"Wa'alaikumsalam, Mbak."

Mbak Afifah mungkin heran, kenapa aku tidak segera beranjak dari dapur untuk membuka toko.

"Mmm ... Nabil, toko hari ini mau tutup kah?" tanyanya kepadaku. Mungkin berbasa basi atau memang peduli? Tapi aku akan berjanji tidak akan meninggalkan Mbak Afifah berdua dengan Mas Abi.

Aku jadi berprasangka buruk tentang mereka karena mimpiku semalam dan juga isi chattingan suamiku dan Mbak Afifah.

"Buka, Mbak. Tapi nanti aku buka setelah Mas Abi berangkat ke kantor."

"Oooooh."

Hanya kata "oooh" yang Mbak Afifah ucapkan.

"Yasudah Mbak, aku minta tolong bersihkan dapur saja ya, biar yang masak aku saja. Lagi ngidam mungkin jadi semangat gini buat masak. Hehehe."

"Walaaaah ... Nabil sudah positif hamil kah sekarang?"

"Doakan ya, Mbak. Biar Mas Abi makin sayang sama aku. Dan engga berpaling ke wanita lain. Hehehe"

Sengaja aku mengatakan demikian, hanya ingin melihat reaksi wajah Mbak Afifah. Namun apa yang kulihat tidak ada sama sekali wajah aneh. Namun Mbak Afifah hanya diam tanpa menjawab.

"Nabil, ko disini?" tanya Mas Abi kaget. Loh loh ... Kenapa justru Mas Abi yang kaget. Padahal Mbak Afifah biasa saja.

"Lagi ngidam katanya, Mas," jawab Mbak Afifah tersenyum ke arah Mas Abi.

"Oalah ... Benarkah itu Nabil?

Aku hanya tersenyum tak menanggapi ucapan Mas Abi. Justru aku lebih fokus dengan ucapan "Nabil" yang Mas Abi ucapkan.

Awalnya aku tidak pernah mempermasalahkan Mas Abi memanggilku Nabil, namun karena mimpi dan kejadian semalam, aku semakin curiga. Kenapa setiap kali di depan Mbak Afifah Abi tidak pernah memanggilku Adek ataupun sapaan sayangnya.

"Nabil, masak apa hari ini?"

"Aku masak spesial, Mas. Karena tadi, sepulang Mas dari masjid, Mas sudah membuatku bahagia," ucapku sembari melirik ke arah Mbak Afifah.

Aku melihat wajah Mbak Afifah dan Mas Abi bergantian. Rona wajah mereka berdua saling berubah dan keduanya saling menatap, dan itu membuatku semakin curiga. Ada apa diantara Mas Abi dan Afifah?

"Hmmm ... Mbak Afifah, bolehkah hari ini Mba Afifah mengurus persiapan Farhan?" tanyaku memecah kecanggungan mereka berdua.

"Bo-boleh Nabil, Mbak permisi ke kamar Farhan aja ya."

"Silahkan, Mbak. Biar Mas Abi aku yang melayaninya. Terimakasih sebelumnya."

"Iya, sama-sama Nabil."

Mbak Afifah melengos menuju kamar Farhan. Dan aku segera mempersiapkan sarapan pagi untuk Mas Abi.

"Dek, kamu kenapa?" tanyanya heran.

"Kenapa bagaimana, Mas?"

"Kamu kenapa mendadak berubah begini?"

"Mendadak berubah Maksudnya gimana Mas? Bukankah dulu aku yang melakukan semua ini, Mas? Apa aku salah jika ingin melayani suamiku?


Jangan Lupa Subscribe, Love, Ulasan baiknya dan Bintang Lima ya! Terimakasih sudah membaca dan juga memberikan kesan terbaiknya. Salam sayang dan peluk hangat dari author amatiran. Baca ceritaku yang lain juga ya. Semoga yang baca cerbungku selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiiin. Love You All


Mohon Maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan