BAB 5
Aku Belum Siap Dipoligami
Part 5
#ABSD5

Kenapa Mbak Afifah seolah berbicara dengan seseorang yang sudah sangat mengenalku. Cara Mbam Afifah mengucapkan namaku kepadanya. Ah, kenapa pikiranku selalu menyangkut pautkan ketakutanku tentang Mas Abi.

"Nanti sore kan bisa, sabar ya Papa sayang. Gak enak memang jika harus seperti ini. Tapi kita harus sabar dan semangat berjuang bersama."

"Mama sabar dan setia ko, sampai waktunya tiba. Asal jangan lupa ya jatah Mama harus dipenuhi. Jatah seminggu sekali juga tidak masalah kan untuk Mama? Apa Mama pernah marah sama Papa, enggak tuh enjoy aja kan? Hhehehe."

"Engga apa-apa Papa sayang, yang penting puas."

Jatah? Jatah apa maksudnya? Uang? Atau jatah yang lain? Jantungku lagi-lagi berdetak kencang seolah sedang berlari. Aku menerka-nerka siapakah lelaki yang sedang berbicara dengan Mbak Afifah. Apakah suaminya? Tapi siapa? Ataukah suamiku? Ahhh ... Rasanya aku sudah terlalu dalam berperasangka buruk kepada mereka berdua.

Tapi kenapa sisi hatiku berkata iya. Sehingga perasangka burukku semakin menjadi. Jika benar terjadi, aku harus menghentikan sandiwara mereka. Ini zina. Ini haram dan dilarang agama. Nafasku memburu dan ingin langsung memaki Mbak Afifah. Tapi aku tidak boleh ceroboh. Mungkin salah. Ya, aku berharap itu salah.

"Belum, Papa. Mama baru mau makan ini, bareng sama Nabil. Tapi sepertinya Nabil belum selesai shalat."

"Iya, Papa. Selamat makan juga ya."

"Wa'alaikumsalam Papa sayang," ucap Mbak Afifah dan mungkin sedang menutup sambungan telponnya.

Mbak Afifah sepertinya sudah selesai dan berjalan kembali menuju rumahku. Aku gelagapan dan segera berlari menuju ke kamar.

Seperti maling saja. Menarik nafas panjang dan menenangkan pikiranku yang masih bercabang kesana kemari.

Mbak Afifah, sudah memanggil-manggil namaku dan mengetuk pintu kamarku. Tapi saat ini aku sedang tidak siap berhadapan dengannya, karena nafasku masih engos-engosan, dan pastinya dia akan merasa aneh.

"Nabil, sudah shalatnya?" tanya Mbak Afifah sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar.

"Eeemmm ... Maaf Mbak, aku sakit perut, jadi aku ke toilet dulu," ucapku berbohong dari dalam kamar.

"Apa masih lama?"

"Gatau Mbak, kayanya masih lama. Mbam makan duluan saja ya."

"Yasudah, Mba nyuapin Farhan dulu ya."

"Iya, Mbak. Mau sekalian juga boleh, aku menyusul saja."

"Yasudah."

Aku tidak menimpalinya lagi. Berpura-pura sudah memasukin toilet kamar.

Sengaja lama berdiam diri di kamar. Supaya aku bisa tenang dan mungkin tidak bertemu dengan Mbak Afifah. Kuharap dia sudah pulang. Jika belum, setidaknya aku sudah terlihat biasa saja.

Kubuka pintu kamar dan menuju kamar Farhan. Memastikan dia sudah tidur siang atau belum. Ternyata dia sudah tidur dengan tampan di atas kasur mininya yang bergambarkan Doraemon. Memang anak yang pintar. Walaupun usianya masih kecil tapi sudah bisa mandiri.

Lalu aku menuju ke dapur, dan ku lihat Mbak Afifah duduk di kursi meja makan, sedang senyum-senyum menatap ponselnya.

"Mbak," ucapku memanggil Mbak Afifah dan membuatnya menghentikan aktifitasnya. 

Aku merasa kesal dibuatnya. Entahlah, kesal, cemburu, tidak suka, dan tentunya marah bercampur menjadi satu.

"Eh, Nabil. Sudah beres?" tanyanya dengan senyuman yang ikhlas atau tidak? Aduh kenapa jadi berperasangka buruk nih. Istighfar Nabil. Istighfar.

"Iya, sudah Mbak. Mbak sudah makan?"

"Belum, Mbak kan nungguin kamu."

Aku sebetulnya sudah kehilangan selera makan, namun harus berusaha menata hatiku yang teramat kacau dan kurang konsentrasi karena Mbak Afifah. Berpura-pura sebagaimana dia berpura-pura.

"Oh, ya hayu makan toh. Aku kan sudah bilang duluan saja."

"Gaenak dong. Hehehe"

Aku dan Mbak Afifah makan bersama, Mbak Afifah sudah menyimpan ponselnya ke dalam saku bajunya. Padahal aku berharap ponselnya di simpan saja di atas meja. Agar aku bisa melihat siapa sih seseorang yang selalu berkomunikasi dengan Mbak Afifah.

Setelah makan kami selesai, tanpa disuruh Mbak Afifah langsung membersihkan alat makan dan juga meja makan. Untuk hal ini, aku memang salut kepadanya.

"Mbak, udah ini aku mau ke toko lagi ya," ucapku sambil menikmati teh manis yang masih hangat.

"Oh iya Nabil, Mbak juga sekalian pamit pulang dulu ya."

"Oh Iya, Mbak."

Mbak Afifah pun berlalu menuju rumahnya. Rumahnya yang bersebelahan dengan rumahku. Jika tokoku sebelah kiri rumah. Rumah Mbak Afifah ya sebelah kanan rumahku.

Persisnya kita tetanggaan. Tapi memang Mbak Afifah lebih sering menghabiskan waktunya di rumahku jika siang hari.

Aku kembali ke toko dan melihat pesan yang masuk ke ponselku. Satu panggilan tak terjawab dan beberapa pesan Mas Abi. 

[Masih di Toko, Dek?]

[Sudah Makan?]

[Dek?]

Hanya itu saja.

Sore pun tiba. Mas Abi sudah pulang dari kantor. Seperti biasa mobil nya diparkirkan di depan toko terlebih dahulu. 

Aku menghampirinya dan menyium tangannya. Lalu Mas Abi mengecup keningku. Begitulah ritual kami setiap hari sepulang Mas Abi kerja. Jika Sabtu dan Minggu, Mas Abi membantuku di toko sedangkan Nur, aku liburkan. Jarang sekali kami menikmati suasana liburan berdua seperti awal menikah 

Padahal memang baru bulan kemarin, aku berlibur. Sayangnya hanya aku, Farhan, dan keluarga besar. Mas Abi sendiri tidak ikut, karena tidak bisa mengajukan cuti.

*** 

Tentunya, sore ini Mbak Afifah sudah berada di rumah, dan memasak untuk Mas Abi dan menyiapkan persediaan makan malam.

Ketika Mas Abi sudah memasuki rumah, entah kenapa hatiku menjadi gelisah, ingin segera aku berlari menuju rumah menyaksikan apa yang dilakukan Mas Abi dan Mbak Afifah ketika hanya berdua di dalam rumah. Tanpa aku, tanpa Farhan. Karena sore hari adalah jadwal Farhan mengaji di mushala komplek. Sehingga Farhan pun tidak ada. Tepatnya tidak ada siapa-siapa. Hanya Mas Abi dan Mbak Afifah.


Jangan Lupa Subscribe, Love, Ulasan baiknya dan Bintang Lima ya! Terimakasih sudah membaca dan juga memberikan kesan terbaiknya. Salam sayang dan peluk hangat dari author amatiran. Baca ceritaku yang lain juga ya. Semoga yang baca cerbungku selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiiin. Love You All


Mohon Maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan