BAB 3
Aku Belum Siap Dipoligami
BAB 3
#ABSD3

"Dek, kamu kenapa?" tanyanya heran.

"Kenapa bagaimana, Mas?"

"Kamu kenapa mendadak berubah begini?"

"Mendadak berubah Maksudnya gimana Mas? Bukankah dulu aku yang melakukan semua ini, Mas? Apa aku salah jika ingin melayani suamiku?"

"Tidak ada yang salah ko, aneh aja," ucapnya sambil menyeruput teh hangat buatanku.

"Jadi Mas tidak mau toh aku yang menyiapkan sarapannya? Pengen sama Mbak Afifah saja?"

"Bukan, Dek. Bukan seperti itu, apa karena bawaan bayi itu? Benarkah kamu hamil?"

"Mas gak bahagia aku hamil?"

"Ya bahagia lah, Dek."

"Buktinya kamu diam saja."

"E-emmm anu kan tadi ada Mbak Afifah."

"Kalau ada memangnya kenapa?"

"Malu lah."

"Ko malu, aku kan istri Mas, sedangkan Mbak Afifah bukan istrimu loh."

Mas Abi tiba-tiba tersedak dan terbatuk.

"Kenapa Mas terbatuk? Apa ucapanku salah?"

"Tidak, Dek. Ini terlalu panas saja teh nya," elaknya sambil mengipas air teh di atas meja.

"Oiya ... Masalah hamil aku bercanda ko. Tidak serius. Lagian, jika aku hamil pasti kamu orang pertama yang aku kabari, Mas. Dan aku juga heran ko gak ada rona bahagia ya kalau aku hamil."

"Ko ngomong gitu siiih? Jangan gitu dong Adek Sayang. Mas bahagia ko, cuman mungkin tadi momennya kurang pas, maafin Mas ya. Jangan cemberut dong, kamu lagi dapet ya? Hehehe," tukasnya sambil mengelus tanganku.

Tak sengaja ada sepasang mata sedang melihat kami, aku yang sudah curiga sengaja memancing emosi pemilik mata itu.

"Enga ko, Mas. Aku lagi manja aja, Mas. Aku masih ingin berduaan seperti tadi, kalau saja hari libur, nambah ronde ya Mas," ucapku manja. Sengaja ingin memanas-manasi Mbak Afifah yang masih berdiri memperhatikan kami. 

Apa dia tidak punya adab? Huh ... Dasar Genit! Aku mendadak ingin memakinya padahal selama ini aku selalu sopan dan menghormatinya.

"Sini mendekat, Mas juga masih kangen sayang. Tapi kan Mas harus kerja. Kalau mangkir nanti kena panggilan dong. Hehehe."

"Mas, apa Mas tidak menginginkan anak?"

"Ya inginlah, Dek. Pasti setiap lelaki menginginkan keturunan dari darah dagingnya sendiri bukan?"

"Dariku atau perempuan lain?" tanyaku sambil terus bermanja.

"Kamulah ..."

"Hanya aku?" tanyaku menegaskan.

"Iya, Dek. Hanya kamu. Tidak ada yang lain," ucapnya.

Ahhh, Mas Abi sejak kapan kamu suka membohongiku? 

Tiba-tiba suara batuk Mbak Afifah membuat Mas Abi tidak nyaman bermanja-manja denganku.

Dengan cepat ia menarik tangannya dari tanganku.

Menyebalkan. Sungguh!

"Kenapa, Mas? Apakah kita salah sebagai suami istri seperti ini?" tanyaku menyindir.

"Kasian Mbak Afifah sudah lama menjadi janda. Nanti kangen belaian. Hehehe," ucapnya bercanda.

Aku pura-pura tertawa dan menanggapi ucapannya.

"Oiya toh nanti Mbak Afifah kepengen nikah lagi ya. Hehe."

"Ahhh Nabil bisa saja," jawab Mbak Afifah.

"Hayolah Mbak nikah lagi. Nanti ku jodohkan sama duda yang ngontrak di kontrakan Bu Haji Jannah ya. Dia naksir Mbak loh kayanya. Hehe," ucapku tertawa namun sesekali melirik Mas Abi yang tertunduk menikmati sarapan.

"Hehe, Nabil bisa saja," ucap Mbak Afifah.

"Ehhh, Dek gaboleh jodoh-jodohin Mbak Afifah. Gimana Mbak Afifah nya saja mau pilih siapa."

"Gimana Mbak, mau gak? Dia suka ke tokoku loh nanyain Mbak. Mau ya? Mending sama duda aja nikahnya jangan sama suami beristri," ucapku menyindir.

Dan sindiranku ternyata mempan lagi. Mas Abi terbatuk untuk kesekian kalinya. Membuat hatiku yakin jika diantara keduanya ada sesuatu yang disembunyikan.

Sedangkan Mbak Afifah tetap saja berpura-pura seperti tidak ada sesuatu ketika dihadapanku. Berbeda dengan tadi, ketika dia tidak menyadari sedang aku perhatikan dia nampak memasang wajah cemburu.

"Mas sudah selesai sarapan, sekarang berangkat dulu ya," ucapnya sambil masih menikmati teh hangat lalu mengelap mulut dengan tisu.

"Ko buru-buru, Mas?" tanyaku heran.

"Biasanya berangkat pukul 07.30 kan, sekarang masih pukul 07.00 Mas."

"Iya, Dek. Ada kepentingan dulu. Terus ini sudah pukul 07.00 tokomu belum dibuka. Nanti keburu keduluan ayam rezekinya."

Jujur, kecewa. Kenapa dia bisa sarapan berlama-lama dengan Mbak Afifah namun denganku ingin buru-buru saja pergi. Awas kamu Mas. Aku tidak ridho jika kamu berselingkuh.

"Yasudah Mas, aku buka toko dulu," lirihku meninggalkan Mas Abi yang sudah bersiap untuk berangkat. Lalu mengecup punggung tangan sebelum berangkat. Aku tidak langsung segera membuka toko namun aku ingin melihat dulu aksi mereka jika tidak sedang bersamaku.

Aku pura-pura sibuk, sehingga tidak mengantar Mas Abi ke depan pintu seperti biasa. Aku belok ke kamar Farhan untuk sekedar mengintip. 

Dan apa yang aku lihat. Di teras rumah, Mbak Afifah mencium punggung tangan Mas Abi, persis seperti yang aku lakukan.

Apa mereka tidak takut ada yang melihatnya? Kenapa? Kenapa Mbak Afifah seperti itu?

"Maafkan aku ya Maa."

Begitu ucap Mas Abi kepada Mbak Afifah. Maa? Mbak? Maa atau Mbak sih yang Mas Abi ucapkan? Sepertinya aku tidak salah denger kalau Mas Abi mengucapkan Maa. Tapi masa iya pendengaranku sudah terganggu. 

Ahh, yasudahlah. Aku mungkin salah mendengar kali ini.

Masalah mencium punggung tangan saja yang aku pikirkan. Awas kamu, Maaas.

Lalu, aku ke belakang rumah dan menuju toko disebelah rumah. Rumah dan tokoku berdampingan. Aku sengaja memisahkan antara toko dan rumah. Walaupun berdampingan akses jalan dari rumah ke toko harus melewati halaman belakang rumah terlebih dahuli.

Sudah hampir 10 tahun aku membuka toko, jika pagi hari aku yang membukanya, hingga pukul 09.00 aku memang menunggui toko seorang diri. Namun dari pukul 09.00, Nur karyawanku akan datang membantu.

Hanya 5 tahun ke belakang, ketika aku mulai mengurus Farhan bayi, semu kuserahkan kepada Nut. Namun, mengingat Farhan sudah masuk sekolah Taman Kanak, maka akupun terjun kembali di toko.

Sedangkan Mbak Afifah, aku pekerjakan di rumah membantu pekerjaan rumah.

Mengingat Mbak Afifah, mendadak hatiku kembali nyeri. Apakah mimpi semalam itu memang nyata?


Jangan Lupa Subscribe, Love, Ulasan baiknya dan Bintang Lima ya! Terimakasih sudah membaca dan juga memberikan kesan terbaiknya. Salam sayang dan peluk hangat dari author amatiran. Baca ceritaku yang lain juga ya. Semoga yang baca cerbungku selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiiin. Love You All


Mohon Maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan