BAB 6
Aku Belum Siap Dipoligami
BAB 6
#ABSD

Yang ku pikir selama ini adalah setelah Mbak Afifah memasak, lalu pulang ke rumahnya dan Mas Abi bersiap dan makan sore. Hanya itu yang aku pikir. 

Tapi semenjak malam tadi, aku merasa ada yang lain yang dilakukan Mas Abi dan juga Mbak Afifah di belakangku.

Aku menitipkan toko dan meminta Nur karyawan kuuntuk langsung menutup tanpa menungguku, karena sepertinya aku tidak akan kembali.

Lelah sekali rasanya, memikirkan Mas Abi dan Mbak Afifah. Huuuuh ...

"Nur, titip toko dan nanti langsung tutup saja ya, tidak perlu menunggu Ibu kembali."

"Baik, Bu."

Nur, adalah karyawan yang membantuku setiap hari di toko. Nur itu sangat cantik, kalau pun Mas Abi ingin poligami kenapa gak memilih Nur saja, malah memilih Mbak Afifah ya?

"Waduh ... Semakin ngawur saja kamu Nabil."

Aku mempercepat langkah kakiku, dan memelankan suara hentakan sandal. Walaupun tidak berlari tetap saja nafasku engos-engosan.

Kubuka gagang pintu belakang yang menghubungkan rumahku dengan toko. Segera menuju dapur sambil mengendap-ngendap.

"Dek, kamu kenapa?" tanya Mas Abi yang memergokiku. Kukira Mas Abi sudah di dapur. Ternyata, Mas Abi baru keluar kamar. Gagal deh. Mirip maling saja aksiku.

"Ooooh ... Anu Mas, kakiku terkilir. Tadi lari sih pas mau pulang kesini."

"Loh, ko lari? Gak kuat nahan pipis."

"Terus kenapa enggak di toilet kamar kita saja?"

"Takutnya, ganggu Mas lagi mandi."

"Ooooh," ucapnya sambil manggut-manggut dan menggaruk kepala yang tidak gatal.

Hmmm ... Harusnya aku yang memergoki Mas Abi, tapi malah Mas Abi yang memergokiku kecurigaanku.

Aku rasa, Mas Abi sudah mulai tahu tentang kecurigaanku, aku yang semakin aneh membuatnya semakin berhati-hati untuk melakukan sesuatu.

Hingga akhirnya, Mbak Afifah pamit pulang. Tak ada kejadian apapun sore ini antara Mas Abi dan Mbak Afifah.

***

Maghrib tiba, seperti biasa Mas Abi pamit untuk shalat berjamaah komplek. Dan Mas Abi akan pulang pukul 20.00, karena mengikuti pengajian malam bapak-bapak.

Sehabis shalat maghrib aku menemui Farhan, setiap hari memang kegiatanku seperti ini, ketila Mas Abi ke mushala, aku pun menemani Farhan.

Namun, kali ini fokusku bukan kepada Farhan. Aku bingung, bagaimana caraku mengetahui adakah hubungan antara Mas Abi dan Mbak Afifah.

"Farhan, Bunda tinggalkan sendiri, boleh?"

"Boleh Bunda, Farhan kan anak pintar. Tidak takut dan pemberani."

"Anak sholeh. Terimakasih ya. Nanti Bunda balik lagi kalau urusan Bunda sunda selesai sayang."

"Siap, Bunda."

Aku pergi meninggalkan Farhan dan menuju ke kamar. Aku ingin sekali bercerita keluh kesahku saat ini. Pastinya selain kepada Sang Maha Mengetahui. Namun aku juga membutuhkan teman ngobrol agar aku tak salah dalam mengambil keputusan.

Ku telpon sahabatku, Risma. Berdering. Tidak lama, sambungan terhubung. 

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam Nabil, tumben hehehe."

"Aku, mau curhat Ris," lirihku.

"Hah? Suamimu kemana?"

"Justru ... tentang suamiku, Ris."

"Loh ... kenapa?"

"Dia selingkuh, Ris."

"Sudah ada bukti?"

"Belum sih, tapi aku yakin 100 persen, Ris."

"Jangan gegabah, Bil. Kalau kamu belum punya bukti, berarti belum tentu suamimu selingkuh."

"Terus untuk mendapatkan buktinya bagaimana, Ris?"

"Hmmm ... Aku ada ide sih, tapi sebetulnya ini bahaya Bil."

"Apa?"

"Menyadap pesan Whats'App suami dan selingkuhannya."

"Caranya?" 

"Aku gak tau Bil, maafkan."

"Risma, aku serius loh."

"Aku, Dua Rius Bil. Hehehe," ucapnya mengejek.

Aku tidak menimpali ucapan Risma, kenapa Risma harus bercanda sih.

"Hallo ... Bil?"

"Hallo ... Nabil?"

"Iya, Ris. Maaf ya Ris, aku merepotkanmu. Aku hanya ingin meluapkan isi hatiku. Kecurigaanku dan juga kegelisahanku."

"Aku bercanda, hey. Aku punya temen kok Bil. Nanti aku hubungi dia untuk membantumu menyadap pesan WhatsApp suamimu dan selingkuhannya. Kalau memang terbukti benar kamu mau apa?"

"Entahlah, Ris. Yang jelas sekarang aku ingin memastikan kecurigaanku selama ini. Benar atau tidak!"

"Baiklah. Aku hubungi temanku dulu ya. Mudah-mudahan dia bisa membantumu, ya."

"Terimakasih banyak, Ris."

"Sama-sama Bil, kuat dan tidak boleh lemah."

"Iya."

Tak lama berselang, ada nomor baru menghubungiku melalui pesan WhatsApp.

[Malam Mbak Nabil, saya Faisal teman Risma.]

[Iya Mas, sudah Risma jelaskan tujuan saya?]

[Sudah Mbak. Saya hanya meminta data-data nomor ponsel yang akan di sadap.]

[Baik.]

Beberapa menit aku mengirimkan data-data WhatsApp Mas Abi, syukurlah dia tidak membawa Handphone. Jadi memudahkanku untuk menyadap pesan WhatsApp nya.

Faisal meminta email, dan pesan sadapan akan masuk ke pesan email. Begitu penjelasannya.

Namun, tidak ada pesan antara Mas Abi dan Mbak Afifah. Kosong. Tidak ada yang aneh. Kontaknya pun tetap bernama Mbak Afifah.

Yasudah, mungkin bukti-bukti perselingkuhan mereka aku bisa dapatkan besok. 

Setelah selesai dengan urusanku, aku kembali ke kamar Farhan. Ternyata anak manis itu sudah tertidur.

Ketika melirik jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 20.30, kenapa Mas Abi belum pulang? Atau selama ini memang selalu telat namun aku yang tidak pernah menyadari?

Karena curigaku memang sudah di level 100. Aku bergegas keluar rumah. Mengintip ke rumah sebelah, tepatnya rumah Mbak Afifah.

Sandal Mas Abi? Benar ... Itu sandal Mas Abi. Kenapa ada di rumah Mbak Afifah???


Jangan Lupa Subscribe, Love, Ulasan baiknya dan Bintang Lima ya! Terimakasih sudah membaca dan juga memberikan kesan terbaiknya. Salam sayang dan peluk hangat dari author amatiran. Baca ceritaku yang lain juga ya. Semoga yang baca cerbungku selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiiin. Love You All


Mohon Maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan