BAB 4
Aku Belum Siap Dipoligami
BAB 4
#ABSD4

Setelah jam menunjukkan pukul 08.00, Farhan bersiap untuk berangkat ke sekolah diantar Mbak Afifah.

Dulu, aku pernah mengatakan kepada Farhan kalau Bundanya Farhan memang ada dua, yaitu aku dan Mbak Afifah. Aku, Bundanya yang mengurusnya semenjak bayi, sedangkan Mbak Afifah adalah Bunda yang melahirkannya.

Sehingga Farhan pun tidak pernah mempermasalahkan siapa Bundanya yang sesungguhnya. 

Karena yang dia tahu Bundanya memang ada dua. Bahkan, ketika sudah memulai Sekolah, Farhan selalu saja bercerita, jika sekarang mempunyai banyak Bunda. Bunda di rumah dan Bunda di sekolah.

Mbak Afifah dan Farhan, sudah bersiap untuk pergi ke Sekolah, dan seperti biasa berpamitan terlebih dahulu kepadaku.

"Bunda, aku pergi sekolah dulu ya," ucapnya dengan sangat menggemaskan.

Meskipun dia anak Mbak Afifah, aku mencintai Farhan sepenuh hatiku seperti mencintai anakku sendiri.

"Nabil, Mbak antar sekolah Farhan dulu ya," ucap Mbak Afifah kemudian, lalu berpamitan.

*** 

Mas Abi memberiku kesibukan di toko agar aku tidak melulu berdiam diri dan bersedih karena menginginkan sebuah keturunan, itu katanya dulu.

Dan sekarang, toko kami sudah semakin maju. Hasil dari toko pun, tidak pernah Mas Abi meminta. Justru, setiap bulan Mas Abi menambah modal untuk barang-barang di tokoku.

Ketika kami mempunyai toko, sedikit demi sedikit tabungan kami mulai bertambah, begitupun dengan tanah, dan sawah. Sudah banyak dan luas.

Alhamdulillah, mungkin menurut sebagian orang kehidupan kami sangat sempurna dan bahagia sekali. Tetapi menurutku sama saja tidak, lebih tepatnya belum sempurna. Meskipun aku sudah mempunyai Farhan, namun tetap saja. Farhan bukanlah anak yang terlahir dari rahimku sendiri.

Ketika aku melihat kedekatannya dengan Mbak Afifah, mungkin itu untukku belajar dan juga berfikir, jika suatu saat nanti, pasti Farhan akan kembali kepada Ibu yang melahirkannya. Dan aku harus siap. Kapanpun itu waktunya.

Farhan pulang Sekolah sekitar pukul 11.30, aku selalu beristirahat dari toko ketika Farhan sudah pulang dari Sekolah, menemaninya makan siang dan menemaninya membaca cerita sebelum tidur siang. Lalu kembali ke toko ketika Farhan sudah tidur siang.

Sedangkan Mbak Afifah, akan pulang ke rumahnya terlebih dahulu, lalu ke rumahku lagi sekitar pukul 15.30 atau selepas adzan ashar untuk menyiapkan makanan untuk Mas Abi pulang dan santapan makan malam.

***

Waktu istirahat tiba, aku menitipkan toko kepada karyawanku dan segera menuju rumah untuk melaksanakan shalat dzuhur.

Ku lihat Mbak Afifah, ternyata masih ada di kamar Farhan, dan dia belum pulang ke rumahnya.

"Mbak Afifah, belum pulang?" tanyaku sambil menghampiri Farhan.

"Belum Nabil, tanggung ini beresin dulu pakaian punya Farhan."

"Hallo, Bunda Selamat Siang," ucap Farhan mencium tanganku, lalu ku kecup keningnya seperti biasa.

"Selamat Siang, sayang. Ganti baju ya, jangan lupa cuci kaki dan cuci tangan lalu kita makan siang bareng-baren. Oke? Tapi Bunda mau shalat dulu ya."

"Oke, Bunda," ucap Farhan sembari mengacungkan jempolnya. Lucu sekali dia. Pintar.

"Sudah makan, Mbak?" tanyaku pada Mbak Afifah, basa basi. Karena aku tahu pasti jawabannya belum, karena Mbam Afifah baru pulang dari Sekolah Farhan.

"Belum, Nabil."

"Nanti makan bareng aku saja ya, tapi aku mau shalat dzuhur dulu, nanti kita makan bareng-bareng."

"Iya," ucapnya singkat.

Kegiatan antara aku dan Mbak Afifah yang dilakukan berdua itu sudah sangat sering. Dan kami memang sudah seintim ini, layaknya adik dan kakak. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai asisten di rumah ini, begitupun dengan karyawan tokoku. Aku pasti menganggapnya sep Nurerti keluarga. Jika mereka mengkhianatiku, sungguh tega sekali.

Namun menurutku, sejauh ini tidak ada yang aneh dalam kepribadian Mbak Afifah, apa boleh aku menduga ada apa-apa diantara Mbak Afifah dengan suamiku? 

Setelah melaksanakan kewajiban shalat dzuhur, aku bergegas kembali menuju toko untuk mengambil ponsel, karena tadi pulang terburu-buru, aku lupa menaruh ponselku dimana. Mungkin tertinggal di toko. Takutnya Mas Abi menelponku seperti biasa. Atau ada hal-hal penting lainnya. Karena selain berjualan di toko, aku pun berjualan online di Marketplace nomor satu. 

Ketika akan menuju toko, pintu belakang sudah terbuka dan dari jarak beberapa meter, aku mendengar Mbam Afifah sedang berbincang-bincang, mungkin sedang menelpon. Dan memang benar, Mbam Afifah sedang menelpon seseorang. 

Aku tidak tahu, Mbk Afifah sedang berbicara dengan siapa. Namun entah mengapa dadaku serasa aneh, seperti berbeda dan jantungku tiba-tiba berdetak hebat sekali.

"Iya, Papa, tenang saja. Mama baik-baik saja ko," ucap Mbak Afifah yang tidak menyadari keberadaanku karena posisi Mbak Afifah sedang membelakangi arah jalanku menuju toko.

'Mama? Papa? Seorang Janda mengatakan Papa dan Mama? Apakah Mbak Afifah punya pacar? Dan sudah saling memanggil dengan sebutan Mama dan Papa? Ataukah? Chattingan semalam di Handphone Mas Abi itu memang benar? Mbak Afifah memanggil suamiku dengan sebutan Papa? Dan Mas Abi memanggil Mbak Afifah dengan sebutan Mama? Apakah aku tidak salah?'

Sebaiknya aku cari tahu dahulu, dengan siapa Mbak Afifah berbicara. Memang tidak baik mendengarkan pembicaraan seseorang, tapi untuk menghilangkan perasangka burukku, aku harus tetap mendengarkannya. Aku berbalik menuju rumah. Namun tetap mendengarkan Mbak Afifah berbicara di balik dinding rumah. Karena posisi pintu tidak tertutup, suara Mbal Afifah masih bisa kutangkap dengan jelas.


Jangan Lupa Subscribe, Love, Ulasan baiknya dan Bintang Lima ya! Terimakasih sudah membaca dan juga memberikan kesan terbaiknya. Salam sayang dan peluk hangat dari author amatiran. Baca ceritaku yang lain juga ya. Semoga yang baca cerbungku selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiiin. Love You All


Mohon Maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan