Borneosville
Lima puluh tahun yang lalu, ibu kota negeri ini berada di pulau Jawa, Jakarta. Gemerlap dengan bintang dan uang yang tak pernah sepi. Wajah panutan bagi daerah tertinggal di pulau-pulau lainnya. Namun, alam marah kepadanya. Dia membuat pulau itu tertelan laut. Hingga semua orang yang selamat pindah ke pulau Kalimantan. Di sanalah sebuah kota baru muncul dengan nama Borneosville.

Segala kecanggihan teknologi berkumpul di sini. Para ilmuwan bekerja keras, pelajar terus berprestasi, orang kaya tumbuh subur. Mereka tak butuh uang orang lain. Pekerja rendahan pun berasal dari pulau lain atau luar negeri. Hebat bukan? Kerajaan Indonesia telah berdiri tegak dengan bendera yang sama, namun ada lambang kerajaan berbentuk garuda di bendera itu. 

Manusia telah berubah. Kerajaan baru dicengkeram erat oleh manusia lugu yang berhasil membuat undang-undang baru. Dia yang kini terduduk lesu melihat rakyatnya nyaris tak tahu malu. Kebebasan yang tak terikat kecuali oleh peraturan dalam lempengan yang ditanam dalam pergelangan tangan setiap orang. 

Mereka tak lagi takut apapun kecuali sistem peradilan kerajaan dengan undang-undang terbuka. Semua orang bisa mengakses dengan mudah peraturan negara dalam hologram hanya dengan menjentikkan jari.
Tidak perlu berujar apapun, cukup memikirkannya. Artificial intelligence mencapai tahap mendekati sempurna. Hanya saja mereka tak bisa mencegah kematian. 

Namun, ilmuan-ilmuan kepala botak dengan air liur menetes setiap hari mengadakan pertemuan demi proyek besar. Menghidupkan kembali orang yang sudah mati hanya dengan sampel DNA.

“Aku suka bukit Borneo yang tidak pernah berubah sejak seratus tahun yang lalu.” Wanita berpakaian serba hitam itu duduk di balkon sembari meminum teh pada cangkir yang dibuat khusus untuk dirinya. 

“Bukankah undang-undang tidak mengizinkan anak di bawah 17 tahun untuk menampung bayi?” Aisy berujar dengan mata menyala. Sorot mata tajam itu seperti dipenuhi api. Baginya perempuan gagak ini tidak lebih dari sekedar germo.

“Kamu benar-benar tidak suka menikmati hidup Aisy. Helena tidak keberatan ikut denganku. Urusanmu selesai sampai di situ.”

“Dia ada di bawah tanda tanganku. Karena orang tuaku tidak ada.”
Dalam aturan kerajaan Zamrud, seorang anak yang masih di bawah 17 tahun berada dalam pengawasan walinya. Meski ia anak yang berbakat sekalipun, wali harus turut andil melihat gerak-gerik anaknya. 

Chipphone telah menciptakan teknologi agar orang tua tahu anaknya ada di mana. Bahkan, terlihat dengan jelas setiap adegan yang dilakukan putra-putri mereka secara langsung dalam layar hologram.

“Jangan bodoh. Kamu juga belum 17 tahun. Orang tuamu itu sudah memberikan sidik jarinya kepadaku sebagai tanda perjanjian yang sah. Ini lebih kuat dari tanda tangan yang bisa ditirukan. Bahka kode QR Helena pun ada padaku.”

Aisy kehabisan kata. Dia mulai bertanya-tanya apa maksud orang tuanya mengirim mereka jauh dari keluarga. Gadis itu bahkan sempat hampir kehilangan jati dirinya di tangan lelaki asing bermata biru. Kini Helena terdampar, ah tidak, dia menyerahkan diri ke Gerai Ibu Tabung. Perempuan berambut panjang itu bergidik membayangkan Helena dengan perut menggelembung dengan bayi yang harus ia jaga. 

Perempuan gagak ini memang keterlaluan. Dia menjebak Aisy melalui Helena. Untuk menyelamatkan gadis belia itu, ia harus mendapatkan angka 17 itu. Lalu, perjanjian itu akan ia perbaharui. Baginya keselamatan Helena lebih penting. Gadis kecil itu harus sekolah lagi.

Seorang perempuan tengah baya datang membawa amplop khusus berwarna emas. Maria langsung tahu apa yang ada di dalamnya. Ia memikirkan sesuatu lalu tersenyum sinis. Perempuan itu berbalik arah melihat Aisy. Dari jarak cukup jauh ia berteriak.

“Hey Aisy. Waktunya hampir tiba. Bersiap-siaplah untuk audisi.”

Maria tidak lagi memikirkan limpahan harta yang akan ia perolah dengan membawa Aisy ke Gerai Ibu Tabung. Ada rencana lebih liar di dalam otaknya yang membuat perempuan itu semringah setiap hari. Terbayang olehnya, harta karun dan kekuasaan yang akan berada di genggamannnya.

***

“Mungkin gak ya, kita bisa kembali menjadi negara republik?” Haeril bertanya pada Idris yang sudah jelas-jelas tidak tahu jawabannya.
Laki-laki berkacamata itu sedang sibuk mencari informasi kitab kuno yang dua puluh tahun lalu ia temukan di antara tumpukan mayat. Google, mesin pencari yang masih tetap mutakhir tahun 2120 juga tak ada informasi tentang itu. Tidak ada gambar satu pun yang menunjukkan eksistensi buku kuno itu.

“Tulisannya sama,” gumam Idris agak keras hingga Haeril pun meliriknya
“Apa? Lo cari apa sih dari tadi?”

“Kitab kuno ini kaya ada hubungannya sama chips yang gue temukan pas ada pembantaian,” Idris memberikan sebuah buku kecil seukuran telapak tangan yang lembarannya sudah berwarna coklat. 

“Inilah kalau sistem kerajaan yang absolut. Tentara seenaknya nebas orang. Kejam banget sama sesama manusia.”

“Nembak woy. Pakai pistol itu, bukan pedang. Lagian apa tentara itu manusia ya?”

Idris masih mencari dengan laptop lamanya. Disaat semua orang dengan mudah menggunakan hologram, ia malah berkutat dengan barang-barang kuno. Hanya Idris yang masih setia dengan jam tangan digital melingkar di tangan dan kacamata minus berbingkai. Padahal, teknologi telah bisa memindai mata minus dengan sinar laser menjadi normal kembali.

Haeril tampak sibuk membaca buku catatan peninggalan kakek buyutnya. Ia ingat betul pernah melihat aksara yang sama. Buku kuno itu, ia pernah tahu saat masih kecil. Ruangan rahasia ini hanya mereka berdua yang tahu. Letaknya di bawah tanah. Rumah Haeril yang kecil tidak memungkinkan untuk membangun ruang perpustakaan. 
Akhirnya, kakek buyutnya membuat perpustakaan bawah tanah. 

Borneosville memang indah, alami, dan modern. Kotanya canggih dengan bangunan rumah yang kokoh. Penduduknya hidup bebas dengan tidak mengusik orang lain sebagai satu-satunya larangan. Ada klub-klub malam dengan berbagai tujuan. Para pemuas nafsu bekerja di sana dengan upah yang rendah. Hubungan antara manusia bebas, bahkan negeri ini membiarkan pernikahan seorang laki-laki dengan anjing cantik kesayangannya. 

Pohon-pohon menjulang dengan rekayasa genetika. Buah-buahan bisa dipetik dengan mudah. Orang-orang memilih makanan apa saja yang mereka inginkan hanya dengan menyentuh layar hologram. Kecanggihan teknologi merambah dalam segala lini kehidupan. 

Bahkan teknologi pakaian pun mudah sekali didapat. Tidak ada lagi orang yang membeli baju kebesaran atau kekecilan. Semua dipesan sesuai keinginan, pas. Baju itu bisa dipakai seumur hidup tanpa takut rusak. Ketika si pemilik berubah menjadi kurus atau gemuk, mereka tak perlu bersusah payah membeli baju baru, karena pakaian mereka bisa menyesuaikan diri dengan pemakainya.

Itulah Borneosville, nyaris tanpa cacat. Raja Indonesia, Yang Mulia Raden Agung Cokrodiningrat telah memerintah dengan kebijaksanaan setara langit. Ia terlahir dari keluarga pemimpin Indonesia terdahulu yang berhasil menduduki negeri ini selama dua periode dan terpilih lagi selang satu periode berikutnya.

***

Tercium aroma pengap ketika Edward membuka mata untuk pertama kalinya. Kerjapan yang berulang-ulang membuat pemuda bermata biru itu bisa membuka matanya. Entah ini malam atau siang, tempatnya berada tampak remang. Hanya ada satu sumber cahaya. Sebuah lilin yang hidunya juga sudah hampir berakhir.

Di mana ini? Apa masih ada daerah tertinggal di Indonesia sampai separah ini? Dinding tempat Edward bersandar terbuat dari botol plastik bekas yang disusun rapi. Sebuah meja tempat lilin berdiri juga hanya bekas kaleng biskuit yang sudah dipermak. Pembuat kerajinan ini benar-benar kreatif. 
Lamat-lamat terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat. Edward berpura-pura tak sadarkan diri. Sosok itu mendekati Edward lalu menyiramnya dengan air dingin.

“Tak usah pura-pura pingsan. Bangun!” Pria itu membentak ganas. 
Edward membatalkan kepura-puraannya. Percuma juga, laki-laki dekil di depannya ini sepertinya sudah mencium kesadarannya. 

“Katakan siapa namamu! Kenapa kau sampai pada bukit batu itu? Kau mata-mata, he?”

Dari dekat pria dekil itu tampak mengerikan dengan codet miring di pipinya. Nafasnya tidak bau, walaupun kulitnya gelap. Dia pasti tidak tersentuh teknologi pengubah warna kulit. Edward mulai menyesal terjebak di ruangan asing ini.

“Kau diam saja he? Aku ini bertugas mencari tahu identitasmu. Kalau kau diam saja aku tinggal sajalah. Mati kelaparan saja kau di sini.” Pria dekil itu sudah memutar tubuhnya.

“Tunggu. Saya Edward. Tempat itu sering dikunjungi seorang wanita bernama Tika Pramoedya. I’m looking for her.  She is my mother.”

Edward mengerutkan kening. Ia lupa nama lengkap ibunya. Terakhir saat perempuan terkasihnya itu pergi, dirinya ditemukan di pinggir pantai. Sejak itu, ia tidak ingat wajah ibunya. Hanya suara perempuan itu yang masih terngiang di kepalanya.

“Dari mana kau tahu nama itu? Borneosville tidak punya data itu. Kau pegawai Kerajaan kan, he?”
Siapa orang dekil ini? Edward merasa ada harapan untuk bisa bertemu ibunya. Tujuannya untuk mengenang tempat yang sering ia kunjungi bersama ibunya malah membuka sebuah kesempatan baru. Ia akan mengikuti permainan pria dekil ini sampai bisa bertemu dengan ibunya lagi.
****