Edward
“Hilang? Kau bilang dia hilang? Perempuan sebiji saja tak bisa kau tangkap ha?” teriak seorang pria dengan rambut di pipi dan dagu. 

Matanya membulat, guratan merah terlihat di sekitar korneanya yang berwarna biru langit. Mulutnya sudah terkatup, tapi giginya masih berbunyi gemerutuk. Nafasnya mengendus-ngendus seperti suara babi hutan. Tangannya mengepal, tubuhnya hampir sama besar dengan gorila. Tapi ia berkulit putih. 

“Cari dia. Perempuan itu harus jadi wanitaku.”

Pria itu membanting tubuhnya ke sofa. Ruangan berukuran 4x4 meter itu kini sunyi. Sembilan orang yang tadi berkumpul telah pergi, mencari seorang wanita berambut panjang. Gadis yang berhasil ia beli dengan harga mahal. Lebih malah dari Lamborghini terbarunya. 

Bagaimana tidak? Sulit mencari perempuan saat ini. Jangankan yang masih murni, bahkan yang bekas pun sudah lebih memilih sesama perempuan. Para laki-laki yang ingin punya keturunan kebingungan harus ke mana membuang cairan. Perempuan di negeri itu sedikit. Sebagian mati karena Aids, sebagian lagi bunuh diri, atau saling membunuh.

Laki-lakinya pun sama. 

Dua puluh tahun yang lalu, saat teknologi belum sesempurna ini. Manusia masih berhubungan baik, saling menyapa, dan menebar cinta. Tapi kini, sekelompok orang yang mengatasnamakan HAM justru menghancurkan manusia itu sendiri.

Lima puluh tahun yang lalu mereka berdemo, meminta pemerintah melegalkan organisasinya. Memaksa hak yang sama sebagai manusia. 
Dan ketika sang pemimpin negeri mengabulkan, maka titik awal kepunahan terjadi. Manusia banyak yang mati berpenyakit. Mati dibunuh atau bunuh diri. Setiap hari ada saja yang menemukan mayat di pinggir jalan, selokan, sungai, di mana-mana. 

Laki-laki itu menekan salah satu tombol jam tangan di pergelangan kiri. Sejenak kemudian muncul wajah di atas layar.

“Hei, Edward. What’s wrong? Come here, we have a party!”

“No, Thanks. I’m not in a good mood. I’ve lose my bitch. Fuck….”

“Kenapa? Biar aja dia pergi. Jangan paksa orang. Itu hak asasinya untuk gak mau nampung sperma lo.”

“Gue gak mau keturunan gue punah.”
Pria dalam ponsel itu tertawa. Matanya yang sipit nyaris hilang tertekan kelopaknya sendiri. 

“It’s up to you. Gue saranin lo pergi ke rumah ibu tabung. Di sana banyak perempuan yang bisa dibayar untuk punya keturunan.”

“Gak. Gue mau anak gue nanti berasal dari rahim yang masih bersih. Bukan bekas bayi orang dari bermacam sperma yang gak jelas asalnya.”

Pria bermata sipit itu terkekeh lagi, ”kalau gitu lo harus pakai sistem primitif, nikah.”

“Lo kan tahu gue masih punya hubungan sama Pedro. Mana ada perempuan primitif yang mau sama gue.”

“Ya udah. Terima aja perempuan sewaan di Gerai Ibu Tabung. Susah amat. Gue kenal kok sama ownernya. Mrs. Maria.”

Edward berdecih, mata birunya menyala. Menurutnya juga ia terlalu bernafsu pada gadis itu. Sebetulnya Edward bisa mendapatkan perempuan miskin lain di negeri ini. Kenapa harus perempuan itu? Bahkan dengan sekali tekan tombol, perempuan-perempuan itu datang sendiri. Tapi, gadis bernama Aisy itu berbeda. Matanya polos, tidak binal seperti banyak keturunan Hawa yang kerap ia temui. Dia tampak seperti cahaya.

Pria itu meremas rambut dengan kedua tangannya. Ia berjalan menuju meja, menuangkan segelas vodka. Di kejauhan tampak foto keluarganya menempel di dinding. Ia mendekat, menyentuh gambar seorang wanita dengan kain kebaya serta kerudung. Pemuda itu mengembangkan senyum miring, tapi matanya merah dan berair. Lalu ia tergugu, bahunya berguncang.
***

“Gak usah ke luar negeri lah Nak. Di sini kan banyak juga universitas bagus. Nanti kamu ketularan pergaulan bebas loh. Ibu gak suka.”

“Apa yang Ibu bicarakan? Negeri kita sudah membebaskan hak asasi manusia, termasuk bergaul. Udah sepuluh tahun manusia menikmati kemerdekaan karena pemimpin negara yang pikirannya maju.”

“Maju dalam arti pikiran mereka, tapi mundur dari segi akhlak.” Tukas ibunya dengan penekanan.

“Come on Mom…. Akhlak lagi. Kosakata primitif itu sudah tidak berlaku lagi. Kita sudah bebas dari belenggu aturan yang tidak manusiawi dari kitab kuno. Agama... cuma tinggal sejarah.”

Edward menata pakaian dalam koper berwarna ungu. Ibunya hanya menunduk, Tetesan bulir jatuh dari matanya yang bening. Ia menghela napas, lalu pergi meninggalkan kamar anaknya. Edward adalah putra satu-satunya keluarga itu. Harapan dari wanita bernama Tika Pramoedya. Suaminya sudah tewas ditembak aparat, lantaran menyampaikan orasi di depan gedung pemerintahan bersama dengan kelompoknya.

Hari itu sejumlah kecil orang-orang berpakaian putih yang sekitar seratus orang berdemo kepada pemerintah. Para pria dan wanita yang berbaris rapi meneriakkan tolakan terhadap undang-undang hak asasi manusia. Mereka melarang pernikahan yang telah lama dianggap tak wajar. 

Di luar dugaan, entah dari mana asalnya rentetan timah panas membombardir orang-orang berbaju putih itu. Cairan merah mewarnai jalanan, bau anyir menguap ke angkasa dibawa angin menyebar ke seluruh sudut-sudut kota. Membuat para nyamuk terbangun dari tidurnya.

Dua puluh tahun berlalu, masyarakat sudah lupa peristiwa berdarah itu. Tidak ada dokumentasi apa pun. Berita pun diputar balik hingga keseratus orang-orang berbaju putih itu tercatat dalam sejarah sebagai kelompok pemberontak. Mereka didakwa membawa nilai-nilai radikal yang mengatasnamakan ajaran nenek moyang. Bahkan, ditulis sebagai penyebar kebencian yang hendak melawan hak asasi manusia. 

Keseratus orang itu, kelompok terakhir yang berjuang dengan ideologi kuno di depan pemerintah secara nyata. Sedang yang lain, berjuang secara tersembunyi mempertahankan ideologi itu. Meski satu persatu mati dengan berbagai sebab. Kecelakaan, bunuh diri, atau berpenyakit. Sisanya melarikan diri. Keluar dari negeri hijau yang kini mulai tertutup kabut gelap. Manusia-manusia di dalamnya bergerak bebas atas nama humanisme, kemanusiaan. Asalkan tidak mengganggu atau menyakiti manusia atau makhluk lain, maka dianggap wajar. 

Suka sama suka, prinsipnya.
Termasuk bercinta sesama jenis, bercinta di jalanan, bercinta dengan hewan, dan berbagai perbuatan yang dua puluh tahun lalu ditentang habis-habisan oleh orang-orang berbaju putih. Tika, hanya satu dari mereka yang berjuang dalam diam. Meski ia sendiri tak bisa menjaga putranya, Edward Pramoedya MacSaleem .

Kini Edward tumbuh mengikuti idealisme kehidupan. Tidak ada agama, tidak ada omong kosong tentang Tuhan dan kitab suci. Dia bebas bersama keinginannya sendiri. Nasihat ibunya tak lagi menjadi hal yang ia pedulikan. Sampai suatu hari, perempuan berparas tradisional itu justru lenyap. Pemuda bermata biru itu kelimpungan mencari sosok terkasih yang masih ia miliki. Satu-satunya manusia yang ada bukan sebagai pemuas nafsunya. Wanita yang hanya dengan melihatnya saja Edward bisa meneteskan air mata. 

***

Matahari melewati garis pagi. Sinarnya mulai membakar kulit, tapi tak jua membangunkan perempuan berambut panjang yang tertidur di bawah dahan pohon mahoni. Bibirnya tampak hitam dengan kulit pucat serupa mayat. Beruntung, masih ada nafas yang keluar masuk dari lubang hidungnya. 

Seorang wanita paruh baya berkerudung hitam memeriksa denyut nadi gadis tadi. Ia tersenyum. Tangan halus perempuan itu membelai lembut rambut perempuan yang tertidur di hadapannya. Perlahan gadis itu membuka mata. Ia menampik tangan ibu setengah baya yang membangunkan tidurnya.

“Siapa?” tanyanya dengan bibir bergetar. 

“Aku Maria. Kenapa kamu tidur di sini? Tidak tahukah kamu kalau tidur di luar gedung seperti ini berbahaya. Siapa saja bisa memangsamu.”

Kata-kata perempuan ini menakutkan. Bagi sang gadis, perempuan itu tak lebih seperti burung gagak. Pakaian hitam, lipstik hitam, bola mata hitam, alis hitam, dan kuku yang dicat hitam. Jika perempuan ini berdiri di tengah hutan, tak akan ada yang menyangka dia manusia. Wanita bernama Maria itu tersenyum, tampak gigi-giginya yang panjang merata berwarna putih. Selain serba hitam, perempuan ini berkulit putih, beruntung skleranya juga putih.

“Siapa namamu?”

“Aisy,” jawabnya perlahan.

“Ikutlah denganku. Kau bisa membantuku menjaga para wanita yang membutuhkan bantuan. Yayasan sosialku bergerak untuk para wanita.”

Aisy tidak menjawab. Mata bintangnya masih menelisik perempuan yang sejak tadi berkoak-koak seperti burung gagak. Suara wanita itu parau, kepalanya terus bergerak-gerak. Lihatlah, bayangannya pun seakan melawan tubuhnya sendiri. 

Wajah Aisy meragu, Maria seolah memancarkan aura serba gelap dari sorot matanya. Tapi, gadis itu tidak memiliki tempat bersembunyi. Bagaimana jika Maria juga hanya berpura-pura baik kepadanya? Seperti pria bernama Edward yang datang ke kampungnya tempo lalu. Soal itu, pikirkan saja nanti. Yang penting, dia punya tempat bernaung dulu.

Matahari semakin merangkak, panasnya menyengat. Akhir-akhir ini hujan jarang turun. Seperti menahan air di langit. Mungkin Tuhan mengalirkan air itu ke surga saja. Memberinya pada orang-orang yang masih mengingatnya. Seperti orang-orang berbaju putih dua puluh tahun yang lalu. Apa tadi? Tuhan? Sudah lama Aisy tidak pernah dengar kata benda itu. Hanya bapak dan ibunya di kampung yang masih menyebut-Nya. Itu pun kalau mereka dalam keadaan marah. 

“Demi Tuhan Aisy, daripada kau membaca buku kuno itu lebih baik carilah uang untukku,” teriak bapaknya setiap hari. Dan ibunya tak jauh beda, hanya mengutuk Tuhan kapan saja sekenanya, termasuk karena hujan jarang turun. Tuhan pelit, Tuhan galak, Tuhan menyebalkan dan segala umpatan lainnya. 

“Bagaimana?” perempuan hitam itu bertanya lagi.

“Baiklah. Aku tahu ini tidak akan cuma-cuma.”

“Tentu. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Bahkan buang air saja kau harus bayar.”

****