2. Kemunculan Leon.
Bukan Salah Rasa. 

# kbm_cerbung.

Bag 2



Waktu menunjukkan pukul sebelas siang ketika aku menginjakkan kaki di Bandung. Buru-buru menuju ruang make-up karena acara akan dimulai jam satu siang nanti. 

"Beb, kita makan dulu, yuk. Laper, nih!" seru Alan asisten pribadiku yang memang sejak pagi kami belun sarapan. 

"Ya, udah. Pesen, gih, di aplikasi online. Gue mau ganti baju dulu, lanjut touch-up. Waktu dah dead line, nih!"

"Ya, udin. Dirimu mau makan apa? Biar gue pesenin sekalian!" tanya Alan yang terlihat sedang menatap gambar aneka menu pada ponselnya. 

"Apa aja, deh. Yang penting pedes!"

"Oke!"

Setelah selesai mengganti baju dan beres make-up. Aku pun menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi. 

Ketika sampai disana, semua sudah siap dan kami langsung breafing sebentar sebelum memulai acaranya.

Satu demi satu rangkaian acara berjalan dengan mulus tanpa hambatan berarti. Semua merasa puas begitupun diriku. 

Tepat pukul empat sore semuanya telah selesai seluruhnya. Aku dan Alan bergegas menuju hotel untuk beristirahat sejenak sebelun kita kembali lagi ke Jakarta jam tujuh malam nanti karena masih ada jadwal untuk syuting iklan prodak.

Setelah sampai di hotel, aku langsung merebahkan diri diatas kasur yang telah di sediakan. Iseng-iseng membuka aplikasi youtube untuk sekedar mencari hiburan.

Sementara, Alan, sibuk mengemasi semua barang yang habis kupakai untuk acara tadi. 

Tanpa diduga, HP Alan tetiba berdering dan membuatku seketika senyum-senyum sendiri. Bukan apa, tapi ringtone yang dihasilkan dari dering itulah yang membuatku sedikit tersentil. Bagaimana tidak, liriknya itu benar-benar seperti sedang menyindirku. 

   -Aku ra mundur, Mas.
    Seko hatimu ....
    Masio seandainya, tak merestuiku.
    Koyo tepung kanji, nang duwur 
    mejo.
    Yen gusti ng'restu'i ....
    Wong tuo biso opo .... 

Aku terkikik geli, Alan yang hendak mengangkat telfon pun menoleh.

"Kenapa cekikikan sendiri, Beb? Emangnya, ada yang lucu?" tanya Alan memandangku bingung. 

"Kepo aja loe, udah buruan angkat tuh. Berisik, tau!" sahutku yang setengah mati menahan tawa agar tidak meledak. 


------****------


Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, kini aku dan Alan sudah dalam perjalanan pulang menuju Kota Jakarta. 

Sepanjang jalan, ingatanku selalu tertuju pada Mas Arya. Baru juga sehari kami berpisah, tapi aku sudah sangat merindukannya. 

Benar kata Dilan, rindu itu berat. Seberat aku melepasmu untuk pergi bersamanya.

'Mas, apakah kamu juga merindukan aku sama seperti aku merindukanmu? Apakah kamu juga mengingatku meskipun kini Mbak Novita ada di sampingmu?" jeritku dalam hati.

"Elo kenapa, Beb? Ngalamun aja," suara bariton Alan seketika membuyarkan lamunanku. 

"Gak apa, cuma lagi pengen nikmatin perjalanan aja," kilahku sambil membuang pandangan ke arah jendela kaca mobil. 

"Gue tau, elo pasti lagi kangen ama si ganteng, kan?" tebak Alan tepat sasaran. 

"Kalo iya, emangnya kenapa? Salah?" akuku ahirnya. Percuma saja mengelak dari Alan, toh dia juga sudah tau semuanya. 

"Salah sih enggak, yang namanya rsasa itu emang gak bisa bohong, Beb. Gue yakin kalau Alan itu juga sayang dan cinta mati ame elo. Keliatan kok dari cara dia memperlakukan elo kek gimana, yekan?"

Bener juga apa yang di bilang oleh Alan. Kadang-kadang encer juga ot*knya. Berarti udah di upgrade ama dia.


๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


Entah kenapa, semakin hari aku merasa semakin tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri. Semakin aku berusaha untuk menjauh, semakin aku merasa nyaman berada di dekatnya. Aneh, bukan?


Hari-hari aku lalui tanpa Mas Arya rasanya sepi. Mood ku untuk syuting pun hancur, mana komunikasi kita terbatas lagi. Lebih banyak chat daripada VC. 


Tapi aku sadar akan posisiku saat ini hanyalah yang kedua. Jadi, ya, musti sabar menunggu. Toh itu memang haknya Mbak Novita. 


Krining ... Krining ... Krining!


Nama orang yang tengah aku rindukan terpampang di layar ponsel milikku. Gegas menggeser icon hijau lalu mengarahkannya kehadapan wajahku. Terlihatlah wajah yang selalu mengusik tidurku.


"Hai, Mas. Lagi dimana? Kok tumbenan bisa VC aku?" tanyaku semringah. Begitupun Mas Arya.


"Aku lagi di jalan-jalan cari oleh-oleh. Kamu mau di bawain apa?"


"Duh, gak usah repot-tepot lah, Mas. Aku cuma minta kamu cepet pulang kesini dengan sehat dan selamat. Itu aja." terdeng suara Mas Arya terkekeh di sebrang telfon.


"Bisa gombal juga kamu, ya? Nakal!"
"Kan, kamu yang ngajari. Siapa dulu gurunya, Arya Wicaksono Herlambang!" candaku. Tawa kami berdua pun meledak seketika. 


"Besok aku pulang, kamu jaga kesehatan, ya. Jangan lupa makan, gak usah diet-diet nanti sakit lagi!"


"Iya, iya, bawel!"


"Ya udah, aku mau lanjut lagi. Hati-hati disana, jangan nakal-nakal. I love you!" 


"Kamu juga hati-hati disana, Mas. Love you to." pembicaraan kami pun di ahiri.


"Terima kasih, Mas. Kamu sudah selalu ingat dan menyempatkan waktu meski hanya untuk mengetahui keadaanku," gumamku.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


"Allice ...!" terdengar suara seseorang memanggilku. 


Aku pun menoleh, ternyata suara itu adalah milik Leon. Ia berlari menghampiriku yang baru saja selesai syuting.


"Hai, eon! Apa kabar?" 


"Baik, kamu sendiri gimana? Aku tadi sempet kerumah kamu. Tapi kamunya gak ada, terus aku tanya sama manager kamu. Katanyanya kamu lagi syuting disini, jadi ya aku samperin aja langsung. Btw, gue ganggu, gak?"


"Owh, enggak, kok. Kebetulan, ini syutingnya juga dah selesai. Ini gue juga mau balik ke hotel."


"Wah, pas banget kalau gitu. Aku ajak kamu diner, mau enggak?" ujar Leon.


Kulihat jam yang melingkar pada pergelangan tangan ternyata baru pukul sembilan malam. 


"Mmm, boleh, deh. Mau diner kemana?" 


"Terserah elo, gue ngikut aja." 


"Oke, gimana kalau dinnernya di resto hotel tempat gue nginep aja. Sekalian kita ngobrol-ngobrol. Dah lama juga kan gak ketemu."


"Sip, gue setuju. Let's go."


Kami berdua berjalan beriringan menuju parkiran dan masuk ke mobil masing-masing dan pergi meninggalkan lokasi.


๐Ÿ’–bersambung, penulis๐Ÿ’– bintangsenja89๐Ÿ’–


Bagi yang ingin baca maraton bisa langsung cus ke aplikasi atas nama akun bintangsenja89, ya gaes.


Wah, Arya ada saingannya nih sekarang. Kira-kira, Leon itu siapa, ya? Apakah Leon akan menjadi penghalang hubungan Allice dan juga Arya? Ikuti terus kisahnya.