Tergoda
#SEPUPU_ISTRIKU


"Sssst, jangan keras-keras Dek, nanti istriku dengar!" sentakku ketika Mawar tak dapat menahan suaranya yang lumayan keras ketika kami sedang melakukan kegiatan orang dewasa.

Ia segera menutup mulutnya, dan kami pun kembali memadu kasih layaknya pasangan suami istri di kamar belakang yang memang di pakai sebagai gudang.

Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul dua dini hari. Setelah selesai, aku pun bergegas merapikan pakaian dan segera keluar dari kamar. Meski Mawar memintaku untuk tinggal sejenak bersamanya, tapi aku takut jika Dewi akan menyadari kepergianku.

Dewi yang selalu bangun malam untuk salat tahajud pasti akan mencariku, dan sebelumnya aku selalu masuk kamar untuk membangunkannya setelah melakukan aktifitas itu bersama Mawar.

Namun, malam ini Mawar meminta jatah dua kali sehingga aku tak dapat menolaknya. Alhasil, aku harus buru-buru sebelum Dewi benar-benar bangun.

"Kamu dari mana Mas?" tanya Dewi, istriku.

Aku tersentak bukan main ketika melihat Dewi sudah ada di belakangku ketika aku tengah keluar dari gudang belakang. Setengah mati aku menahan rasa gugup yang mungkin tergambar di wajahku.

"Abis dari gudang, cari berkas yang ilang, tapi kayaknya gak ada deh."

Secepatnya aku menutup pintu gudang tersebut, kemudian mengajak Dewi untuk masuk kembali ke dalam kamar.

Aku benar-benar takut jika hubungan terlarang yang aku lakukan selama tiga bulan ini dengan Mawar akan terbongkar.

Dewi sempat mengerutkan kening, tapi aku berusaha mencari akal agar ia tidak curiga dengan apa yang terjadi, aku segera menggendongnya hingga ia tak punya alasan lagi untuk bertahan dengan rasa curiga yang mungkin sedang mengganggu pikirannya.

Mawar adalah saudara sepupu Dewi yang masih belia, ia datang dari kampung dan bekerja di kota. Orang tua Mawar yang juga Tante Dewi, menitipkan Mawar untuk tinggal di rumah kami.

Selain untuk memangkas biaya sewa rumah, Mawar juga bisa di kontrol kesehariannya. Namun, parasnya yang cantik membuatku tergoda hingga melakukan hal itu setiap malam padanya.

Awalnya Mawar keberatan, hanya saja semakin lama justru Mawar yang selalu meminta jatah padaku setiap malam.

Sebagai seorang lelaki normal, jelas aku tidak menolak permintaan Mawar dan justru bangga dengan kemauannya. Ia seperti angin segar dalam hidupku. Karena bagaimanapun, Dewi sudah berumur dan tidak lagi selincah Mawar saat di ranjang.

Untuk saat ini, Dewi sama sekali belum curiga, tapi aku tengah memikirkan beberapa cara untuk menyewa sebuah rumah untuk Mawar agar kami tidak lagi harus sembunyi-sembunyi.

____

"Mas, bangun sudah pagi." ucap Dewi pagi itu.

Aku bergegas mandi dan membersihkan diri, tapi ada sesuatu yang sepertinya salah dan belum aku sadari. Entah apa, sampai akhirnya aku menyadari jika aku tidak menggunakan boxer karena terburu-buru.

Astaga! Jadi, boxerku ketinggalan di gudang? Aku bergegas menyelesaikan aktifitasku di kamar mandi. Kemudian bergegas ke gudang belakang untuk mencari keberadaan perkakas pribadi milikku.

"Cari apa Mas? Masih belum ketemu ya?" ucap Dewi.

Deg!

Lagi-lagi, Dewi membuatku senam jantung saat ia sudah ada di belakangku di dalam gudang belakang.

"Eh, ga apa-apa kok!"

Aku bergegas pergi ke dapur dan meminum segelas air putih untuk menghalau perasaan gugup yang semakin lama semakin sulit aku kendalikan.

Aku lihat wajah tenang Dewi yang sepertinya mengetahui sesuatu, apakah ia sudah menemukan boxer yang tertinggal itu?