Ratu alasan
#SEPUPU_ISTRIKU

#3

"Mbak, Minggu besok aku minta tolong Mas Aditya buat nemenin cari tempat kost ya Mbak," ucap Mawar malam itu.

Hatiku sedikit khawatir jika Mawar akan salah ucap atau Dewi tidak mengijinkan Mawar mencari tempat kost.

Dewi yang tengah asyik menonton sinetron di salah satu stasiun televisi itu kemudian menoleh dan meminta Mawar untuk duduk di sampingku.

"Memangnya kenapa? Kurang nyaman ya?" tanya Dewi.

Aku hanya diam, berpura-pura menonton siaran ulang acara bola di ponsel milikku. Meski sebenarnya aku memasang telinga untuk mendengar percakapan mereka berdua.

"Nyaman Mbak, nyaman banget malah. Cuma ya gitu, ongkos buat bolak balik sama aja buat ngekost kalau di hitung perbulan kan? Lagipula, capek di perjalanan Mbak."

Mawar benar-benar pintar memilih alasan yang sekiranya sulit di tolak oleh Dewi. Aku benar-benar tidak menyangka ia bisa berpikir sejauh itu.

"Gimana menurut kamu Mas?" tanya Dewi padaku.

Aku tak langsung menjawab, melainkan hanya diam seolah memang tidak menyimak pembicaraan mereka berdua.

"Mas!" sentak Dewi.

Saat itulah, aku baru menoleh dan bersandiwara seolah aku memang tidak tahu tentang apa yang tengah mereka bicarakan.

"Ini, si Mawar mau ngekost. Capek katanya di perjalanan bolak balik kerja," jelas Dewi yang sebenarnya sudah aku dengar tadi.

Sejenak, aku melirik ke arah Mawar yang duduk di sebelah Dewi. 

"Ya, Mawar kan udah dewasa. Yang terpenting, jaga diri baik-baik," tegasku.

Aku rasa, apa yang aku sampaikan sudah cukup membuat Dewi yakin bahwa Mawar memang ingin keluar dari rumah ini.

Akhirnya, Dewi memutuskan untuk memberi izin pada Mawar. Beberapa saat kemudian, Mawar beranjak ke dapur dan membuat secangkir teh.

Bagiku, itu adalah sebuah kode untuk aku segera menemani Dewi tidur agar kami bisa kembali memadu kasih berdua.

Aku langsung, ke kamar dan merebahkan diri. Setelah itu, seperti biasa Dewi mengikuti aku dan ia pun terlelap dalam pelukanku.

Dewi memang tipe wanita yang cepat terlelap. Apalagi, ia harus bangun malam untuk salat tahajjud. Jadi, ia memang tak bisa tidur di atas jam sepuluh malam.

Perlahan, aku turun dari ranjang membiarkan wanita tersebut larut dalam mimpinya. Sedangkan aku melakukan hal terlarang itu lagi bersama Mawar.

"Nanti, kalau aku udah gak tinggal disini gimana?" tanya Mawar usai kami memadu kasih berdua.

Aku yang tengah mengenakan kembali pakaianku, hanya bisa diam tanpa menjawab pertanyaan wanita di sebelahku.

"Mas?"

Suaranya sedikit meninggi. Hingga aku menoleh dan menutup mulutnya dengan telapak tanganku.

"Nanti pasti ada waktu, aku akan datang setelah pulang kerja," jawabku berusaha menenangkannya.

Beberapa menit kemudian, setelah Mawar selesai mengenakan baju tidurnya lagi suara Dewi memanggilku dari arah depan.

"Mas ... Mas!" 

Aku terkejut, apalagi ketika lampu dapur tiba-tiba menyala yang berarti Dewi tengah berjalan menuju ke gudang belakang.

Aku dan Mawar saling tatap, hingga beberapa saat kemudian Mawar menggunakan ponselnya untuk menghubungi ponsel Dewi. Tujuannya agar Dewi kembali kedalam kamarnya dan aku bisa terbebas dari situasi ini.

Benar saja, terdengar langkah Dewi menjauh. Aku segera keluar dari gudang, disusul Mawar. Namun, kami berpisah karena aku berjalan ke ruang depan. Sementara Mawar keluar lewat pintu belakang.

"Halo?" tanya Dewi dari balik telepon.

"Mbak, bukain pintu. Aku cuma beli pulsa malah pintunya di kunci!" 

Aku mendengar suara Mawar dari balik telepon karena memang Dewi menyalakan loudspeaker di ponselnya.

Lagi-lagi, Mawar bisa membuat alasan hingga kami berdua bisa lepas dari situasi buruk ini.

"Maaf tadi Mas kaget pintu gak di kunci, makannya Mas kunci pintu depan sekalian cek pintu belakang," ujarku.

Dewi pun bergegas membuka pintu depan karena tak ingin Mawar menunggu lebih lama diluar sana.

"Lagian kamu beli pulsa jam segini, emang masih ada konter yang buka?" tanya Dewi.

Tanpa perasaan bersalah, Mawar berjalan melewati Dewi dengan raut kesal seolah ia memang benar-benar tengah mencari pulsa di tengah malam seperti ini.

Benar-benar licik gadis ini!