6
Dibawa ke hotel


"Hotel? Kenapa ke sini?" Selidikku, bertanya pada Alisa, setelah melihat mobil yang kami tumpangi ternyata memasuki sebuah area halaman hotel bintang lima.


"Nanti kamu juga tahu," jawabnya tanpa menoleh ke arahku dan sibuk dengan ponselnya.



Aku terus melihat ke arah samping, mengamati sekitar. Entah kenapa perasaanku tidak nyaman. Kalau sudah begini, feelingku mengatakan akan ada sesuatu yang buruk bakal terjadi.



"Pakai!" Alisa memberikan sebuah kacamata hitam, dan memintaku untuk mengenakannya. Ia juga membenarkan cardiganku sebelum turun dari mobil.



"Diam dan ikuti aku. Jangan bicara sebelum aku memintamu bicara," sambungnya mengingatkan.



Ingin bertanya lebih, tapi ia sudah mengisyaratkan untuk diam. Aku manut dan mengikuti setiap langkahnya berjalan. Aku tahu kalau hotel sekarang banyak fungsinya, tidak hanya sekedar untuk tempat tidur. Bisa saja dia mengajakku ke sebuah restoran atau aula karena ada acara atau pertemuan, Apalagi ini hotel bintang lima. Namun hatiku membantah, tidak yakin tujuannya itu. Rasanya tidak masuk akal. Pasti ada yang direncanakannya.



Alisa terus berjalan di sepanjang lorong kamar hotel yang sepi. Ini yang kutakutkan, aku sudah berpikir macam-macam. Hal buruk sudah bersemayam di benak, kalau Alisa berniat tidak baik padaku.



"Kak, jelaskan dulu kita mau ngapain ke hotel ini? Apa Kak Alisa ingin menjualku?" tanyaku blak-blakan setelah berhasil menahan langkahnya. Hal itulah yang sedang kupikirkan tentang tujuannya mengajakku kemari. Mungkin ini sebagai balasan karena aku yang tidak bisa mengembalikan uangnya akibat batalnya perjanjian kami.


Keningnya mengernyit.


"Menjualmu?" Ia tersenyum kecut.



"Apa aku kekurangan uang hingga bertindak seperti mucikari? Apa serendah itu aku di matamu?" Mata Alisa melotot menatapku tajam. Gurat kemarahan tampak di wajahnya. Sepertinya ia tersinggung dengan pertanyaanku barusan.



Aku menggelengkan kepala. "Maaf," lirihku merasa bersalah.



"Hentikan pikiran kotor tentangku, di kepalamu ini. Diam dan ikuti saja. Aku tidak sehina itu, Lun," ucapnya berbalik dan melanjutkan langkahnya lagi. Aku pasrah dan mencoba mempercayai ucapannya.



Alisa berhenti di sebuah kamar hotel. Ia mengetuk pintu dan aku berdiri di belakangnya penuh kewaspadaan. Bila dirasa mengancam, aku sudah ancang-ancang akan lari secepat mungkin.



Melihat seorang wanita muda yang membukakan pintu, otot kakiku mengendur tidak setegang sebelumnya.


Ia mengangguk hormat pada Alisa dan membiarkan kami masuk ke dalamnya.


Lewat sorot matanya Alisa memintaku masuk. 


Di dalam ada beberapa orang dan aku tidak mengenalnya, dan kamar hotel yang kami masuki ini sangat besar. Di dalamnya ada beberapa ruangan.


"Yu, dandani dia secantik mungkin," titahnya pada wanita yang membukakan pintu tadi.



"Mari Mbak," ajaknya padaku. Aku terheran masih tidak mengerti, tapi tetap mengikuti langkahnya yang membawaku ke sebuah kamar.



"Aku mau diapain?" tanyaku setelah melihat ada dua orang lainnya di dalam kamar tersebut. Salah satunya laki-laki yang bergaya sedikit kemayu. Mereka hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku dan berjalan mendekat. Rasa takutku muncul kembali.



***


"Nah, selesai. Kamu cantik sekali," ucap lelaki yang ternyata mendandaniku sedemikian rupa bak seorang pengantin wanita. Aku juga mengenakan kebaya putih yang sangat cantik. 



Apa aku akan menikah? Tapi sama siapa? Pak Arik? Tidak mungkin. Bukankah kemarin dia menolakku?


Aku tidak tahu apa rencana Alisa karena kemarin dia tidak datang sama sekali ke rumah itu lagi setelah pulang bersama suaminya. Aku merasa diasingkan tanpa tahu seperti apa nasibku setelah penolakan Pak Arik yang ngotot tidak akan menikahiku tanpa wali nikah. Ternyata lelaki tersebut paham agama juga, tapi kenapa mengizinkan istrinya berbuat zalim padaku?


Ketiga orang yang mendandaniku ini juga diam seribu kata setiap kutanya untuk apa aku didandani seperti pengantin. Mereka tampak kaget mengetahui ketidaktahuanku kenapa berada di sini dan didandani mereka. Lelaki kemayu yang kutahu bernama Soni itu menggeleng tidak bisa memberitahukan, karena itu adalah perintah Alisa.


"Tanyakan saja pada Bu Alisa, tugas kami hanya mendadanimu agar tampil cantik malam ini," jawabnya menatapku lewat pantulan cermin.


 Lagi-lagi Alisa.



Setelah selesai didandani, aku ditinggal sendiri di dalam kamar. Beberapa menit berlalu dan aku masih dalam kebingungan. Mungkin karena sudah putus asa, dan mencoba mengikhlaskan semuanya, aku sampai berharap kalau yang menikahiku memang Pak Arik. Bukan karena aku menyukainya. Setidaknya dia lebih baik daripada orang asing lainnya yang aku tidak tahu seperti apa rupanya. 


Sampai akhirnya terdengar suara pintu kamar ini dibuka. 



"Varel!" pekikku saat seseorang yang kukenal baik masuk dengan wajah luka lebam.



"Mbak Luna?" serunya seakan tidak percaya.


Aku merangsek mendatanginya dengan hati yang menyayat perih. Kusentuh pelan luka di wajahnya. Ia sedikit meringis.


"Maaf, aku membawa adikmu dengan tampilan begini. Bukan salahku kalau mereka memukulinya. Dia melawan saat diajak kemari," ucap Alisa yang muncul di belakang Varel dengan santainya. 



"Mbak, ini apa? Mbak Luna mau nikah? Sama siapa? Dan siapa dia?" Sorot matanya mengarah ke Alisa." Varel tampak keheranan melihat tampilanku dengan kebaya pengantin, serta bingung dengan sosok Alisa di sebelahnya.


"Kak, aku nikah sama siapa?" tanyaku hati-hati pada Alisa, dan mengabaikan pertanyaan Varel. 



"Kamu lupa? Arik--suamiku. Siapa lagi. Untuk apa aku memaksa membawa adikmu ke sini kalau bukan untuk itu."



"Siapa Arik? Dan suamiku itu apa maksudnya?" Varel masih merongrongku dengan pertanyaannya. Dia meminta penjelasan. 



"Jelaskan pada adikmu, biar dia mengerti dan dapat membantu kita. Kutunggu di depan. Semua sudah dipersiapkan, sepuluh menit lagi, keluarlah!" Alisa beranjak meninggalkanku berduaan saja dengan Varel.


Aku menghela napas dalam sebelum menceritakan semuanya pada Varel setelah kepergian Alisa. Tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi darinya. Varel sudah berada di hadapanku dan sedang menuntut penjelasan.



"Apa? mbak Luna serius?" tanyanya setelah mendengar kisahku.



"Nggak. Varel tidak mau. Kenapa mengambil keputusan sendiri dan mengorbankan masa depan Mbak? Harusnya Mbak cerita biar kita selesaikan bersama. Kalau perlu Varel kerja buat bantu Mbak," kilahnya menolak dengan wajah memerah.



"Apa yang bisa kamu lakukan Rel? Kerja apa untuk golongan anak SMA sepertimu?Apa mungkin dalam semalam dapat uang segitu banyaknya untuk operasi Ibu?" cecarku menuntut jawab.



Varel membisu. Aku kembali meminta kesediaannya untuk menjadi wali nikah. Kupastikan tidak akan terjadi apa-apa ke depannya, karena Kak Alisa--calon kakak maduku sendiri yang menginginkanku menikah dengan suaminya. Bukan seperti PeLaKor yang menjadi kekhawatirannya saat ini. Aku mencoba meyakinkannya lagi. Aku juga tidak sampai hati menceritakan tentang adanya perjanjian diantara aku dan Alisa. Cukup ia tahu kalau aku bakal bahagia dan hidup nyaman menikah dengan orang kaya. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu.


Varel tetap dengan pendiriannya tidak setuju dengan rencana pernikahanku. Namun setelah melewati perdebatan yang pelik, dan bujuk rayuku padanya, akhirnya Varel menyerah, ia bersedia menjadi wali nikah.



***


"Sah," koor serempak suara saksi yang menyatakan 'sah' ijab kabul yang barusan diucapkan Pak Arik. Akhirnya aku memang menikah dengannya, lelaki yang kujuluki Om songong. Sedang Varel yang berada di hadapanku, menatapku dengan rasa iba. Matanya sampai memerah, tapi secepat kilat ia memalingkan muka saat kubalas sendu tatapannya tersebut.



Semua orang satu per satu meninggalkan tempat ini. Tersisa hanya kami berempat, yaitu aku, Pak Arik, Alisa, dan Varel. 



"Rel, Varel kan namamu?" Varel diam saja saat ditanya Alisa. Ia duduk menunduk di sebelahku.


"Iya, Kak. Namanya Varel," jawabku.



Alisa tersenyum. "Biar kuantar pulang. Biarkan kakakmu menikmati malam pengantinnya di sini. Kita tidak boleh mengganggu mereka," tukasnya lagi tersenyum menyeringai membuat seluruh badanku menegang. 



Malam pengantin? Bersama Pak Arik? Secepat inikah? Aku menatap lelaki dingin, yang memilih diam tanpa bicara sepatah kata pun setelah mengucapkan ijab Kabulnya beberapa menit yang lalu.



Ya, Tuhan. Aku belum siap. Bagaimana ini?